Minggu, 04 Februari 2024 0 comments

the last person I was thinking about before I go to bed.

Ini aku tulis untukmu yang namanya tak akan lagi aku sebut. Perjalanan kita akhirnya selesai setelah semuanya berjalan di tempat. Aku dan kamu yang tak berujung menjadi kita. Aku dan kamu yang akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hidup masing-masing.

Pertemuan kita seolah sudah diatur semesta. Semua terancang mudah seakan memang sudah jalannya. Tapi ternyata badai menghancurkan semuanya. Rasa yang tumbuh perlahan seolah hilang hanya semalam. Teriakan masih membekas di tenggorokan, sembab di mata masih membekas, dan dirimu sudah pergi dari dekapan.

Aku dan kamu yang terlalu sibuk dengan dunia kita masing-masing tanpa ada yang sadar bibit curiga mulai tumbuh. Ia menjadi gulma di pohon yang kita tanam sejak lama. Semua resah membaur tanpa kejelasan yang padahal kita sudah tahu bagaimana cara untuk menjawabnya.

Aku ikut andil memupuk luka untukku sendiri sedangkan dirimu punya tanggung jawab merawat lukaku. Jarak yang tadinya tak jadi masalah kini menjelma menjadi alasan mengapa tak ada temu yang mungkin penghancur curiga.

Setelah semua berakhir, sampai sekarang masih ada kamu di kepalaku. Bukan karena kamu menjadi orang terakhir yang aku chat kalau aku sudah sampai tapi akhir-akhir ini kepalaku kembali mengingat salah satu rutinitas yang biasa aku lakukan sebelum tidur, memikirkanmu.

Ratusan kali aku mempertanyakan pada diriku sendiri. Apa kurangku sampai aku hanya menjadi second choice? Apa aku yang selalu available? Aku yang selalu needy? Atau aku yang terlalu berekspektasi terlalu tinggi? Dimana kurangku sampai aku terbuai dengan janji palsumu? 

Kalau melepaskan bagian dari mencintai, mengapa aku harus bertemu dengan kamu di awal? Bersama membuat cerita, memaksakan dua kepala yang sama kerasnya, dan pada akhirnya semua terhalang oleh alasan yang sebenarnya kita sudah tahu sejak awal. Dari semua itu, kita juga masih bisa saling menyalahkan. Begitu bodoh ya, kita berdua.

Namun kini episode mengagumimu sudah selesai. Semoga ini bukan hanya sepenggal prolog yang akan diikuti kisah penuh teka-teki dan akan berakhir lagi dengan haru. Semoga tatap mataku yang penuh api bisa kembali lagi walau dengan yang lain. Dan semoga semua kebahagiaan yang dulu kita lalui bersama bisa aku rasakan kembali dengan versiku yang lebih dari kemarin.

Mungkin kamu memang hanya hadir bukan takdir dan kini yang kubutuhkan hanya jeda bukan luka. Tuan, terimakasih beberapa waktu ini telah mengisi ruang hati yang sempat kosong ini. Paling tidak karenamu aku sempat merasa dicintai walau semu dan meskipun semesta akan mempertemukan kita lagi, aku akan menghindar, semoga kita tak akan bertemu di kebetulan manapun.

Minggu, 28 Januari 2024 0 comments

another timeline, another life.

Setelah siang hari aku belagak kuat, malamku dihiasi hujan air mata tanpa ada tanda-tanda mendung sebelumnya. Pojok kamar lembab dan bantal tidurku menjadi saksi bisu. Semua yang tak bisa kukatakan meluap begitu saja. Hingga kadang aku lelah dan tak sadar pagi kembali datang dan aku versi yang lain muncul.

Kukira itu semua karena beban pekerjaan yang tak ada hentinya di pabrik tahu bulat tapi nyatanya ketika pabrik sepi, aku tetap seperti itu. Lelapku enggan datang. Hanya ada aku dan lelehan kesedihan yang menemani. Aku masih berusaha mencerna semua yang terjadi.

