Minggu, 25 Juni 2023 0 comments

aku belum bisa membencimu.

Hal yang sedari dulu aku hindari malah terjadi dengan manusia yang tak pernah kuduga sepertimu. Iya, dulu aku paling benci dengan hal yang berbau cinta. Seolah semua yang bersinggungannya akan menghancurkanku perlahan suatu hari nanti. Tak ada yang kekal dengan cinta kecuali deritanya. 

Banyak pertanyaan kupendam sendiri. Apa semua makhluk diciptakan berpasangan? Kalau benar mengapa rasio perbandingan lelaki dan perempuan tak seimbang? Mengapa manusia harus berpasangan bila bisa mendapatkan bahagianya sendiri? Itu yang terus aku patri dalam kepala sampai orang aneh sepertimu melepasnya paksa. 

Lucu ya, aku luluh dengan orang sepertimu. Seseorang yang biasa saja namun pesona bagai pangeran yang memberiku harapan, buaian cinta, dan masa depan. Kamu terlalu mudah untuk dikagumi baik lewat tindakan sederhana yang selalu berhasil membuatku terheran, tutur katamu yang tajam namun selalu benar, atau wajahmu yang tak terlalu tampan tapi juga tak pernah membosankan. Semua yang ada dalammu hampir membuatku terbuai untuk ikut bersamamu saja. 

Jantungku bekerja lebih keras ketika aku bersamamu. Semua tentangmu terasa tak masuk akal namun kamu yang membuatku nyaman seperti rumah yang selalu aku rindukan. Dan kamu sukses membuatku jatuh hati. 

Aku tak pernah bisa diam jika bersamamu. Jauh berbeda ketika aku berada di kantor atau arisan keluarga. Semua hal tentangku, selalu kuceritakan. Dari hal sepele tentang anjingku yang sering lupa kalau punya kaki sampai masalah kantor dan perihal masa depan yang menjerat jiwa. Bersamamu, semua isi kepala bisa kutumpahkan tanpa ada perisai yang menghalanginya. Aku betah mendengarkan cerita konyolmu walau jutaan kali kau ulangi, ocehanmu tentang multiverse yang semakin menggila, atau masalah film yang seringkali membuat kamu spoiler.

Diceritamu kepalaku lebih keras dari batu karang, egoku lebih luas dari lautan, gengsiku lebih tinggi dari Jayawijaya, sikapku lebih dingin dari Everest. Katamu, semua prioritasku hanya untuk diriku namun tak ada komitmen yang jelas untuk hubungan yang menjanjikan masa depan bersamamu.

Bertahun aku di dekatmu, kau hafal kejelekanku di luar kepala. Merajut kisah sebentar dengan harap menjadi teman hidup. Separuh jalan telah terlewati meski ada kecewa. Kesempatan demi kesempatan datang untuk jadi pembelajaran. Begitu tergila-gilanya aku sampai tak sadar langit abu-abu menghiasi malam-malamku. 

Satu hari di bulan Juni, aku tak sabar menunggu pukul tujuh. Aku memilih baju yang kuanggap pantas. Malam itu semua terasa biasa saja. Baumu masih sama dengan kemarin. Namun matamu tak pernah bisa berbohong. Kau katakan semua isi hatimu. Tangismu malam itu membukakan mataku kalau kita hanya sepasang anak manusia yang butuh ruang sendiri. Sekian lama kita tersesat dalam labirin panjang tanpa tahu dimana ujungnya.

"Kukira kita bisa." Aku tak sanggup melanjutkan kalimatku. Semua yang selama ini di kepala, semua angan yang tak pasti, semua harapan yang kita tulis bersama, semua sudah terjawab dalam tatap matamu sekaligus malam itu.

Aku mencoba mengerti perihal maaf yang kau beri. Semakin panjang kata di antara kita semakin menyadarkan dimana posisiku berada dan aku menerima itu karena aku tahu kalau aku tak bisa menjadi apa yang selama ini bukan aku. Aku terlalu rumahan untuk dirimu yang selalu berada di jalan. 'Kita' yang aku mau bukan yang seperti ini.

Aku ingin bersamamu dalam lembah maupun puncak. Banyak yang masih ingin aku lewati bersamamu, mencari hal baru yang belum pernah aku rasakan. Walau kadang jauh dari zona nyamanku tapi apapun itu aku menikmatinya karena bersamamu. Tapi kita tak bisa bersama lagi. Tak mungkin ada dua nahkoda dalam satu kapal.

