Sabtu, 14 Januari 2023 0 comments

jangan berubah ketika kalian membaca ini!

Aku sulit menyusun kata dan menyampaikannya secara langsung. Aku merasa setiap bercerita, ceritaku tak kunjung mencapai klimaks. Lidahku pun mendadak kaku ketika ditodong pertanyaan, "kamu kenapa?" Padahal dalam hati aku senang, ketika ada orang yang ternyata menunggu kisahku. Walau aku juga tak tahu, bagaimana responmu setelah mendengar kisahku. Jujur aku ingin kalian tahu bagaimana aku dan perjalanan hidupku.

Ketakutan terlanjur membalut lukaku. Aku yang sekarang, sulit terbuka dan menjadi misterius. Mungkin ini adalah kombinasi dari goresan yang selama ini aku kumpulkan. Mereka kini berubah menjadi benteng pertahanan yang kokoh.

Aku tahu tak adil rasanya kalau aku menyimpan semua kisahmu tapi kamu tak punya kisah tentangku. Aku tahu kamu juga bertanya-tanya bagaimana ceritaku. Tapi, aku minta maaf karena aku tak bisa menceritakannya secara langsung. Bukannya aku tak mau tapi aku tak bisa.

Aku paham kalau kalian tak bisa mengerti aku sepenuhnya kalau kalian sama sekali tak mendengat ceritaku. Tapi itu bukan tanggung jawab kalian untuk sepenuhnya mengerti aku dan semua ini juga menjadi hak ku untuk mau atau tidak bercerita kepada kalian. Tak apa kalau kalian mau pergi. Semua yang kalian ceritakan, aman di kepalaku.

Tenang, kalian cukup mengenalku kalau kalian bisa bertahan disekitarku sejauh ini. Emosiku yang naik turun, moodku yang pasang surut dan belum lagi aku yang sering menghilang tanpa kabar. Kalian orang-orang baik. Kalian orang-orang hebat yang sangat aku syukuri keberadaannya.

Although I can't tell you everything, thank you for being there.

Jangan berubah ketika kalian membaca ini! Terimakasih ya sudah mau berada di tempat kalian saat ini, mau berada disekitarku, dan mau mengajakku nongkrong walau tetap tak ada cerita tentangku. Terima kasih untuk selalu ada meski aku tak pernah meminta. Terima kasih untuk selalu menemani meski terkadang aku lebih suka menyendiri. Terima kasih untuk mengajak tertawa walau terkadang aku memalsukannya. Besok kalau aku menghilang, tolong baca ini semua, ya. Ini satu-satunya jalan agar aku bisa menceritakan semuanya tentangku. Cara agar aku bisa mengungkapkan isi hatiku. Terimakasih orang baik.
Senin, 02 Januari 2023 0 comments

semua lebih dari cukup.

Dulu aku sama seperti orang kebanyakan, menutupi semua luka dengan tawa, belum lagi berpura kuat agar semua tak melihat sisi lemahku. Aku rajin berganti topeng setiap saat, memolesnya sampai berkilau, dan menghiasnya dengan beragam pernak-pernik hingga aku tak tahu bagaimana wujud wajah asliku. 

Menghapus dengan cleansing balm tak membantu semuanya hilang. Terlalu banyak aku mengenakan topeng kepalsuan ini. Terlalu tebal hingga sulit aku memudarkannya.

Usahaku untuk melepaskannya sangat tak mudah. Aku harus melepaskan satu persatu, mengingat setiap detail wajah asliku, dan menerima mukaku yang sebenarnya. 

Rekatan tiap topeng sangat erat, tiap aku mengelupasnya aku seperti membuka kisah lama yang ingin dilupakan. Tapi berkat topeng itu, aku bisa mengingat setiap luka yang pernah menyayat hatiku dan karenanya aku bisa sampai di pencapaian ini.

Mau tak mau, aku harus mengikis topeng sampai aku bisa melihat aku yang sebenarnya. Supaya aku dapat menjadi aku. 

Aku memang belum hebat seperti kalian yang sudah berpasangan, berjalan sampai negeri orang, atau berstatus pegawai tetap. Namun, apa aku butuh semua itu? 

Rasanya hidupku yang biasa saja ini lebih menyenangkan dari foto-foto aestetik yang kalian pajang di sosial media. Tawaku lebih lepas setelah topengku terlepas. Terlebih tawaku yang tak ada unsur pura-pura ini lebih renyah di telinga ketimbang tawa sumbang yang kalian umbar.

Aku sudah cukup dengan semua yang aku miliki sekarang. Senyum Ibuk di setiap video call, tawa khas Bapak dan semua permintaan aneh bin randomnya, pertanyaan seputar lowongan dari adikku yang pertama, serta jawaban singkat dari si bungsu di setiap chat dariku.

Semua yang ku punya sekarang, lebih dari cukup untuk aku yang sekarang. 

Sabtu, 26 November 2022 0 comments

untuk kita yang tak tahu sedang menunggu apa.

Aku selalu menarik napas dalam ketika duduk bersama dengan kamu seperti saat ini. Dinginnya hujan di luar, tak membuat api dalam hati ini padam. Semua yang melayang di kepala, tetap seperti itu adanya.

Kisah tak sengaja ini, pernah menjadi sesuatu yang aku impikan. Cerita ini sempat singgah di mimpiku beribu malam yang lalu. Sampai akhirnya, kisah ini benar terwujud dan kamu menjadi cerita yang esok akan kukenang walaupun pahit ketika diingat.

Kita hanya duduk bersama sampai hari ini. Tak bercengkerama atau bercerita. Sehingga kita tak pernah saling dekat. Walau lama kita duduk bersama, aku tak tahu isi kepalamu, tak tahu maksudmu, dan tetap tak saling kenal.

Tujuan kita saat ini sama namun kita tak seirama. Banyak cara untuk kita sampai namun kita memilih duduk dan diam menunggu. Konyol memang disaat yang lain bisa bergerak bersama, kita malah duduk saling menunggu tanpa tahu apa yang dinanti.

“Bisakah kita memulainya sekarang?” Pertanyaan itu yang selalu muncul di kepala tapi aku selalu tak berani mengatakannya. Sampai kering dan terisi kembali sumurku, kita masih duduk diam di sini dan tak saling mengenal.
 
;