Jumat, 18 Oktober 2019 0 comments

Renjani dan Psikotik Senja


Langit sedang murka, warna darah yang menakutkan tanpa ampun mencabik keindahan langit biru. Siluet mesra dua insan tergambar jelas di bibir pantai. Keduanya saling peluk, cium, dan bergenggaman tangan. Adu tawa dan senyum mereka pertontonkan kepada senja.

Hati bahagia Renjani jauh dari ekspektasi. Cekung di kedua pipi chubbynya berubah menjadi nestapa walau cincin emas bermata putih tetap menghias jari manisnya.

"Diam sejenak agar aku bisa menikmati sore bersamamu. