Selasa, 24 Oktober 2023 0 comments

semoga yang tak kunjung sampai.

Aku mencoba sekuat tenaga menghentikan segala imajinasi liar. Detak jantung semakin kencang tiap kali notifikasi berbunyi belum lagi getaran ponsel yang semakin membuatku gemetar. Tanda-tanda ini muncul kembali. Semua yang sudah pernah kukubur kembali bangkit dari liangnya. Ambang warasku samar. Jam tidurku semakin kacau. Hari yang biasanya kulalui biasa saja menjadi mencekam. Suasana damai di kantor namun tidak dengan isi kepala yang meracau. Aku takut halusinasi ini berubah menjadi ekspektasi yang tak direstui semesta dan membuatku semakin menggila.

Di sela gelisah, aku tetap mengalihkannya untuk bekerja. Dalam kebisuan, aku berusaha menata hati yang tak tahu apa maunya. Mungkin sebentar lagi ini semua akan selesai. Mungkin besok aku sudah kembali atau mulai terbiasa. Tiap hembusan nafas selalu terasa salah. Tiap gerak selalu ada mata yang mengintai.

Aku ingin segera lepas dari perasaan ini. Rasa yang tidak bisa aku bilang sedih atau marah. Rasa yang  kadang bisa mendorong emosiku untuk meledak namun kadang menumpahkan air mata yang terlalu banyak. Di sisi lain aku tak tahu apa yang sedang aku hadapi. Diriku sendiri atau sesuatu yang tak terlihat mata.

Kadang jika aku sedang waras, aku sibuk menjejalkan pikiran positif kalau semua ini akan berakhir, semua yang baik akan berakhir baik pula, semua yang sudah kamu lakukan akan segera menemukan ujung cerita. Nyatanya, lukaku sudah sempurna. Perasaanku lebih sering rapuh. Semua yang aku anggap biasa saja tak kuat menahan lawannya.

Tidur yang aku anggap obat kini menjadi barang langka. Mataku yang berat tak membuat aku hilang. Kepalaku terus berputar mencari jalan yang gelap. Esok kembali dan aku masih dengan pikiranku yang semakin kacau.
0 comments

dingin, diam, menghilang, dan asing

Aku masih diam hingga aku menuliskan ini semua. Aku tahu, semua dipicu oleh masalah sepele yang kekanakan. Aku tak ingin memakai alasan, pembenaran dan tapi yang bisa menyudutkan kamu. Jadi aku memilih untuk diam

1. Sepanjang Purwakarta — Jakarta
Sore ini aku kembali ke Ibukota. Ibu yang katanya lebih jahat dari ibu tiri. Buatku yang sekarang, Ibukota adalah pilihan cepat untuk sebentar melepas penat diantara tumpukan tagihan yang tak ada berhenti mengejarku sampai proyek ini selesai.

Aku asal naik gerbong hari ini. Tak banyak memilih tempat duduk karena aku sengaja datang mepet dengan jam keberangkatan kereta. Aku sedang tak tahu dengan perasaanku sendiri. Akhir-akhir ini aku lebih sensitif dengan segalanya. Dia yang memang selalu ternganggu mood-nya ikut mengusik pikiranku. Padahal biasanya aku biasa saja dengannya. Entah, aku rasanya ingin terus membalas segala ucapan yang menurut dirinya benar. Mungkin aku sedikit bosan selalu memilih mengalah dengannya.

Aku merasa dia marah denganku karena kemarin aku cuti di waktu yang salah. Tapi sayangnya, aku bodo amat dengan kekesalannya. Ya, aku tidak merasa bersalah padanya karena cuti adalah hak-ku dan pekerjaan yang datang tiba-tiba juga bukan kesalahku, kan? Sekarang dia tak pernah mengambil cutinya. Padahal dulu, ia selalu pulang tiap bulan dan aku tak pernah mempermasalahkannya. Aku juga berusaha mem-back up pekerjaannya kalau ia minta tolong padaku. Kalau tidak, ya, aku tak menawarkan bantuan apapun.

Bulan ini aku berniat ambil cuti lagi. Baru aku minta ijin padanya, ia sudah mengoceh tak jelas kemana. Kalau kamu tak mau cuti, apa salahku yang mau mengambil cuti? Semua kan sudah ada jobdesknya masing-masing. Kalau kamu merasa overload, silakan mengadu ke pihak yang berwenang. Aku tak punya kapasitas untuk itu.

