Kamis, 24 Juni 2021 0 comments

perindu hujan.

Mendung menghiasi atap langit. Menyiapkan tenaganya untuk kembali merindu. Berbenah untuk melakukan ritualnya kembali. Membangkitkan kenangan masa lalu. Kenangan yang telah terkubur lama. Kenangan yang sepenuh daya dilupakan.

Orchestra alam dari Tuhan mulai terdengar. Rintik hujan seakan membacakan mantera. Mantera untuk menguatkan ingatan. Ingatan tentang kenangan dan rasa rindu yang mendalam untuk dirimu. Dirimu yang berada dipelukan orang lain.

Matahari enggan tersenyum. Senyumnya berubah menjadi tangis hujan karena mengenangmu kembali. Hujan turun ketika bumi membutuhkan. Namun hujan datang bersama kenangan itu. Apa aku butuh kenangan itu? Aku rasa tidak, kenangan itu menambah kepedihan hatiku. Menambah pahit dalam kehidupanku.

Hujan turun untuk menghijaukan bumi. Tapi apakah kenanganmu menghijaukanku? Tidak, kenangan bersamamu membuat hatiku semakin gersang. Rasa rindu dan kenangan bersamamu datang pergi seenaknya seperti hujan. Suara deru hujan seperti tabuhan gendang mengiringi perang batinku. Menambah keseruan dalam kemelut pertikaian yang berkecamuk.

Aku, kamu, dan Tuhan yang tahu. Yang lain hanyalah penonton saja. Mengikuti alur cerita yang disuguhkan. Semua kenikmatan dan kedamaian yang ditawarkan oleh rintik-rintik hujan seakan menyihir untuk sejenak mengingatmu. Mengingat kembali perjalanan cinta dua anak manusia yang dipertemukan oleh Penciptanya. Kisah yang usai sebelum dimulai.

Kisah satu cinta, melalui dua arah yang berlawanan. Merasakan sakitnya hati ketika turun hujan. Menjadi remah - remah yang tak ada artinya di dunia. Terbawa arus ke dalam jalur yang tidak benar ditemani derita cinta yang tak berakhir.

Keinginanku melupakanmu dan meninggalkan sudut gelap nan sepi berangsur meningkat. Menyelesaikan perang dingin antara hati dan pikiran. Menghentikan pertikaian memdambamu.

Aku ingin selesai. Menyelesaikan urusan hatiku bersamamu. Menutup buku yang belum sempat kutulis tentang kamu untuk seseorang yang lebih pantas aku puja.

Hati ini mulai menikmati sambutan berupa guyuran air hujan. Berharap air dapat menyadarkanku dari pengalaman bawah sadar. Hati dan pikiran ini mulai letih dirongrong oleh kenangan dan rasa rindu. Aku ingin berhenti.

Aku ingin menjadi pemuja hujan. Tersenyum mencumbu mendung. Berang menampar terik. Tenang ditikam oleh rintik hujan menyedihkan. Melebur dalam tarian air. Hangat direngkuh badai. Asyik menggoda gelegar petir. Menikmati kesejukan, jatuh dan larut dalam genangan. Menembang senandung peluruh lara.

Menghanyutkan kisah cinta. Merobohkan rasa rindu. Tempias hujan perlahan mengikis kenangan pahit. Mengugurkan namamu yang lama terpatri dalam batin.

Kini aku bermetamorfosa menjadi pluviophile, si pemuja hujan. Menunggu hujan yang dapat menggugurkan semua sakit akibat cinta dan membunuh kepahitan dalam jiwa. Semakin lebat hujan yang melanda, mengkokohkan hati ini berdiri.

Aku telah lama menunggu kesempatan ini. Tak akan aku lewatkan kali ini. Yang aku rindukan hanyalah pelangi dan petrichor. Kejutan seusai hujan di siang hari.

Menanti fenomena dispersi cahaya. Rangkaian warna perwakilan dari harapan yang sejajar membentuk garis lengkung senyuman tak berujung. Menunggu detik - detik terlepasnya petrichor. Aroma penghanyut pikiran bawah sadar, lembut dan sederhana.


Nb. Tulisan lama yang coba diarsipkan lebih baik disini. (edisikuligalau02 Sby, 13.10.18)


Selasa, 18 Mei 2021 0 comments

yuk, bisa yuk!

Lets start our new journey.

Kita restart dari awal. Nggak ada kata terlambat kok. Justru harusnya malu kalo kita nggak mulai lagi. Malu kalau sudah umur segini nggak mau belajar.

Dunia bodo amat sama perasaan kamu. Dunia nggak peduli kamu lagi sedih, seneng, rapuh, atau cemas. Mereka nggak mau tahu dan mereka nggak perlu tahu.

Cukup simpan rapat, istirahat, dan besok belajar lebih kuat lagi.

Jangan ulang kesalahan yang sama. Stop menggantungkan kebahagiaan kamu ke orang lain. Toh, nantinya kamu bakal kehilangan lagi. Entah besok, lusa, atau nggak tahu kapan. Tinggal tunggu waktunya aja.

