mantra untuk menerawang masa yang akan datang.

Hari yang ditunggu telah tiba, setelah penantian yang cukup lama. Sehabis pandemi yang menghalangi. Setelah telah kesempatan ketiga terlewati. Kini waktunya memilih (lagi). Kembali ke pelukan yang berulang kali mencampakan atau perpindah ke lain hati. Semua masih jadi dipertimbangkan. Semua masih bisa berubah. Semoga kali ini ia tak mengulangi kesalahannya, doaku. Namun tetap saja hatiku kembali meragu. Sejuta pertanyaan kembali menyeruak.
Semakin banyak usia, semakin banyak pertimbangan.

Timbangan usang kembali aku gunakan. Komparasi mulai mengalkulasi. Pilih Dia, tapi aku pernah tersakiti. Pilih Kamu, aku belum kenal betul. Dia dan Kamu sama-sama menjanjikan ketenangan tapi apakah yakin aku tak akan bosan di tengah jalan nanti? Usiaku sudah tak muda lagi, bukan waktunya untuk bermain hati.

Bukan saatku untuk terus pindah berkala rumah ke rumah. Sudah banyak pelajaran yang aku ambil. Ini saatnya untuk mengamalkannya. Tapi masih banyak tapi yang menghalangi. Banyak berkas yang perlu ditilik lagi.

Tak ada yang tahu bagaimana masa yang akan datang nanti. Apa memang karena tujuanku yang belum tiba atau mungkin semesta yang tak memberiku sedikit iba? Kalau begitu, kapan aku bisa tertidur tenang tanpa memikirkan tentang apa yang akan datang? Sudah tubuh lelah dengan rutinitas sekarang, kepala pun penat dengan yang hari esok.

Apa ada mantra untuk menerawang masa yang akan datang? Kalau ada, beritahu aku secepatnya agar aku bisa melihat esok hari dengan harapan bukan dengan asa yang terus patah seperti yang terjadi selama ini.

Semua yang disemogakan belum terealisasi kan. Daftar panjang yang entah sampai seberapa panjangnya belum bisa dituai. Bisakah semesta memberi secuil kisi-kisi untuk melegakan napas ini sejenak, menyempatkan memuja pencipta tiap Minggu namun belum ada jawaban untuk ini semua justru yang kutemukan adalah makna. Belum ada mantra yang ampuh untuk mengatasinya.

Sumur asaku semakin mengering. Makna yang kutemukan tak mempan untuk mengisinya. Semesta yang semakin sakit semakin sulit untuk dibisiki apalagi merevisi masa yang akan datang. Ia minta tanpa perantara untuk menemuinya namun masih banyak gemuruh yang mengganggu janji temunya.

Apapun yang terjadi aku akan terus mencari mantra milikku sendiri untuk menerawang masa yang akan datang yang mungkin, bisa jadi lebih baik dari rancangan semesta.

Copyright © catatan sudarnowati. Designed by OddThemes