Dia tadinya mau mengajakku ke salon tapi aku menolaknya dan lebih memilih ke Jakarta. Aku malas berekspektasi lebih kepadanya karena dia paling jago berwacana. Entah perasaannya bagaimana tapi aku bertahap belajar mulai tak peduli.

Beberapa minggu lalu, aku sudah direpotkan oleh moodnya yang seperti roller coaster. Dia diam seribu bahasa setiap ada yang berbicara. Kalaupun terpaksa bicara, ia bicara seperlunya dan volumenya luar biasa kecil. Tidah hanya satu atau dua orang yang mempertanyakan kepadaku seolah aku ibunya. Aku cuma bisa tersenyum dan menggelengkan kepala atau mengangkat kedua bahuku. Mau jawab apalagi?

Sejak aku kenal dia sepuluh tahun lalu, dia tidak berubah. Kukira usia dan waktu akan menyembuhkan dahsyatnya perubahan moodnya. Dia sering menyangkal kalau moodnya baik-baik saja. “Aku nggak papa. Cuma pengen diam aja.” Cuma? Bagaimana bisa bilang begitu kalau semua orang kantor dicuekin setiap berbicara padanya. Mukanya lempeng tapi tatapannya kosong. Semua pekerjaan tak selesai dengan baik tapi masih bisa bilang nggak papa? 

“Aku mau ke salon weekend ini.” Aku menjawab sekenaku. Aku sudah lelah mendengar wacana yang tak ada realisasinya, “Jangan cuma wacana! Sana pergi saja, biar nggak gila!” Dia kembali marah dan tak terima. “Aku nggak gila. Aku cuma butuh tidur.” Aku tak menjawab sepatah katapun. Aku diam dan melakukan perjalanan ini sendirian.

2. Sepanjang Purwakarta — Jakarta (Lagi) 
Aku benar-benar tertawa ketika menulis ini. Perasaanku campur aduk tak karuan. Tak kusangka tulisan kemarin akan ada sambungannya. Setelah hampir lima bulan, akhirnya dia pulang. Kukira usai itu, semua akan membaik. Mood yang tadinya seperti roller coaster akan kembali paling tidak seperti bianglala. Itu semua hanya ekspektasiku.

Realitanya, ia membuat dadaku sesak, tak tahu benar atau salah. Semua yang kulakukan terlihat salah di matanya. Maksud baik dariku ditangkap lain olehnya. Awalnya aku mengabaikannya. Aku malas memulai konflik yang akan memantik drama. Namun dengan tak memperdulikan perasaanku sendiri, itu membuat jiwaku yang tenang menjadi koyak perlahan. Jauh di dalam hatiku sudah meraung-raung oleh silent treatment-nya.

Tak ada seorang yang mau mengingatkannya, termasuk aku. Di umur yang sekarang, dia masih belum mampu mengolah emosinya sendiri dan hal itu menjadi racun untuk orang-orang di sekitarnya. Aku salah satunya. Aku memilih memulai perjalanan ini lagi daripada beristirahat tenang di liangku. Tenang? Kata yang jauh di imajinasi ketika aku berada di sekitarnya. Tak ada kedamaian ketika aku di sisinya. Dia yang ingin menjadi poros dunia, mengambil alih sesuka hatinya. Bukan hanya dua atau tiga orang yang kutanya bagaimana aku harus menghadapinya dan semua menjawabnya sama, diam dan tak usah pedulikan dia. Aku hanya bisa tersenyum. Apakah itu jalan keluar yang terbaik?

3. Sepanjang Jalan ke Ciater
Aku semakin memantapkan hati untuk meng-cut off dia sejak peristiwa hari Jumat itu. Aku jelas mengingatnya karena sejak hari itu semua yang tenang berubah menjadi badai. Aku yang dulu biasa saja menanggapimu menjadi takut walau hanya mendengar suaramu atau bahkan menatap wajahmu. Tahukah kamu, betapa sulitnya aku menahan semuanya dalam diam? Berdiri di tengah badai yang sama sekali tak aku harapkan, sendirian. Aku masih harus menghela napas panjang ketika menulis ini semua walau sudah seminggu aku tak melihat tatapan bengismu.