Kompromiku ternyata tak sebesar yang kukira. Aku dan kau sudah tak bisa menjadi pahlawan untuk masing-masing. Kita tak bisa beranjak ketika kita bersama. Hati-hati di jalan, ya. Kini aku pulang sendiri. Aku akan mencoba memahami dunia ini dengan caraku sendiri. Terimakasih sudah sempat memberiku hati. 

I let you go and i know my soul.
I have found what I look for.

Aku belum bisa membencimu sekarang dan semoga tak akan pernah bisa. Semoga apa yang pernah kita lalui tetap menjadi memori yang indah di ujung ingatanku.

Sabtu, 03 Juni 2023 0 comments

semua harus usai malam ini.

Kecemasan beberapa bulan belakangan, harus usai malam ini. Semua yang berenang di kepala dan suara bising yang merambat lewat daun telinga harus mulai tahu tujuannya ketika hari ini selesai. Hal-hal yang menganggu tak boleh lagi ikut aku. 

"Ini bukan kamu yang biasanya. Lagi kemana yang biasanya?" Lewat pertanyaan itu, aku mulai sadar. Iya, kemana aku yang biasanya. Aku perlahan meninggalkan tawaku dan sekarang aku benar-benar lupa bagaimana aku yang dulu.

Usai peristiwa Jumat itu, jiwaku menjadi goyah. Telingaku yang sudah aku sumpal dengan earbuds masih kurang kuat hingga aku harus mendengar obrolan dia dengan teman kuliahnya yang juga temanku. Perang dingin masih berlangsung kala itu. Dia masih diam dan akupun melakukan hal yang sama. Suasana kantor sepi tapi ketenangan itu redam ketika Ia berteriak mengaku tak punya teman. Aku yang mendengarnya hanya terdiam dan langsung menaikan volume lagu yang kuputar.

Segelintir orang langsung menatapku tajam. Aku berpura tak melihat dan mendengarnya. Aku masih berpura tak terjadi apa-apa dan merasa aku baik-baik saja. Namun, semua tak sesuai inginku.

Aku semakin membuat jarak. Tak ada lagi tegur sapa apalagi tawa bersama. Aku semakin tak mau tahu dengan seribu satu urusanmu. Sumbat di telingaku tak pernah lepas. Aku yang selalu memilih ikut jalanmu agar tak ada perdebatan masih selalu kurang di matamu. Aku yang selalu patuh pada aturan mainmu masih tak dianggap olehmu. 

Segelintir orang yang ada disana, mulai berasumsi. Beberapa datang dan memberiku semangat namun beberapa hadir untuk menyalahkan ketidakhadiranku di tengah badai yang sebenarnya kamu ciptakan sendiri. Apa kamu juga selalu hadir di setiap gelombang yang ada di kepalaku sampai ketidakhadiranku kala itu jadi sebuah masalah yang besar?

Tak semua orang perlu tahu dengan apa yang sedang aku lawan. Aku sadar dimana posisiku berdiri dan aku tak hebat dalam hal mencari perhatian. Aku terbiasa mencari tempat duduk bukan panggung dan lampu sorot. Bila aku harus berada di kerumunan, aku lebih memilih tak terlihat dibanding harus bersorai haus akan tatapan.

Sekarang, semua rasa sudah membaur menjadi satu. Kecewa, sedih, marah, dan bahagia. Semua yang sudah dibangun bertahun menjadi percuma karena alasan yang tak jelas. Diam yang dianggap menjadi kebiasaan menjadi senjata yang menghancurkan tuannya. Tanganku ikut  ternodai walau tak ingin ikut campur. Kakiku sudah tak bisa berada di tengah. Kekuatanmu terlalu kuat untuk aku bisa bertahan hingga aku lebih memilih mundur ketimbang perlahan hancur sendiri.

Kamu tak perlu tahu sesaknya dadaku tiap bertemu malam. Aku selalu merasa lelah tanpa tahu penyebabnya. Tawaku yang sudah tak senyaring dan sesering dulu. Aku lebih menikmati bisuku, berusaha tak tahu apa-apa, dan kakiku memilih jalur berliku ketimbang bertemu sapa denganmu.

