Rabu, 04 Agustus 2021 0 comments

Lovesick Bear : Novel Usang Yang Belum Bertemu Jodoh

 
Lovesick Bear
Mau ngenalin sama Lovesick Bear, novel yang sudah lama tamat di wattpad tapi sampai sekarang belum ketemu jodoh penerbitnya. Maklumlah, anget-anget tai ayam carinya. Sempet kepikiran buat self publish tapi ya gitulah, masih terkendala banyak hal. Mulai belum tahu banyak soal penerbit yang kira-kira bisa buat ngelahirin ini anak pertama, biaya, sampai mikirnya emang ada yang minat ya sama novel buatan aku. Kayak blog ini juga nggak yakin, ga ada yang baca juga. Modal pengen aja semuanya. Tapi nggak papa, semua pasti ada hikmahnya. Kalau bukan sekarang, mungkin nanti kapan-kapan.

Entah gimana dulu bisa betah nulis ini novel. Walau lama juga sih kayaknya dulu bisa tamat. Sempet naik turun juga moodnya buat nulis. Kalau nggak salah inget, dulu nulis ini pas awal-awal jadi pengangguran sampe dapet kerja juga sempet ngelanjutin ini novel. Inget banget dulu naik Trans Jakarta sambil ngetik ini di wattpad, udah banyak yang diketik ternyata nggak nge-save. Amsyong emang dulu.

Ide awalnya sih udah lama di kepala. Soal cinta-cintaan anak SMA-lah ya. Walau umur udah tuwir tapi kepala masih muda kok ini. Masih berasa baru kemaren bolos ke koperasi sekolah, dicari-cari guru BK gara-gara rok yang kependekan juga sering. Pokoknya kocaklah jaman sekolah dulu.

Cover Lovesick Bear versi Wattpad
Kurang lebih covernya begini pas di wattpad. Jaman 2019, belum kenal baik sama canva. Masih pake aplikasi phonto, trus apalah gitu. Picture juga main comot internet aja dulu mah. Nggak kayak sekarang yang mikir keras, boleh nggak kayak gini. 

Blurbnya kurang lebih begini sih, Luna Lugo dihantui penggemar rahasia yang awalnya membuat ia senang bukan main. Namun pesan cinta berantai yang didapatnya dari Lovesick Bear malah menjadi bumerang yang menyerang dirinya perlahan. Ia ditemani oleh Tinah dan Abel serta pacar tampannya Bobbie, mencoba menyingkap fakta siapa sebenarnya Lovesick Bear. Berhasilkah mereka? Siapa sebenarnya Lovesick Bear dan apa yang dia inginkan?

Lovesick Bear

Lengkapnya silakan cek sendiri di wattpad atau klik di sini.



0 comments

mantra untuk menerawang masa yang akan datang.

Hari yang ditunggu telah tiba, setelah penantian yang cukup lama. Sehabis pandemi yang menghalangi. Setelah telah kesempatan ketiga terlewati. Kini waktunya memilih (lagi). Kembali ke pelukan yang berulang kali mencampakan atau perpindah ke lain hati. Semua masih jadi dipertimbangkan. Semua masih bisa berubah. Semoga kali ini ia tak mengulangi kesalahannya, doaku. Namun tetap saja hatiku kembali meragu. Sejuta pertanyaan kembali menyeruak.
Semakin banyak usia, semakin banyak pertimbangan.

Timbangan usang kembali aku gunakan. Komparasi mulai mengalkulasi. Pilih Dia, tapi aku pernah tersakiti. Pilih Kamu, aku belum kenal betul. Dia dan Kamu sama-sama menjanjikan ketenangan tapi apakah yakin aku tak akan bosan di tengah jalan nanti? Usiaku sudah tak muda lagi, bukan waktunya untuk bermain hati.

Bukan saatku untuk terus pindah berkala rumah ke rumah. Sudah banyak pelajaran yang aku ambil. Ini saatnya untuk mengamalkannya. Tapi masih banyak tapi yang menghalangi. Banyak berkas yang perlu ditilik lagi.

Tak ada yang tahu bagaimana masa yang akan datang nanti. Apa memang karena tujuanku yang belum tiba atau mungkin semesta yang tak memberiku sedikit iba? Kalau begitu, kapan aku bisa tertidur tenang tanpa memikirkan tentang apa yang akan datang? Sudah tubuh lelah dengan rutinitas sekarang, kepala pun penat dengan yang hari esok.

Apa ada mantra untuk menerawang masa yang akan datang? Kalau ada, beritahu aku secepatnya agar aku bisa melihat esok hari dengan harapan bukan dengan asa yang terus patah seperti yang terjadi selama ini.

Semua yang disemogakan belum terealisasi kan. Daftar panjang yang entah sampai seberapa panjangnya belum bisa dituai. Bisakah semesta memberi secuil kisi-kisi untuk melegakan napas ini sejenak, menyempatkan memuja pencipta tiap Minggu namun belum ada jawaban untuk ini semua justru yang kutemukan adalah makna. Belum ada mantra yang ampuh untuk mengatasinya.

Sumur asaku semakin mengering. Makna yang kutemukan tak mempan untuk mengisinya. Semesta yang semakin sakit semakin sulit untuk dibisiki apalagi merevisi masa yang akan datang. Ia minta tanpa perantara untuk menemuinya namun masih banyak gemuruh yang mengganggu janji temunya.

Apapun yang terjadi aku akan terus mencari mantra milikku sendiri untuk menerawang masa yang akan datang yang mungkin, bisa jadi lebih baik dari rancangan semesta.

Sabtu, 10 Juli 2021 0 comments

pada akhirnya semua akan berakhir.