Aku sudah menimbang banyak. Ketakutanku tak ada apa-apanya kalau harus kehilangan orang yang tadinya aku anggap 'teman'. Aku jauh lebih merugi kalau aku kehilangan diriku sendiri. Dan aku sudah merasa seperti itu. Parahnya, aku tak menyadari sampai seseorang mengatakannya.

Aku tahu orang-orang sekitar sudah cukup berusaha agar hubungan ini tidak berakhir. Aku pun juga sudah mengupayakannya. Aku banyak diam dan menahan. Aku meredam semua yang ada di kepala dan berdoa agar semua bisa kembali. Tapi?

Siang itu sudah waktunya dia menjalankan ibadahnya. Hari itu hanya dia dan satu teman lagi yang menjalankan. Aku juga sudah mengingatkan, bukan apa tapi memang aku seperti itu sejak dulu dan dia pun sudah tahu. Teman yang di belakang kemudi ikut saja, dia menghentikan laju mobil di musholla kecil pinggir jalan. Memang ia tak bisa berhenti tepat di depan mulut musholla, selisih jarak yang tak lebih dari 3 meter menjadi awal mula mood semua orang berubah.

Dia tak mau beranjak dari mobil. Lokasi parkir yang tak tepat di pintu masuk musholla membuatnya tak mau turun. Ia malah minta mencari musholla atau masjid lain dan terpaksa kami beranjak. Perbehentian sela jutnya lumayan jauh. Kami masih saja bernyanyi bahagia namun dia yang duduk di kursi tengah sebelah kiri hanya diam sembari memandangi pemandangan di balik jendela.

Aku masih saja bernyanyi sambil menunggu mereka menjalankan kewajibannya. Teman yang berada dibalik kemudi mulai kesal karena  waktu tunggu yang terlalu lama. Aku yang tak tahu apa-apa juga mulai tersulut emosi. Namun aku siapa? Aku tetap tak punya hak untuk marah ataupun melakukan apa-apa.

Hanya sunyi yang ada di dalam mobil. Sayup musik keras terasa tak ada. Perjalanan juga ikut terasa lama padahal jaraknya tak seberapa. Kami hanya makan indomie dan jagung bakar sore tadi. Sampai di kota, lapar mulai datang lagi tapi moodnya sudah tak karuan. Kami terpaksa menahan lapar agar ia tak kembali murka. Apa aku masih dianggap tak mengerti perasaannya walau sudah banyak menahan semuanya?

Hari ini aku lelah. Bukan lelah karena mobilitas atau produksivitasku yang tinggi tapi energiku habis karena menyerap banyak racun yang bertebaran di kantor. Setiap dinding menjadi saksi bisu seolah sedikit pergerakanku ini dianggap pemberontakan. Polusi suara tak terpental walau telingaku sudah aku sumpal. Semua membebat erat kepalaku sehingga aku merasa akan pecah.

Perjuangan belum selesai ketika sampai di mess. Semua teriakan kembali terulang malah lebih hebat. Mereka semakin membabi buta dan tak tahu arah.

Setelah semua yang terjadi, aku percaya kalau semua orang berwarna abu-abu. Tak ada dari mereka yang berwarna putih atau hitam setelah mereka membaur menjadi satu di proyek. Mereka yang awalnya berwarna putih akan menjajal dunia hitam. Walau kadarnya berbeda, toh mereka akan menjadi keabuan. Sedang mereka yang berwarna hitam, tak mungkin selamanya hitam. Ada beberapa sisi yang masih berwarna putih kembali lagi, dengan kadar yang berbeda juga.

orang hanya percaya dengan apa yang mereka lihat.

Melihat mukanya lagi setelah sekian lama tak bertemu serasa menguji adrenalin. Seluruh tubuh mengejang seolah tahu hatiku. Degub jantung tak mau berhenti. Seharian sibuk memperhatikan jam berharap hari lekas usai. 
Selasa, 17 Oktober 2023 0 comments

Caribbean van Java

Entah kenapa, setelah lebaran kemarin, aku iseng banget buka aplikasi trip. Jari ini berhenti di satu destinasi yang sebenarnya nggak jauh dari Semarang: Karimun Jawa. Random banget. Kupikir, kenapa nggak? Akhirnya tiket open trip kucekout, padahal ini kali pertama aku ikut open trip sendirian. Biasanya aku minimal berdua. Kali ini benar-benar sendiri.