Namun semakin aku tak mau tahu, semua tentangmu masih sampai ke telingaku. Masih banyak pertanyaan yang tak ingin kudengar datang di hadapanku. Semua tersaji tanpa aku minta dan tanpa aku mau. Beragam fakta berjubelan menerorku. Teka-teki yang selama ini kusimpan di lini waktuku terjawab perlahan sehingga tanda tanya di dada sirna begitu saja.

Kupikir aku sudah sebodo amat itu dengan semua perlakuanmu. Kukira aku hanya bosan mengalah dengan pemikiran dan aturan yang malah membatasi dirimu sendiri.  Nyatanya tidak demikian. Jiwaku tak sehebat itu. Benteng itu, kini sudah hancur. 

Sekarang, hanya setiap mendengar renyah suaramu, tanganku bergetar, keringat dingin mengucur, dan degub jantungku menjadi tak karuan seperti sehabis menenggak kafein. Belum lagi kalau aku harus berpapasan denganmu di kantin atau pantry. Aku lebih memilih bertemu  sosok tak kasat mata ketimbang itu terjadi. Aku sudah muak untuk bertegur sapa denganmu bahkan aku lebih memilih kata "temanku" ketimbang harus menyebutkan namamu. Aku tak berani menatap matamu yang selalu minta dikasihani.

Gelegar suaramu yang rindu validasi mulai menganggu pendengaranku. Tiap getarnya mendirikan bulu kudukku yang mulai rebah. Bahkan tiap huruf yang aku tulis sekarang, berharap cepat untuk bertemu titik.

Setiap topik yang mengarah padamu, selalu kuhindari. Aku memilih untuk diam tak berkomentar atau terkadang hanya tersenyum tak berarti apa-apa ketimbang aku salah bicara. Aku berusaha mengerem mulutku ketika obrolan menjadi tentangnya. Aku mulai membatasi diriku untuk sekedar basa-basi dengan orang-orang yang aku anggap dekat dengannya. Sebisa mungkin aku menjaga semuanya agar terlihat baik-baik saja.

Aku hanya berani mengajak bicara bila terpaksa karena pekerjaan itupun aku harus menyusun kata-kata agar lidahku tidak terpeleset. Semua hal aku pikirkan terlebih dahulu untuk meminimalisir segala kondisi yang bisa berhubungan denganmu. Aku yang selalu berusaha tak merepotkan orang lain, menjadi sedikit bergantung dengan teman yang aku rasa agak kau segani karena tiap teman ini berada di kantor, kamu tak pernah membuat drama.

Usahaku untuk meredam semua kebenaran yang ada malah kamu hancurkan sendiri. Manis bicaramu mulai merayu. Orang-orang yang jarang ada di tempat mulai terjerat dan mereka yang baru mengenalku ikut terjebak. Mereka yang awalnya tak tahu apa-apa jadi mulai menerka-nerka.

Mereka datang bersamaan membawa senjata sambil memojokanku. Aku tak pernah lari dari sana. Semua aku telan tanpa ada satu kata pun yang keluar. Aku sama sekali tak ingin membuat kegaduhan.

Berbeda dengan sikapmu yang mulai memanas. Sibuk berlarian mengejar yang kusebut validasi. Semua makhluk seolah harus mendengarkanmu. Tuturmu seperti amanat agung yang harus disebarluaskan.

Sifatmu tak seayu parasmu. Kebusukan merongrong batin yang rapi kamu simpan. Otak-atik asumsi, kelihaianmu memainkan peran, dan manipulasi alur cerita membuatku semakin kagum. Talenta apalagi yang masih terpendam? 

Semua yang benar-benar mengenalmu tak selamanya ada dipihakmu tanpa aku mengiba. Beberapa orang ternyata mengamati tiap perubahan. Banyak yang datang tanpa kuminta dan beberapa pergi tanpa disuruh. Semua berlalu begitu saja hingga kini hanya segelintir yang dapat kupegang.

Terserah kalian mau percaya siapa. Aku tak butuh validasi ataupun pembelaan. Itu juga salah satu alasan mengapa aku tetap bungkam. Aku masih berharap dengan kebisuan, semua bisa menguap, lalu menjadi lupa.

Aku hanya bisa berucap lewat jalur langit, berharap semua yang kau rampas kembali. Serta semua yang telah hilang akan berganti. Sumpah serapah belum terucap karena kutak mau sejahat kamu. Aku tak ingin mengikuti langkahmu.