Mungkin aku terlalu berjarak dengan yang Kuasa. Obat yang lama tak kusentuh nyatanya malah kembali rutin ku jamah. Seminggu tak berdaya di dalam kamar membuatku semakin merasa tak punya siapa-siapa. Notifikasi handphone kuabaikan. Paling hanya ibu mess yang sesekali menyuruhku untuk makan atau satu dua orang teman yang mengirimiku makanan.

Ya, hanya karena tak ada notifikasimu aku merasa tak punya siapa-siapa.

Kukira aku sudah mati rasa sejak ceritaku yang lalu. Nyatanya sosokmu selalu menjadi yang terakhir aku pikirkan sebelum lelapku. Bau yang awalnya tak aku sukai malah menghantui. Aroma yang tidak bisa aku jelaskan bagaimana tapi tiap kali ada bau ini aku selalu mengingat sosokmu. Semua yang aku lakukan seolah mengarahkanku kepadamu.

Kisahku yang lalu memang sudah selesai tapi aku tak bisa berlabuh begitu saja walau kudengar ceritamu juga sama. Aku yang sekarang, penuh luka yang belum sembuh. Aku yang sekarang, tak lagi sama dengan yang kemarin, yang mudah terbuai dengan kata-kata. Aku yang sekarang, tak sepercaya diri aku yang dulu. Dan aku yang sekarang tak yakin kalau ada yang bisa "menyukai" aku.

Aku tak pernah sepercaya diri ucapanku. Sikapku memang terlihat mudah bergaul tapi untuk lebih dalam mengenal atau bercerita dengan seseorang, aku jauh dari yang kamu mau. Kamu juga tahu kalau aku hanya bisa menjadi pendengar dan selalu gagap ketika waktunya aku harus bercerita. Aku mudah marah, walau tampak permukaan aku terlihat tenang, aku yang sebenarnya mudah meledak dan memiliki sumbu terlalu pendek. Kamu juga tahu kalau aku akan cranky ketika aku lapar apalagi setelah sakitku yang kemarin. Kamu juga tahu kalau aku sering begadang, vertigoku akan kambuh.

Itu hanya segelintir aku yang selalu terlihat di matamu, masih banyak tentang aku yang belum kamu tahu. Tentang aku yang yang mungkin tak akan pernah jadi inginmu. Aku sadar kita terlalu jauh. Aku yang tolol hanya akan mengulang cerita lamaku jika bersamamu. Jadi tak percuma untukku jika tak yakin.

Mungkin yang ditulis yang Kuasa di timeline ini memang hanya sampai sejauh ini. Aku selalu merasa tak sempurna dan aku tak pernah percaya diri ataupun yakin memang bukan yang kamu cari dan aku juga bukan orang yang kamu inginkan. Semoga besok di kehidupan yang lainnya aku bisa menjadi milikmu. Nanti akan ada hari dimana aku sudah terbiasa tanpamu dan ketika mendengar namamu aku sudah menjadi biasa saja.

Kamis, 04 Januari 2024 0 comments

orang hanya percaya dengan apa yang mereka lihat

Setelah semua yang terjadi, aku percaya kalau semua orang berwarna abu-abu. Tak ada dari mereka yang berwarna putih atau hitam setelah mereka membaur menjadi satu di sini. Mereka yang awalnya berwarna putih akan menjajal dunia hitam. Walau kadarnya berbeda, toh mereka akan menjadi keabuan. Sedang mereka yang berwarna hitam, tak mungkin selamanya hitam. Ada beberapa sisi yang masih berwarna putih, kembali lagi dengan kadar yang berbeda juga.

Setiap sikap baik yang mereka lakukan berbumbu curiga. Tak tahu apa motifnya, pikiranku selalu menjadi negatif. Aku tak percaya ada ketulusan hati disetiap sikap yang mereka tunjukan. Pasti ada secuil maksud yang mereka inginkan.

