Sabtu, 03 Juni 2023 0 comments

semua harus usai malam ini.

Kecemasan beberapa bulan belakangan, harus usai malam ini. Semua yang berenang di kepala dan suara bising yang merambat lewat daun telinga harus mulai tahu tujuannya ketika hari ini selesai. Hal-hal yang menganggu tak boleh lagi ikut aku. 

"Ini bukan kamu yang biasanya. Lagi kemana yang biasanya?" Lewat pertanyaan itu, aku mulai sadar. Iya, kemana aku yang biasanya. Aku perlahan meninggalkan tawaku dan sekarang aku benar-benar lupa bagaimana aku yang dulu.

Usai peristiwa Jumat itu, jiwaku menjadi goyah. Telingaku yang sudah aku sumpal dengan earbuds masih kurang kuat hingga aku harus mendengar obrolan dia dengan teman kuliahnya yang juga temanku. Perang dingin masih berlangsung kala itu. Dia masih diam dan akupun melakukan hal yang sama. Suasana kantor sepi tapi ketenangan itu redam ketika Ia berteriak mengaku tak punya teman. Aku yang mendengarnya hanya terdiam dan langsung menaikan volume lagu yang kuputar.

Segelintir orang langsung menatapku tajam. Aku berpura tak melihat dan mendengarnya. Aku masih berpura tak terjadi apa-apa dan merasa aku baik-baik saja. Namun, semua tak sesuai inginku.

Aku semakin membuat jarak. Tak ada lagi tegur sapa apalagi tawa bersama. Aku semakin tak mau tahu dengan seribu satu urusanmu. Sumbat di telingaku tak pernah lepas. Aku yang selalu memilih ikut jalanmu agar tak ada perdebatan masih selalu kurang di matamu. Aku yang selalu patuh pada aturan mainmu masih tak dianggap olehmu. 

Segelintir orang yang ada disana, mulai berasumsi. Beberapa datang dan memberiku semangat namun beberapa hadir untuk menyalahkan ketidakhadiranku di tengah badai yang sebenarnya kamu ciptakan sendiri. Apa kamu juga selalu hadir di setiap gelombang yang ada di kepalaku sampai ketidakhadiranku kala itu jadi sebuah masalah yang besar?

Tak semua orang perlu tahu dengan apa yang sedang aku lawan. Aku sadar dimana posisiku berdiri dan aku tak hebat dalam hal mencari perhatian. Aku terbiasa mencari tempat duduk bukan panggung dan lampu sorot. Bila aku harus berada di kerumunan, aku lebih memilih tak terlihat dibanding harus bersorai haus akan tatapan.

Sekarang, semua rasa sudah membaur menjadi satu. Kecewa, sedih, marah, dan bahagia. Semua yang sudah dibangun bertahun menjadi percuma karena alasan yang tak jelas. Diam yang dianggap menjadi kebiasaan menjadi senjata yang menghancurkan tuannya. Tanganku ikut  ternodai walau tak ingin ikut campur. Kakiku sudah tak bisa berada di tengah. Kekuatanmu terlalu kuat untuk aku bisa bertahan hingga aku lebih memilih mundur ketimbang perlahan hancur sendiri.

Kamu tak perlu tahu sesaknya dadaku tiap bertemu malam. Aku selalu merasa lelah tanpa tahu penyebabnya. Tawaku yang sudah tak senyaring dan sesering dulu. Aku lebih menikmati bisuku, berusaha tak tahu apa-apa, dan kakiku memilih jalur berliku ketimbang bertemu sapa denganmu.

Namun semakin aku tak mau tahu, semua tentangmu masih sampai ke telingaku. Masih banyak pertanyaan yang tak ingin kudengar datang di hadapanku. Semua tersaji tanpa aku minta dan tanpa aku mau. Beragam fakta berjubelan menerorku. Teka-teki yang selama ini kusimpan di lini waktuku terjawab perlahan sehingga tanda tanya di dada sirna begitu saja.