Entah kenapa tiba-tiba aku ingin menceritakan hal ini yang seharusnya membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum juga selesai, aku malah ingin segera memulai meluapkan ini semua. Cerita tentang aku yang mulai muak dengan banyak perubahan besar akibat pandemi ini. Bagaimana tidak, dua tahun ini mobilitas banyak dibatasi, semua terasa sulit.

Semua berawal dari bulan Maret 2020 lalu. Ketika virus ini masuk ke Indonesia, aku masih bekerja sebagai karyawan swasta di salah satu kontraktor swasta. Kala itu aku ditempatkan di proyek pusat pembelanjaan yang aku yakin di tahun mendatang akan terkenal di Bintaro (kawasan yang lumayan keren buatku anak kampung). 

Akhir bulan Maret 2020, salah satu staff mendadak divonis Covid-19. Beliau tinggal di Depok, bolak-balik Bintaro setiap hari terlebih sebagai staff lapangan beliau sering lembur untuk storing. Kami masih positif thinking. Apalagi kasus di Indonesia masih belum mencapai angka ribuan. 

Kebetulan beliau memiliki kakak kandung yang punya jabatan lumayan di kantor. Beberapa hari sebelum beliau sakit, kakak kandungnya menggelar hajatan untuk putrinya. Beberapa menteri yang biasa aku lihat di headline berita online atau televisi datang ke sana. Beberapa politikus pun juga hadir. Ternyata besan si Bapak, pejabat berbintang.

Berselang beberapa hari, badai itu datang. Kantor tiba-tiba di lockdown. Kami tak boleh datang ke kantor selama seminggu. Beberapa orang dipilih menjadi koordinator yang bertugas memantau kesehatan kami setiap hari melalui beberapa grup yang baru dibuat.

Usai dua seminggu lockdown, kegiatan kami di kantor terasa dibatasi. Pantry bukan lagi tempat untuk bercengkerama di kala jam istirahat tiba.  Ruang rapat, di bawah pohon rindang, dan di ruangan lain dihiasi banyak tanda silang berwarna merah. Hand sanitizer menggantung di setiap pintu. Tak ada lagi senyum ramah yang mengembang tiap kali berpapasan dengan orang lain. Semua tertutup oleh masker. Semua telah berubah.

Mendekati bulan puasa, semua orang mendownload zoom. Aplikasi yang baru aku kenal ketika pandemi ini datang. Dari beberapa tempat yang berbeda, kami berkumpul dibantu dengan zoom. Berita duka kembali menyebar. Keuangan perusahaan mulai goyah, beberapa orang perlu dirumahkan.

Bulan puasa tiba, aku waktu itu tidak termasuk dalam seratus yang dirumahkan. Aku berangkat ke kantor tak seperti biasa. Banyak pembatasan yang mulai dilakukan pemerintah. Jam operasional KRL yang biasanya hingga tengah malam, kita hanya sampai sore. Aku harus berangkat pagi, menyelesaikan semua pekerjaan yang terasa lebih berat karena pekerjaan yang biasanya dikerjakan beberapa orang dikerjakan sendirian, pulang berlarian dengan jam agar bisa sampai kost-an dengan KRL. Beberapa kali aku terlambat sedikit, aku harus mengeluarkan uang lebih untuk naik moda transportasi lain yang ratusan kali lipat biayanya.

Suasana kantor yang tadinya ramai, berubah total. Satu ruangan berukuran 10x10 meter yang biasanya hiruk pikuk dipenuhi banyak orang, terasa longgar waktu itu. Aku duduk di depan komputer sendirian hari Senin dan Kamis. Teman satu divisiku datang di hari yang berbeda. Jadwal telah diatur agar ruangan tak penuh sesak.

Kalau aku tak beradaptasi, aku yang mati.

Satu-satunya yang paling membuat aku sedih, tahun 2020 jadi tahun pertama aku tak menikmati opor ayam buatan ibuku. Tak ada pilihan, kalau aku tak beradaptasi, aku yang mati. Mau tak mau, suka tak suka, aku harus menjalani itu semua.

Maret 2021, aku pulang ke kampung halaman. Banyak hal yang jadi pertimbangan kala itu. Aku resign, menyelesaikan semua pekerjaan yang bisa aku kerjakan dengan segala keterbatasanku. Kantor sudah berjalan seperti biasa kala itu. Sedikit sesal datang karena banyak ilmu yang bisa aku pelajari di sana tapi aku tak mau lebaran tahun lalu terulang kembali.

Firasat itu benar terjadi. Pandemi kembali meluas tahun ini. Lebaran kami tahun ini pun tak lengkap karena kakak perempuanku "terjebak" di tanah rantau. Kami juga mulai menerima kenyataan itu meski pahit.

Hari-hari ini banyak berita tak enak yang datang. Tak usah jauh disana, tetangga belakang rumah sudah menjadi korban yang meregang nyawa. Berbeda beberapa gang, teman SDku juga telah berpulang. Belum lagi banyak teman yang menjadi penyintas. Aku jadi banyak-banyak bersyukur. Di tengah pandemi, Tuhan baik sekali. Sulit mencari penghasilan dan pekerjaan tapi masih ada kesehatan yang sekarang harganya mahal sekali.

Pada akhirnya semua akan mati.

Tak ada satupun cerita yang tak memiliki akhir, kan? Semoga ini mempunyai akhir yang indah meski entah kapan. Tak usah peduli konspirasi yang diberitakan, tak usah peduli berita hoax yang beredar, cukup patuhi protokol kesehatan, PPKM, dan banyak berdoa agar kita tetap aman jiwa dan raga. Semoga Tuhan dan semesta selalu menjaga dan bersama dengan kita selalu.

 
;