Kepalaku masih riuh. Malam sebelum berangkat aku sama sekali nggak bisa tidur. Pikiran ke mana-mana: nanti kalau canggung gimana, kalau sendirian di kamar gimana, kalau sepi gimana. Tapi toh dini hari aku tetap meluncur ke Jepara naik travel, lalu menyeberang pakai kapal.

Hari Pertama – Debur Ombak dan Pertemuan Tak Terduga

Sampai di penginapan, aku baru tahu kalau aku nggak sendiri di kamar. Ada dua orang perempuan seusiaku, yang ternyata juga peserta open trip ini. Awalnya awkward, cuma senyum basa-basi. Tapi nggak butuh lama, obrolan kami ngalir—entah kenapa langsung nyambung. Seolah-olah semesta sengaja taruh kami di kamar yang sama.

Trip sore itu dimulai. Snorkeling di spot Nemo, lalu pasir putih Tanjung Gelam. Aku menikmati laut, tapi lebih dari itu aku menikmati kenyataan kalau ternyata aku nggak benar-benar sendiri. Sunset di dermaga sore itu jadi manis, bukan karena langit jingga, tapi karena ada dua orang asing yang mulai terasa akrab.

Malamnya, setelah makan di pojok alun-alun, kami sepakat melipir keluar. Cari minuman, duduk di caffee. Di atas meja, beberapa botol bir jadi saksi obrolan kami. Malam itu kami nggak sedang mabuk, tapi jujur. Mereka cerita soal luka masing-masing, soal hubungan yang gagal, soal hati yang capek. Aku juga akhirnya buka mulut: aku datang ke sini karena lagi butuh menyembuhkan hati yang sudah terlalu lama kupaksa baik-baik saja. Kami bertiga menertawakan getir itu. Dan rasanya hangat sekali.

Hari Kedua – Biru yang Menyembuhkan

Pagi dimulai dengan snorkeling di Menjangan Kecil. Air sebening kaca, terumbu karang penuh warna, dan kami bertiga yang saling lempar senyum di bawah matahari. Dilanjutkan makan siang di Pulau Cemara Besar, lalu snorkeling lagi di Secret Garden. Lautnya seindah itu.


Sore hari, sunset kami sambut di Menjangan Kecil. Duduk di pasir, menonton matahari pelan-pelan turun. Kami bertiga diam, tapi diam yang tidak sepi. Ada rasa pulih yang samar, yang nggak bisa dijelaskan tapi terasa.

Malam kedua kembali jadi milik kami bertiga. Obrolan makin dalam, tawa makin lepas, seolah dunia luar nggak ada. Kami datang dengan luka berbeda, tapi di Karimun Jawa, luka-luka itu seolah nggak lagi terasa sendirian.

Hari Ketiga – Melipir Subuh, Pulang dengan Gantung

Itin bilang jam enam harus sarapan lalu checkout. Tapi subuh itu, kami bertiga sepakat kabur. Naik motor sewaan, meluncur ke Pantai Bobby. Langit masih biru muda, ombak kecil berkejaran, pasir dingin di kaki. Kami hanya duduk, menonton fajar.


Belum puas, kami naik lagi ke Bukit Cinta. Landmark Karimun Jawa menjulang, lautan membentang jauh di depan. Aku berdiri di antara batu berbentuk hati, mengangkat tangan membentuk simbol cinta ke langit. Entah untuk siapa. Kami tertawa, berfoto, seakan ingin menunda pulang.

Tapi jam terus berjalan. Kami kembali ke penginapan, lalu ke pelabuhan. Kapal menyeberang, laut kali ini terasa lebih tenang, tapi dadaku justru berat. Aku tahu, pertemuan singkat ini mungkin hanya akan jadi potongan kecil dalam hidup kami masing-masing.

Aku menatap laut terakhir kali dari geladak. Ada rasa yang menggantung, sama seperti cerita ini—yang entah kenapa belum bisa kututup.


 
;