Kupikir aku sudah sebodo amat itu dengan semua perlakuanmu. Kukira aku hanya bosan mengalah dengan pemikiran dan aturan yang malah membatasi dirimu sendiri.  Nyatanya tidak demikian. Jiwaku tak sehebat itu. Benteng itu, kini sudah hancur. 

Sekarang, hanya setiap mendengar renyah suaramu, tanganku bergetar, keringat dingin mengucur, dan degub jantungku menjadi tak karuan seperti sehabis menenggak kafein. Belum lagi kalau aku harus berpapasan denganmu di kantin atau pantry. Aku lebih memilih bertemu  sosok tak kasat mata ketimbang itu terjadi. Aku sudah muak untuk bertegur sapa denganmu bahkan aku lebih memilih kata "temanku" ketimbang harus menyebutkan namamu. Aku tak berani menatap matamu yang selalu minta dikasihani.

Gelegar suaramu yang rindu validasi mulai menganggu pendengaranku. Tiap getarnya mendirikan bulu kudukku yang mulai rebah. Bahkan tiap huruf yang aku tulis sekarang, berharap cepat untuk bertemu titik.

Setiap topik yang mengarah padamu, selalu kuhindari. Aku memilih untuk diam tak berkomentar atau terkadang hanya tersenyum tak berarti apa-apa ketimbang aku salah bicara. Aku berusaha mengerem mulutku ketika obrolan menjadi tentangnya. Aku mulai membatasi diriku untuk sekedar basa-basi dengan orang-orang yang aku anggap dekat dengannya. Sebisa mungkin aku menjaga semuanya agar terlihat baik-baik saja.

Aku hanya berani mengajak bicara bila terpaksa karena pekerjaan itupun aku harus menyusun kata-kata agar lidahku tidak terpeleset. Semua hal aku pikirkan terlebih dahulu untuk meminimalisir segala kondisi yang bisa berhubungan denganmu. Aku yang selalu berusaha tak merepotkan orang lain, menjadi sedikit bergantung dengan teman yang aku rasa agak kau segani karena tiap teman ini berada di kantor, kamu tak pernah membuat drama.

Usahaku untuk meredam semua kebenaran yang ada malah kamu hancurkan sendiri. Manis bicaramu mulai merayu. Orang-orang yang jarang ada di tempat mulai terjerat dan mereka yang baru mengenalku ikut terjebak. Mereka yang awalnya tak tahu apa-apa jadi mulai menerka-nerka.

Mereka datang bersamaan membawa senjata sambil memojokanku. Aku tak pernah lari dari sana. Semua aku telan tanpa ada satu kata pun yang keluar. Aku sama sekali tak ingin membuat kegaduhan.

Berbeda dengan sikapmu yang mulai memanas. Sibuk berlarian mengejar yang kusebut validasi. Semua makhluk seolah harus mendengarkanmu. Tuturmu seperti amanat agung yang harus disebarluaskan.

Sifatmu tak seayu parasmu. Kebusukan merongrong batin yang rapi kamu simpan. Otak-atik asumsi, kelihaianmu memainkan peran, dan manipulasi alur cerita membuatku semakin kagum. Talenta apalagi yang masih terpendam? 

Semua yang benar-benar mengenalmu tak selamanya ada dipihakmu tanpa aku mengiba. Beberapa orang ternyata mengamati tiap perubahan. Banyak yang datang tanpa kuminta dan beberapa pergi tanpa disuruh. Semua berlalu begitu saja hingga kini hanya segelintir yang dapat kupegang.

Terserah kalian mau percaya siapa. Aku tak butuh validasi ataupun pembelaan. Itu juga salah satu alasan mengapa aku tetap bungkam. Aku masih berharap dengan kebisuan, semua bisa menguap, lalu menjadi lupa.

