Mendung menghiasi atap langit. Menyiapkan tenaganya untuk kembali merindu. Berbenah untuk melakukan ritualnya kembali. Membangkitkan kenangan masa lalu. Kenangan yang telah terkubur lama. Kenangan yang sepenuh daya dilupakan.
Orchestra alam dari Tuhan mulai terdengar. Rintik hujan seakan membacakan mantera. Mantera untuk menguatkan ingatan. Ingatan tentang kenangan dan rasa rindu yang mendalam untuk dirimu. Dirimu yang berada dipelukan orang lain.
Matahari enggan tersenyum. Senyumnya berubah menjadi tangis hujan karena mengenangmu kembali. Hujan turun ketika bumi membutuhkan. Namun hujan datang bersama kenangan itu. Apa aku butuh kenangan itu? Aku rasa tidak, kenangan itu menambah kepedihan hatiku. Menambah pahit dalam kehidupanku.
Hujan turun untuk menghijaukan bumi. Tapi apakah kenanganmu menghijaukanku? Tidak, kenangan bersamamu membuat hatiku semakin gersang. Rasa rindu dan kenangan bersamamu datang pergi seenaknya seperti hujan. Suara deru hujan seperti tabuhan gendang mengiringi perang batinku. Menambah keseruan dalam kemelut pertikaian yang berkecamuk.
Aku, kamu, dan Tuhan yang tahu. Yang lain hanyalah penonton saja. Mengikuti alur cerita yang disuguhkan. Semua kenikmatan dan kedamaian yang ditawarkan oleh rintik-rintik hujan seakan menyihir untuk sejenak mengingatmu. Mengingat kembali perjalanan cinta dua anak manusia yang dipertemukan oleh Penciptanya. Kisah yang usai sebelum dimulai.
Kisah satu cinta, melalui dua arah yang berlawanan. Merasakan sakitnya hati ketika turun hujan. Menjadi remah - remah yang tak ada artinya di dunia. Terbawa arus ke dalam jalur yang tidak benar ditemani derita cinta yang tak berakhir.
Keinginanku melupakanmu dan meninggalkan sudut gelap nan sepi berangsur meningkat. Menyelesaikan perang dingin antara hati dan pikiran. Menghentikan pertikaian memdambamu.
Aku ingin selesai. Menyelesaikan urusan hatiku bersamamu. Menutup buku yang belum sempat kutulis tentang kamu untuk seseorang yang lebih pantas aku puja.
Hati ini mulai menikmati sambutan berupa guyuran air hujan. Berharap air dapat menyadarkanku dari pengalaman bawah sadar. Hati dan pikiran ini mulai letih dirongrong oleh kenangan dan rasa rindu. Aku ingin berhenti.
Aku ingin menjadi pemuja hujan. Tersenyum mencumbu mendung. Berang menampar terik. Tenang ditikam oleh rintik hujan menyedihkan. Melebur dalam tarian air. Hangat direngkuh badai. Asyik menggoda gelegar petir. Menikmati kesejukan, jatuh dan larut dalam genangan. Menembang senandung peluruh lara.
Menghanyutkan kisah cinta. Merobohkan rasa rindu. Tempias hujan perlahan mengikis kenangan pahit. Mengugurkan namamu yang lama terpatri dalam batin.
Kini aku bermetamorfosa menjadi pluviophile, si pemuja hujan. Menunggu hujan yang dapat menggugurkan semua sakit akibat cinta dan membunuh kepahitan dalam jiwa. Semakin lebat hujan yang melanda, mengkokohkan hati ini berdiri.
Aku telah lama menunggu kesempatan ini. Tak akan aku lewatkan kali ini. Yang aku rindukan hanyalah pelangi dan petrichor. Kejutan seusai hujan di siang hari.
Menanti fenomena dispersi cahaya. Rangkaian warna perwakilan dari harapan yang sejajar membentuk garis lengkung senyuman tak berujung. Menunggu detik - detik terlepasnya petrichor. Aroma penghanyut pikiran bawah sadar, lembut dan sederhana.
Nb. Tulisan lama yang coba diarsipkan lebih baik disini. (edisikuligalau02 Sby, 13.10.18)

