Senin, 28 Juni 2021 0 comments

hujan di siang hari.

Segumpal rindu untuk dia yang tak bisa aku miliki yang aku luapkan menjadi rangkaian kata di siang hari dan dihiasi dengan rintik hujan nan sendu namun romantis. Semoga dirimu diberi secercah kepekaan untuk mengetahui rinduku ini.

Hujan di siang hari mengantarkanku pada kenangan kita. Bukan kenangan indah yang pernah aku lewati bersamamu namun kenangan kuat yang dapat membuat aku bahagia mengenangmu. Mustahil kau mengerti tentang kenangan ini. Ku pikir hanya aku seorang yang memilikinya.

Inilah yang menjadi sebab aku tak terlalu suka hujan di siang hari. Ini sama dengan bom waktu bagiku. Seolah menghitung mundur kematianku. Aku akan segera meledak. Hancur menjadi serpihan karena tak mampu menahan rinduku padamu.

Hujan di siang hari seolah memaksaku mengingat kenangan yang ingin kulupakan. Kenangan yang sebenarnya ingin ku kubur ke dalam benakku. Kenangan tentang cinta yang tak pernah terucap. Tentang cinta yang tak boleh diungkapkan.

Siapalah aku ini. Aku hanyalah wanita biasa. Aku hanyalah butiran gula yang telah larut di tengah lautan. Tak dapat kau lihat dan tak dapat kau rasakan. Tak apa itu terjadi padaku karena itu kesalahanku. Kesalahanku pernah mencintaimu. Kesalahanku bertemu denganmu.

Aku tak kasat mata. Tak pernah kau lihat atau bahkan tak pernah sekalipun kau melirikku. Aku masih ingat jelas senyummu. Senyum tulus yang bukan milikku. Senyum bahagia yang bukan untukku.

Hujan di siang hari belum reda. Sama dengan rinduku padamu yang tak pernah reda. Pernah aku menyebut namamu dalam doaku. Tapi tak pernah ingin untuk Tuhan mengijinkan mengabulkannya. Aku hanya dapat memendam rasa ini selamanya. Apabila Tuhan memberiku kesempatan, aku akan melewatkannya.

Aku tahu siapa aku ini. Aku tahu diri. Meski sakit ini aku rasakan. Aku tak dapat menjadi cinta seperti yang kau dambakan. Aku harap hujan ini segera berhenti. Sehingga aku bisa berhenti mengenangmu. Berhenti merindukan yang bukan milikku.

Kamu tahu, dulu aku sering melihatmu. Walaupun aku melihatmu dari jauh, aku senang. Setidaknya aku tahu kalau kamu baik - baik saja. Kadang aku ingin bangun dari mimpi ini. Aku ingin bangun dan melupakan mimpi ini. Aku sadar, ini bukan mimpi. Ini kenyataan pahit yang harus aku lewati.

Hujan di siang hari, tolong berhentilah. Tolong berhenti agar aku juga bisa berhenti mengimajinasikan sesuatu yang tak akan pernah terjadi dalam hidupku. Tolong berhentilah agar aku dapat melihat pelangi. Supaya hidupku lebih cerah daripada sebelumnya.

Rintik hujan siang ini seakan mengiring ingatanku kepada kenangan bersamamu. Kamu, seseorang yang tak akan pernah kumiliki.

Waktu seakan berhenti berputar. Pikiranku penuh sesak tentang kamu. Sebentar lagi aku akan meledak. Semua isi yang ada didalamnya akan keluar. Berceceran memenuhi ruang kamar ini. Berhamburan mengotori dinding, lantai, dan langit - langit kamar.

Sebentar lagi waktunya. Aku sudah merasakan perlawanannya. Ketika hati dan pikiran ini tak sejalan. Sudah tak tahu lagi mau kemana.

Hujan mengeluarkan kembali kejadian - kejadian diluar logika. Menawarkan kembali janji surgawi yang sempat terucap. Berjalan lurus kedepan atau bermanuver menghindarimu. Itu bukanlah pilihan melainkan keharusanku untuk berputar arah. Kita berbeda arah. Kita berbeda dunia. Kita berbeda dimensi.

Kita bukan pelangi yang indah dengan perbedaannya. Kamu di langit, aku di bumi. Kamu utara dan aku selatan. Kamu terang sedangkan aku gelap.

Ini bukan takdir. Ini sebuah kecelakaan yang tak sengaja terjadi. Tak seperti cerita film yang berakhir romantis, kisah kita ini sebuah tragedi.
Sebuah kisah yang akhirnya masih menjadi misteri.

Aku tak ingin mengakhirinya. Aku akan sedih dan air mataku akan bercucuran bila tau akhir cerita ini. Dugaanku belum sepenuhnya benar. Tapi apa yang bisa aku perbuat.

Kita adalah dua arah. Kita dua arah yang berbeda. Dua arah yang berlawanan. Kita dua arah yang tak berpotensi untuk bertemu kembali. Kita bukan seperti dua sisi di mata uang. Kita rumit. Dua sisi mata uang bertolak belakang namun tak dapat terpisah. Kita beriringan pun tidak. Kita memang seharusnya terpisah. Itulah jalan yang terbaik.

Hujan kembali membangkitkan kenangan yang sudah terkubur sebelumnya. Kenangan seperti zombie yang hidup kembali dengan cara yang menakutkan namun menghantui. Ingin rasanya menguburnya kembali. Tapi apa dayaku. Aku tak punya apapun untuk menggali lubangnya. Tanganku kosong.