Aku hanya bisa berucap lewat jalur langit, berharap semua yang kau rampas kembali. Serta semua yang telah hilang akan berganti. Sumpah serapah belum terucap karena kutak mau sejahat kamu. Aku tak ingin mengikuti langkahmu.

Aku tak tahu sampai kapan aku menggenggam nyaman rasa takut ini. Harapku kamu tetap menjadi kamu dan mendapatkan bahagia versimu yang selama ini kamu agungkan. Semoga di luar sana, kamu dikelilingi orang-orang dengan kesabaran dan kebaikan penuh. Terimakasih untuk setiap luka yang telah kau hadirkan dan selamat merayakan keberhasilanmu menghancurkan aku yang dahulu. 

Minggu, 28 Mei 2023 0 comments

malam setelah secangkir kopi.

Malam ini aku sendirian di kamar, usai menghabiskan secangkir kopi dan bercengkerama dengan dua orang teman se-mess. Kepalaku terasa ringan karena sebelumnya aku hair spa dan karena kopi tentunya. Jariku ringan menari di atas keyboard. Namun kamarku masih berantakan karena aku belum beberes seminggu ini dan lemburan yang tak kunjung aku kerjakan.

Aku sudah merasa sumpek usai solo open tripku ke Karimun minggu lalu. Gelapnya kulit juga belum hilang tapi rasa senangku sudah sirna begitu aku menginjakkan kaki di sini. Tempat yang pernah aku impikan namun sekarang sedikit menyesal.

Hah. Kuhela napas panjang dulu sebelum kembali melanjutkan ceritaku.

Aku spontan bertanya pada teman yang mengajakku untuk bekerja di sini, setahun lalu. Ya, tepat tahun lalu di tanggal ini.

“Temen-temennya gimana? Toxic nggak?” tanyaku.

Dia, yang waktu itu masih di sini hanya menyahut, “Kamu lihat aja deh nanti. Baik-baik semua kok. Paling nanti bosen kalau di mess terus.”

Lalu aku masuk. Dan ternyata… ternyata bosen itu kata lain dari *“selamat datang di neraka versi manusia dewasa.”* Semua orang tampak sopan, tapi di balik senyum itu ada banyak agenda: gosip, persaingan, sampai permainan moral yang membuatmu bertanya-tanya apa orang ini benar-benar manusia atau robot yang diprogram untuk menipu.

Aku menjadi saksi bisu drama harian yang tidak pernah habis. Tertawa palsu, komentar sinis, tatapan yang terlalu panjang untuk hanya sekadar melihatmu lewat. Semua orang di sini ahli memainkan topengnya sendiri—dan parahnya, mereka semua mengira aku tidak bisa melihat. Tapi aku bisa. Aku selalu bisa melihat.

Aku mencoba bersabar. Aku mencoba menulis, mencoba melewatkan hari, mencoba percaya lagi pada manusia—tapi lingkungan ini seperti sapu lidi yang tiap kali kuketat malah menusuk tangan sendiri. Bahkan ide-ide untuk lari, seperti kuliah lagi atau menikah, terasa seperti pura-pura menjadi manusia normal di dunia yang sudah gila.

Mess ini? Tempat latihan ketekunan untuk pura-pura tidak peduli. Lingkungan ini? Tempat di mana jujur adalah lelucon paling mahal yang bisa kamu mainkan pada diri sendiri. Kalau kau berani terlalu terbuka, siap-siap dihakimi diam-diam. Kalau kau diam, bersiaplah dianggap bodoh. Tidak ada jalan tengah—kecuali kau pintar menyimpan wajah palsu, dan aku? Aku terlalu lelah untuk itu.

Dan malam ini, setelah secangkir kopi, aku tersenyum pahit sendiri. Karena setidaknya aku sadar: aku tidak perlu berpura-pura bahagia dengan semua kebusukan yang berjalan di sekitarku. Aku tidak perlu ikut menertawakan semua drama bodoh. Aku bisa tetap “aku,” meski kamar berantakan, lembar lembur menumpuk, dan dunia ini menertawakan harapan-harapan bodohku.