Aku sebenarnya tak ingin sikap ini mematikan langkahku lagi. Lama-kelamaan ini bisa menjadi racun untuk aku sendiri. Aku takut aku tertular sikap mereka yang selalu ada maksud ketika dekat dengan orang lain. Tapi bagaimana aku bisa membangun percayaku kalau tiap kali semua sudah siap harus dihancurkan dengan sikap mereka?

Hitam, putih, atau abu-abu?

Banyak manusia putih yang entah hatinya juga atau tidak. Terkadang mulut mereka lebih nyinyir dari admin lambe turah. Hal-hal yang menurutku tabu dan aib orang lain malah mereka umbar dan menjadi bahan obrolan, malah kadang dibumbui. Ibarat beras yang ada bisa dijadikan beranekaragam hidangan oleh mereka. Aku tak masalah dengan komentar orang tentangku tapi bukannya lebih baik mulut mereka tidak mengomentari pakaianku?

Orang pergi ke pantai memakai baju renang sedangkan orang pergi ke gunung memakai jaket tebal. Semua pakaian akan benar ketika mereka berada di tempat yang tepat, hanya orang bodoh yang akan menggunakan sebaliknya bukan? Aku pun demikian dan menurutku pakaian yang aku pakai sudah yang paling tepat dan sopan. Itu saja masih dinyinyiri apalagi aku memakai pakaian minim bahan, apa aku tidak langsung di rajam di tempat?

Manusia hitam tak sepenuhnya hitam. Di sini justru orang yang dianggap hitam yang selalu sedia menolong dan merangkulku tiap aku ada masalah. Telinganya selalu mendengar gumamanku entah itu penting maupun tak penting. Badannya siap menghadang orang-orang yang mau melukai. Walau hidupnya lebih kacau dari yang aku tebak dan mulutnya sering lebih jahat dariku, aku percaya hatinya tak seburuk yang orang kira. Banyak hal positif yang justru bisa di ambil, apalagi pengalamannya yang tak hanya melewati asam garam saja.

Asumsi orang terhadapku mungkin sudah buruk sebabnya karena aku sering sok misterius, sering menghilang, dan circleku yang dekat dengan orang-orang malam. Aku pun tidak terlalu ambil pusing dengan circleku, selagi mereka baik padaku dan sefrekuensi kenapa tidak, mau mereka mantan apapun, itu sudah bukan urusanku. Aku pun sadar diri kalau aku bukan sesuci itu. Banyak hal tak baik yang masih jadi kebiasaanku. Asumsi orang-orang terhadap circleku belum sempat menggetarkan langkah tapi aku merasa itu kadang mengganggu. Walau kadang bisa menjadi bahan obrolan atau sekedar bahan untuk membuat orang semakin geram pada kita.

Apa yang tidak bisa dilihat belum tentu tidak ada, bisa saja ia pandai menyembunyikannya atau memang tidak ada.

Mudah sekali untuk menggiring asumsi orang-orang. Mereka biasa menelan mentah apa yang mereka dengar dan apa yang mereka lihat. Mereka seperti binatang yang makan makanan yang kita suguhkan tanpa mengolahnya lagi. Kita tinggal memberi mereka umpan dan mereka akan melahapnya begitu saja tanpa merasa kita tipu. Umur mereka tak membuat mereka lebih pandai, aku yang masih bocah malah bisa menipu mereka dengan mudah.

Mereka terlalu lama dimanja. Apa yang disuguhkan akan dilahap tanpa berpikir kalau sebenarnya mereka tak butuh. Di sini, segala penjuru seakan malaikat yang siap mencatat segala dosa yang orang lain lakukan. Padalah apa yang tidak bisa dilihat belum tentu tidak ada, bisa saja ia pandai menyembunyikannya atau memang tidak ada. Semua aib akan terbongkar di waktu dan orang yang tepat. Jadi tak perlu mencari informasi, duduk diamlah dan berita ataupun cerita akan menghampiri kalau kamu memang ditakdirkan untuk perlu tahu. 

 
;