Senin, 28 Juni 2021 0 comments

untuk pahlawan yang namanya tersemat di ujung namaku.

Bapak,
Jarak menjadi musuh kita sedari dulu. Masa sekolah dasarku sempat menjadi tak berwarna karena ketidakhadiranmu. Tak ada foto bersamamu seusai aku pentas menari. Tak ada riuh tepuk tanganmu selepas aku beratraksi. Tak ada gemuruh tawamu menonton aku berlomba baca puisi. Tak ada pelukmu usai aku bersedih kalah lomba menulis. Bahkan tak ada tanda tanganmu di buku raporku.

Hadirmu hanya kudapat melalui secarik surat yang rutin yang kau kirim di akhir bulan. Lewat secarik surat, kita mengenal dan memahami perasaan. Lewat tulisan, kau menyampaikan kasih yang ingin kau curahkan. Bukan hanya petuah yang menggurui tetapi juga obrolan yang menghangatkan. Lewat sana pula aku merasakan kasihmu yang nyata.

Bapak,
Aku tahu jarak menghalangi pelukmu untukku. Namun jarak tak cukup kuat untuk menghalangimu menjadi pahlawanku. Bapak tetap jadi lelaki pertama di dunia yang mencintaiku. Hingga menjadi yang utama dalam doaku.

Puluhan surat yang aku kumpulkan kemarin telah menggunung. Sama tingginya dengan rinduku yang tak terbendung. Beruntungnya kita, jaman semakin maju. Kabar tertulis berubah melalui tutur. Walau aku hanya dapat membayangkan rupamu, aku bahagia bisa mendengar suaramu.

Bapak,
Terima kasih buat pengorbananmu yang luar biasa. Lewat tulisan-tulisanmu, aku bisa menjadi aku yang sekarang. Walau ragamu fana namun kasihmu nyata.

Jumat, 25 Juni 2021 0 comments

tenggelam dalam kubangan saliva.

Lagi. Aku yang tak bisa berenang memberanikan diri untuk menyebrangi kubangan. Bodoh? Tidak, aku menyiapkan segalanya diam – diam selama ini. Langkah ini harus aku ambil, karena ini satu – satunya jalur evakuasiku.

Bahtera telah ku bangun. Jalur pelayaran telah ku pelajari, ilmu navigasi ku kuasai, astronomi ku gali, meteorologi ku lalap habis. Bahan bakarku penuh, mampu mengelilingi Bumi tiga kali. Badanku sudah mandi dan wangi. Siap berangkat esok dini hari.

Entah badai atau ombak yang meluluh – lantahkan bahteraku. Tiang – tiang layar roboh, lambungnya berlubang, dan kemudinya menghilang. Aku pun heran melihatnya. Padahal ombak tak sedang gaduh juga langit tak sedang berduka. Kukira persiapanku ini sudah seribu persen, benar – benar siap dan aku pasti bisa melalui hari yang kunanti dengan bahagia.

Para pesaing telah pergi mengarungi kubangan. Perahu penuh warna, topeng, kostum, dan ambisi jadi andalan. Sepoi angin membantu laju kapal serta riak ombak riuh menyambut kepergian mereka. Tinggal samar buritan yang terlihat dari tepi pantai.

Aku?

Aku duduk menepi di bawah pohon kepala, menggali pasir tak seberapa dalam untuk mengubur asaku yang memang sudah menipis. Tak ada air mata, tak ada tangis ataupun kecewa, yang tersisa hanya tanya.

Apa semua yang sudah aku korbankan percuma? Apa perjuanganku masih kurang? Apa aku memang tak pantas untuk bersaing dengan mereka? Dan apa – apa yang lain mulai tumbuh di kepala.

Sayangnya aku tak punya banyak waktu untuk menjawab itu semua. Aku malah akan menyesal kalau sama sekali tak kembali mencoba. Aku akan semakin terpuruk bila sama sekali tak berusaha hari ini.

Aku sadar aku tak mungkin berenang, membuat kembali bahtera akan makan waktu, aku tak bisa menyamai langkah mereka. Aku kalah.

Sepoi angin mengeringkan air mata. Aku sadar, aku belum sepenuhnya kalah. Aku tak ingin esok hariku terjerat sesal. Kepalaku masih kosong tak tahu mau apa. Teori yang kupelajari entah hilang kemana.

Aku mulai berjalan mengejar kapal. Ya, aku berjalan. Langkah demi langkah aku lalui. Sesekali tanganku mengenangkan pelukan ke pelampung yang kupeluk. Namun, tiba-tiba aku tersadar.

Aku tak ingin esok hariku terjerat sesal.

Aku yang bodoh baru tersadar kalau aku hanya melalui kubangan yang tak seberapa dalam. Cekungan yang berisi penuh saliva. Overthinkingku selama ini percuma. Tanya perlahan terhapus berganti tawa. Bodoh, mana mungkin aku tenggelam dalam kubangan saliva.

0 comments

Latar Belakang Masalah

Perjalanan panjang tanpa tujuan ini akan mulai aku tulis satu-persatu agar kelak ketika kakiku tak bisa melangkah lagi, aku tidak akan mengumpat pada semesta dan pencipta, agar aku bersyukur kalau kakiku ini sudah pernah melangkah sejauh itu. Aku akan coba mengingat, kemana saja kakiku pernah berjalan. Sambil diiringi Lagu Pejalan dari Sisir Tanah, salah satu lagu yang mendorong aku untuk sesegera mungkin keluar dari zona yang aku "anggap" nyaman kala itu. Mari bersamaku menjejaki semesta yang terlalu indah ini.


Sudah lama kaki ini tak merasakan riak-riak ombak dan desiran pasir. Perjalanan selama tiga puluh menit menemukan akhir yang bahagia. Berangkat pukul setengah enam pagi dari penginapan di daerah UPN, pukul tujuh lebih sepuluh menit kami tiba di pantai 

Meski sebentar, paling tidak rindu yang menggebu sudah terbayar tuntas.
 
;