Dan entah kenapa, aku punya satu doa kecil—atau mungkin doa paling busuk: Semoga proyek ini, semua gosipnya, semua kesombongannya, dan semua senyum palsunya, hancur dengan cara yang sama seperti mereka hancurkan rasa tenang orang lain. Semoga mereka sadar, suatu hari nanti, kalau semua topeng itu jatuh, tidak ada yang tersisa kecuali kebusukan mereka sendiri.

Karena jujur dilarang di sini, biarlah kebohongan dan kehancuran jadi satu paket. Dan aku? Aku akan tetap menulis, menertawakan, dan minum kopi pahit ini sendirian.


Rabu, 12 April 2023 0 comments

perasaanku yang kacau dan bajingan yang baik hati.

Ya, ini masih merupakan tulisanku tentangnya. Teman lama yang sekarang entah apa. Degub jantungku tak bisa berbohong. Ia tak mau diam sepanjang perjalananku menuju Purwakarta. Entah darimana aku berasal, jantung ini tak bisa memelankan iramanya ketika mendekati kota ini. Perasaanku semakin kacau ketika melihat rumah bercat kuning tepat di ujung pertigaan jalan.

Walau beberapa teman terus menghiburku, rasa takut ini terus menyelubungi. Mereka tetap mendengarkanku meski aku tak mau bercerita. Mereka tetap peduli meski aku tak meminta. Dan mereka tetap selalu ada meski aku selalu menghindar.

Dari balik ketakutanku, aku menjadi tahu siapa yang benar-benar peduli dan tidak. Siapa saja yang mencari kebenaran bukan pembenaran. Dari diamku tersirat seribu bahasa.

Ternyata beberapa orang memperhatikan dari jauh. Telinga mereka jauh lebih tajam. Setiap percik air yang menetes, mereka lebih peka. Semua yang tak aku sangka justru aku ketahui dari suara-suara tanpa tahu sumbernya.

Mereka memang bukan ibu peri. Mereka punya masing-masing badainya di kepala. Beberapa dari mereka lebih bajingan dariku tapi paling tidak mereka masih mau menemaniku di tempat yang gelap, mau mendekapku sejenak hingga aku bisa sedikit tenang.

Aku yang tak bisa meminta tolong lagi hanya diam tak bersuara. Namun entah darimana tangan mereka datang. Ia, bajingan yang baik itu punya cara sendiri untuk melindungiku sampai aku sering tak sadar kalau tangan kotornya yang menghadang pisau mengejar setiap langkahku.

Jujur aku semakin tak mengerti. Perkara ini seperti benang kusut yang sudah tak bisa digunakan lagi. Bahkan untuk menemukan kedua ujungnya saja, sulit. Masalah yang awalnya sepele dan kupikir akan menguap begitu saja nyatanya tetap terus membara. Sesekali setetes air turun dan memadamkannya tapi akan berkobar ketika gesekan terjadi.

Ego yang tak bisa dibendung melawan perasaan yang patut diperjuangkan.

Aku tak mencari siapa yang benar. Aku tak butuh validasi akan itu. Kalau aku butuh, dari awal aku tak akan bungkam. Nyatanya aku tetap bungkam meski kadang rasanya sudah tak tahu lagi dengan apa aku menyumpal mulutku. Sering aku tak tahan untuk tak berteriak ketika dia merasa makhluk Tuhan yang paling tersakiti.

Diam yang kuperjuangkan malah dianggap angin lalu yang tidak akan merebahkan bulu. Semesta berjalan seperti biasa dan waktu terus berputar sebagaimana mestinya. Ia terus mencari panggung untuk menjadi yang paling bersinar di tengah gemuruh yang ia ciptakan.


 
;