Kita berjuang dari awal lagi ya. Kalo di dunia ini nggak ada yang bisa ngertiin kamu, kamu masih punya kamu sendiri. Hibur diri kamu. Semangatin lagi. Kita jalan lagi. Kita ulang lagi pokoknya. Kamu itu nggak sampai disini aja kapasitasnya. Buktiin ke diri kamu kalau kamu bisa. Nggak usah dengerin orang lain. Kamu nggak perlu validasi mereka.

Ayok, kamu bisa. Rehat sebentar lagi aja ya. Habis itu kita lari lagi. Kita kejar mimpi kita yang udah lama kita lupain. Yuk, bisa yuk!

Minggu, 14 Maret 2021 0 comments

lihat saja nanti.


Lihat saja nanti, kalimat yang sampai detik ini masih terngiang baik intonasi maupun ekspresi dari seseorang yang melontarkannya kepadaku secara langsung seperti baru terjadi kemarin. Itu juga yang melecut semangatku untuk terus menjadi yang lebih baik sampai hari ini seolah hidup hanya untuk pembuktian. Sampai dititik dimana aku merasa belum bisa memenuhi itu semua, aku baru tahu kalau semua harus dikolaborasikan kebahagiaan yang kita inginkan versi kita sendiri.

bagian 1. aku, si-biasa saja.

Aku kembali dikepung tembok cemas malam ini. Entah sudah berapa ratus domba yang melompat tapi kepala masih enggan diajak rehat. Padahal besok schedule padat yang pasti akan membuat mulut mengumpat.

"Lihat saja nanti!" kalimat yang seolah baru saja terjadi hingga ekspresi dan intonasi orang tersebut masih membekas. Dia memang bukan siapa-siapa buatku, tak ada kontribusi dalam proses dewasaku yang ternyata melelahkan ini tapi lewat ucapannya hari itu, sedikit banyak memberi motivasi untukku agar menjadi yang lebih baik daripada dirinya.

Kepalaku seakan diseret masuk kedasar pensieve. Ingatan masa lalu yang selama ini beku, mengantarkan aku sampai disini. Titik dimana aku baru sadar kalau hidupku ini cuma berisi pembuktian diri.

Aku masih bocah kala itu. Hidup santai, penuh haha-hihi, kepala belum ada isi, pokoknya yang nomor satu urusan duniawi. Sampai tibalah penyihir itu menceritakan semua anaknya yang bisa sukses dengan jalannya sendiri sedangkan aku, si-biasa-saja ini belum tahu bagaimana nasibnya besok sampai terucaplah mantra tersebut.

Setelah bertahun, si-biasa-saja mulai sadar. Mantra itu bukan sekedar kata-kata biasa. Kalimat itu pertanda kalau si-biasa-saja cuma secuil dari rakyat jelata yang masa depannya tidak ada apa-apa.

Komparasi yang tak seimbang terngiang di kepala dan si-biasa-saja tumbuh di dalamnya. Takdir tertulis kalau si-biasa-saja tidak menjadi apa-apa. Bukannya merendah tapi memang tidak ada yang bisa ditinggikan.

Kegelapan mulai menyelimuti. Dunia haha-hihi kini berubah sunyi. Hanya pertanyaan dari kepala yang menemani. Apa sekarang aku sudah sampai di "nanti"? Apa itu kutukan dari mantra ini? Kutukan itu menyiksa perlahan dan tak termaafkan. Dimulai dari jiwa dan kalau terabaikan akan menjalar hingga kemana-mana.

Semua orang memajang kesuksesan versinya masing-masing. Sedangkan aku, si-biasa-saja, hanya bisa memandangi dan mengagumi milik yang lainnya saja. Aku tak tahu apa yang sebenarnya mereka alami tapi yang pasti mereka semua kini sukses dengan jalan ceritanya masing-masing.

Malam kembali datang, mataku enggan terpejam meski ragaku merindukan kedamaian. Semua kenikmatan yang orang lain rasakan tumpah ke kepalaku dan membanjirinya. Satu persatu pertanyaan muncul sampai aku kewalahan menjawabnya.

Banyak kenapa bertebaran di kepala. Banyak tanya yang tak menemukan jawab. Banyak koma yang enggan bertemu titik. Banyak harap yang ingkar.

Mari kembali kuperkenalkan, aku, si-biasa-saja.

bagian 2. semua hanyalah komedi.

Hidup merupakan sebuah perjalanan panjang untuk mengenal semesta, Pencipta, dan kita. Lucunya, bagian paling rumit untuk dikenal adalah kita. Bagaimana tidak, kita bisa dengan mudah berkenalan dengan semesta lewat sains, Pencipta lewat agama, namun bagaimana kita bisa tidak kenal dengan diri kita? Padahal dalam kondisi apapun selama kehidupan, kita tetap bersama kita, tak pernah berpisah barang se-senti.

Terus jawabannya apa?

Jawabannya tak perlu sampai pergi ke ujung langit dengan seorang anak yang tampan dan pemberani. Semua sudah ada serta tak jauh dari pertanyaannya. Ya, ada di dalam diri kita sendiri dan hanya kita sendiri yang dapat menjawabnya.

Waktu?

Ia hanya akan terus bergerak, mengamati seberapa kuat kita bertahan, dan menertawakan ketika kita menyerah.

Kok lucu. Ya begitulah hidup yang kalau diibaratkan buku, halamannya tak terhingga, tebalnya jangan ditanya, belum selesai satu halaman sudah nambah tiga halaman.



 
;