Aku tak punya cara agar kenangan itu tak menghantuiku lagi. Aku sudah habis akal. Otakku penuh dengan kamu dan hatiku penuh dengan rasa rindu padamu. Sungguh aku ingin mengakhirinya. Namun aku bisa apa. Lelah hati ini merasakannya.

Ribuan rintik hujan jatuh ke tanah, sama rasanya seperti ribuan rindu yang merangsek kedasar kalbu. Hujan sengaja mengajakku bernostalgia tentang kamu. Hujan membuat rasa sakit ini timbul kembali. Aku ingin mati rasa agar aku tak merasakan sakitnya. Aku ingin melupakannya.

Nb. Tulisan lama yang coba diarsipkan dengan lebih baik lagi di sini. edisikuligalau01 (RSN,25.04.2018)

0 comments

untuk pahlawan yang namanya tersemat di ujung namaku.

Bapak,
Jarak menjadi musuh kita sedari dulu. Masa sekolah dasarku sempat menjadi tak berwarna karena ketidakhadiranmu. Tak ada foto bersamamu seusai aku pentas menari. Tak ada riuh tepuk tanganmu selepas aku beratraksi. Tak ada gemuruh tawamu menonton aku berlomba baca puisi. Tak ada pelukmu usai aku bersedih kalah lomba menulis. Bahkan tak ada tanda tanganmu di buku raporku.

Hadirmu hanya kudapat melalui secarik surat yang rutin yang kau kirim di akhir bulan. Lewat secarik surat, kita mengenal dan memahami perasaan. Lewat tulisan, kau menyampaikan kasih yang ingin kau curahkan. Bukan hanya petuah yang menggurui tetapi juga obrolan yang menghangatkan. Lewat sana pula aku merasakan kasihmu yang nyata.

Bapak,
Aku tahu jarak menghalangi pelukmu untukku. Namun jarak tak cukup kuat untuk menghalangimu menjadi pahlawanku. Bapak tetap jadi lelaki pertama di dunia yang mencintaiku. Hingga menjadi yang utama dalam doaku.

Puluhan surat yang aku kumpulkan kemarin telah menggunung. Sama tingginya dengan rinduku yang tak terbendung. Beruntungnya kita, jaman semakin maju. Kabar tertulis berubah melalui tutur. Walau aku hanya dapat membayangkan rupamu, aku bahagia bisa mendengar suaramu.

Bapak,
Terima kasih buat pengorbananmu yang luar biasa. Lewat tulisan-tulisanmu, aku bisa menjadi aku yang sekarang. Walau ragamu fana namun kasihmu nyata.

Jumat, 25 Juni 2021 0 comments

tenggelam dalam kubangan saliva.

Lagi. Aku yang tak bisa berenang memberanikan diri untuk menyebrangi kubangan. Bodoh? Tidak, aku menyiapkan segalanya diam – diam selama ini. Langkah ini harus aku ambil, karena ini satu – satunya jalur evakuasiku.

Bahtera telah ku bangun. Jalur pelayaran telah ku pelajari, ilmu navigasi ku kuasai, astronomi ku gali, meteorologi ku lalap habis. Bahan bakarku penuh, mampu mengelilingi Bumi tiga kali. Badanku sudah mandi dan wangi. Siap berangkat esok dini hari.

Entah badai atau ombak yang meluluh – lantahkan bahteraku. Tiang – tiang layar roboh, lambungnya berlubang, dan kemudinya menghilang. Aku pun heran melihatnya. Padahal ombak tak sedang gaduh juga langit tak sedang berduka. Kukira persiapanku ini sudah seribu persen, benar – benar siap dan aku pasti bisa melalui hari yang kunanti dengan bahagia.

Para pesaing telah pergi mengarungi kubangan. Perahu penuh warna, topeng, kostum, dan ambisi jadi andalan. Sepoi angin membantu laju kapal serta riak ombak riuh menyambut kepergian mereka. Tinggal samar buritan yang terlihat dari tepi pantai.

Aku?

Aku duduk menepi di bawah pohon kepala, menggali pasir tak seberapa dalam untuk mengubur asaku yang memang sudah menipis. Tak ada air mata, tak ada tangis ataupun kecewa, yang tersisa hanya tanya.

Apa semua yang sudah aku korbankan percuma? Apa perjuanganku masih kurang? Apa aku memang tak pantas untuk bersaing dengan mereka? Dan apa – apa yang lain mulai tumbuh di kepala.

Sayangnya aku tak punya banyak waktu untuk menjawab itu semua. Aku malah akan menyesal kalau sama sekali tak kembali mencoba. Aku akan semakin terpuruk bila sama sekali tak berusaha hari ini.

Aku sadar aku tak mungkin berenang, membuat kembali bahtera akan makan waktu, aku tak bisa menyamai langkah mereka. Aku kalah.

Sepoi angin mengeringkan air mata. Aku sadar, aku belum sepenuhnya kalah. Aku tak ingin esok hariku terjerat sesal. Kepalaku masih kosong tak tahu mau apa. Teori yang kupelajari entah hilang kemana.

Aku mulai berjalan mengejar kapal. Ya, aku berjalan. Langkah demi langkah aku lalui. Sesekali tanganku mengenangkan pelukan ke pelampung yang kupeluk. Namun, tiba-tiba aku tersadar.

Aku tak ingin esok hariku terjerat sesal.

Aku yang bodoh baru tersadar kalau aku hanya melalui kubangan yang tak seberapa dalam. Cekungan yang berisi penuh saliva. Overthinkingku selama ini percuma. Tanya perlahan terhapus berganti tawa. Bodoh, mana mungkin aku tenggelam dalam kubangan saliva.

 
;