Kamis, 04 Januari 2024 0 comments

orang hanya percaya dengan apa yang mereka lihat

Setelah semua yang terjadi, aku percaya kalau semua orang berwarna abu-abu. Tak ada dari mereka yang berwarna putih atau hitam setelah mereka membaur menjadi satu di sini. Mereka yang awalnya berwarna putih akan menjajal dunia hitam. Walau kadarnya berbeda, toh mereka akan menjadi keabuan. Sedang mereka yang berwarna hitam, tak mungkin selamanya hitam. Ada beberapa sisi yang masih berwarna putih, kembali lagi dengan kadar yang berbeda juga.

Setiap sikap baik yang mereka lakukan berbumbu curiga. Tak tahu apa motifnya, pikiranku selalu menjadi negatif. Aku tak percaya ada ketulusan hati disetiap sikap yang mereka tunjukan. Pasti ada secuil maksud yang mereka inginkan.

Aku sebenarnya tak ingin sikap ini mematikan langkahku lagi. Lama-kelamaan ini bisa menjadi racun untuk aku sendiri. Aku takut aku tertular sikap mereka yang selalu ada maksud ketika dekat dengan orang lain. Tapi bagaimana aku bisa membangun percayaku kalau tiap kali semua sudah siap harus dihancurkan dengan sikap mereka?

Hitam, putih, atau abu-abu?

Banyak manusia putih yang entah hatinya juga atau tidak. Terkadang mulut mereka lebih nyinyir dari admin lambe turah. Hal-hal yang menurutku tabu dan aib orang lain malah mereka umbar dan menjadi bahan obrolan, malah kadang dibumbui. Ibarat beras yang ada bisa dijadikan beranekaragam hidangan oleh mereka. Aku tak masalah dengan komentar orang tentangku tapi bukannya lebih baik mulut mereka tidak mengomentari pakaianku?

Orang pergi ke pantai memakai baju renang sedangkan orang pergi ke gunung memakai jaket tebal. Semua pakaian akan benar ketika mereka berada di tempat yang tepat, hanya orang bodoh yang akan menggunakan sebaliknya bukan? Aku pun demikian dan menurutku pakaian yang aku pakai sudah yang paling tepat dan sopan. Itu saja masih dinyinyiri apalagi aku memakai pakaian minim bahan, apa aku tidak langsung di rajam di tempat?

Manusia hitam tak sepenuhnya hitam. Di sini justru orang yang dianggap hitam yang selalu sedia menolong dan merangkulku tiap aku ada masalah. Telinganya selalu mendengar gumamanku entah itu penting maupun tak penting. Badannya siap menghadang orang-orang yang mau melukai. Walau hidupnya lebih kacau dari yang aku tebak dan mulutnya sering lebih jahat dariku, aku percaya hatinya tak seburuk yang orang kira. Banyak hal positif yang justru bisa di ambil, apalagi pengalamannya yang tak hanya melewati asam garam saja.

Asumsi orang terhadapku mungkin sudah buruk sebabnya karena aku sering sok misterius, sering menghilang, dan circleku yang dekat dengan orang-orang malam. Aku pun tidak terlalu ambil pusing dengan circleku, selagi mereka baik padaku dan sefrekuensi kenapa tidak, mau mereka mantan apapun, itu sudah bukan urusanku. Aku pun sadar diri kalau aku bukan sesuci itu. Banyak hal tak baik yang masih jadi kebiasaanku. Asumsi orang-orang terhadap circleku belum sempat menggetarkan langkah tapi aku merasa itu kadang mengganggu. Walau kadang bisa menjadi bahan obrolan atau sekedar bahan untuk membuat orang semakin geram pada kita.

Apa yang tidak bisa dilihat belum tentu tidak ada, bisa saja ia pandai menyembunyikannya atau memang tidak ada.

Mudah sekali untuk menggiring asumsi orang-orang. Mereka biasa menelan mentah apa yang mereka dengar dan apa yang mereka lihat. Mereka seperti binatang yang makan makanan yang kita suguhkan tanpa mengolahnya lagi. Kita tinggal memberi mereka umpan dan mereka akan melahapnya begitu saja tanpa merasa kita tipu. Umur mereka tak membuat mereka lebih pandai, aku yang masih bocah malah bisa menipu mereka dengan mudah.