Aku tak tahu sampai kapan aku menggenggam nyaman rasa takut ini. Harapku kamu tetap menjadi kamu dan mendapatkan bahagia versimu yang selama ini kamu agungkan. Semoga di luar sana, kamu dikelilingi orang-orang dengan kesabaran dan kebaikan penuh. Terimakasih untuk setiap luka yang telah kau hadirkan dan selamat merayakan keberhasilanmu menghancurkan aku yang dahulu. 

Minggu, 28 Mei 2023 0 comments

malam setelah secangkir kopi.

Malam ini aku sendirian di kamar, usai menghabiskan secangkir kopi dan bercengkerama dengan dua orang teman se-mess. Kepalaku terasa ringan karena sebelumnya aku hair spa dan karena kopi tentunya. Jariku ringan menari di atas keyboard. Namun kamarku masih berantakan karena aku belum beberes seminggu ini dan lemburan yang tak kunjung aku kerjakan.

Aku sudah merasa sumpek usai solo open tripku ke Karimun minggu lalu. Gelapnya kulit juga belum hilang tapi rasa senangku sudah sirna begitu aku menginjakkan kaki di sini. Tempat yang pernah aku impikan namun sekarang sedikit menyesal.

Hah. Kuhela napas panjang dulu sebelum kembali melanjutkan ceritaku.

Aku spontan bertanya pada teman yang mengajakku untuk bekerja di sini, setahun lalu. Ya, tepat tahun lalu di tanggal ini.

“Temen-temennya gimana? Toxic nggak?” tanyaku.

Dia, yang waktu itu masih di sini hanya menyahut, “Kamu lihat aja deh nanti. Baik-baik semua kok. Paling nanti bosen kalau di mess terus.”

Lalu aku masuk. Dan ternyata… ternyata bosen itu kata lain dari *“selamat datang di neraka versi manusia dewasa.”* Semua orang tampak sopan, tapi di balik senyum itu ada banyak agenda: gosip, persaingan, sampai permainan moral yang membuatmu bertanya-tanya apa orang ini benar-benar manusia atau robot yang diprogram untuk menipu.

Aku menjadi saksi bisu drama harian yang tidak pernah habis. Tertawa palsu, komentar sinis, tatapan yang terlalu panjang untuk hanya sekadar melihatmu lewat. Semua orang di sini ahli memainkan topengnya sendiri—dan parahnya, mereka semua mengira aku tidak bisa melihat. Tapi aku bisa. Aku selalu bisa melihat.

Aku mencoba bersabar. Aku mencoba menulis, mencoba melewatkan hari, mencoba percaya lagi pada manusia—tapi lingkungan ini seperti sapu lidi yang tiap kali kuketat malah menusuk tangan sendiri. Bahkan ide-ide untuk lari, seperti kuliah lagi atau menikah, terasa seperti pura-pura menjadi manusia normal di dunia yang sudah gila.

Mess ini? Tempat latihan ketekunan untuk pura-pura tidak peduli. Lingkungan ini? Tempat di mana jujur adalah lelucon paling mahal yang bisa kamu mainkan pada diri sendiri. Kalau kau berani terlalu terbuka, siap-siap dihakimi diam-diam. Kalau kau diam, bersiaplah dianggap bodoh. Tidak ada jalan tengah—kecuali kau pintar menyimpan wajah palsu, dan aku? Aku terlalu lelah untuk itu.

Dan malam ini, setelah secangkir kopi, aku tersenyum pahit sendiri. Karena setidaknya aku sadar: aku tidak perlu berpura-pura bahagia dengan semua kebusukan yang berjalan di sekitarku. Aku tidak perlu ikut menertawakan semua drama bodoh. Aku bisa tetap “aku,” meski kamar berantakan, lembar lembur menumpuk, dan dunia ini menertawakan harapan-harapan bodohku.

Dan entah kenapa, aku punya satu doa kecil—atau mungkin doa paling busuk: Semoga proyek ini, semua gosipnya, semua kesombongannya, dan semua senyum palsunya, hancur dengan cara yang sama seperti mereka hancurkan rasa tenang orang lain. Semoga mereka sadar, suatu hari nanti, kalau semua topeng itu jatuh, tidak ada yang tersisa kecuali kebusukan mereka sendiri.

Karena jujur dilarang di sini, biarlah kebohongan dan kehancuran jadi satu paket. Dan aku? Aku akan tetap menulis, menertawakan, dan minum kopi pahit ini sendirian.


 
;