Mereka terlalu lama dimanja. Apa yang disuguhkan akan dilahap tanpa berpikir kalau sebenarnya mereka tak butuh. Di sini, segala penjuru seakan malaikat yang siap mencatat segala dosa yang orang lain lakukan. Padalah apa yang tidak bisa dilihat belum tentu tidak ada, bisa saja ia pandai menyembunyikannya atau memang tidak ada. Semua aib akan terbongkar di waktu dan orang yang tepat. Jadi tak perlu mencari informasi, duduk diamlah dan berita ataupun cerita akan menghampiri kalau kamu memang ditakdirkan untuk perlu tahu. 

Minggu, 31 Desember 2023 0 comments

perayaan patah hati.

Aroma solar, rokok, pop mie, dan air laut bercampur. Gemuruh suara mesin dan teriakan pedagang menjajakan dagangannya diselingi dengan suara Nadin yang tak lelah menemani. Barisan pulau, lampu kota yang berkedip malu, dan penumpang yang lalu lalang mencari posisi terbaik meramaikan pemandangan. Semua berdendang indah selaras dengan gerak tenang ombak Selat Sunda. Gerimis kembali menyapa. Alam seolah menyemarakkan perayaan patah hatiku.

Aku turut senang, kamu menemukan belahan jiwamu. Orang yang selama ini kamu perjuangkan dan tunggu. Tak ada yang salah dengan ini semua. Hanya ada aku dan ekspektasiku yang menenggelamkanku dalam kepedihan yang berlarut. Paling tidak dengan kehadiranmu yang sebentar, aku menjadi tahu kalau aku tidak sepenuhnya mati rasa. Masih ada sisa-sisa perasaan yang sementara ini kembali kosong. Sembari aku membersihkan serpihan lukaku, ijinkan aku merayakan kesedihanku agar nanti ketika seseorang datang, aku tak melukainya dengan puing peninggalanmu. Sekali lagi selamat ya. Semoga ia memang yang kamu cari. Doa terbaik aku panjatkan untukmu.

Terimakasih sudah banyak merayakanku, menemani malam-malam gelap yang sampai sekarang masih temaram. Terimakasih untuk kasih tulus tanpa pamrih yang mungkin salah aku tangkap. 
Minggu, 10 Desember 2023 0 comments

perjalanan mencari rumah.

Badai yang katanya datang menghantam tak kunjung mereda. Semua sibuk mengitariku. Tak hanya satu atau dua, masalah datang beramai-ramai. Semua berotasi seolah aku sumber dari segala sumber. Air mata sudah tak mampu melegakan pikiran. Aku kembali lagi menguji lambung lewat air perjamuan. Apa semua akan reda setelahnya? Paling tidak aku bisa melupakan semuanya sesaat.

Entah ini sarapan atau makan malam, semua jadi tak ada bedanya buatku. Sayup suaramu jauh di sambungan telepon tapi aku terus menguatkan iman kalau dirimu bukan milikku dan aku bukan siapa-siapa bagimu. Semua yang ada nyatanya fana. Aku hanya seseorang yang mampir di teras rumahmu dan kamu menyapaku dengan ramah. Aku yang tak pernah dianggap menjadi merasa besar kepala dan menganggapmu hanya seperti itu kepadaku. Setelah pintu terbuka, aku melihat deretan fotomu bersama wanita lain dan aku langsung tersadar. Ternyata kamu bukan rumah yang aku cari.

Aku sudah tak terlalu bersedih bukan karena ini bukan kali pertama, bukan karena wanitamu yang nyatanya juga meninggalkanmu, tapi memang sedari awal aku tahu posisiku dimana. Lewat malam-malam penuh air mata, aku semakin tak tahu malu. Sayup suaramu masih terdengar dan aku sudah tak ada rasa. Semua yang dulu pernah ada, melebur entah kemana. Mungkin dahulu aku hanya kagum, tak pernah lebih, dan definisi rumahku tak ada di kamu.

Aku yang tak tahu arah hanya terus beranjak. Walau tak tahu bagaimana bentuk dan alamatnya, setidaknya aku bergerak dan berusaha mencari agar kakiku tahu kalau perjalanan ini belum selesai. Setidaknya aku menjadi tahu bagaimana rasanya mendapatkan pengharapan walaupun semu.

Perjalananku mencari rumah masih berlanjut. 

 
;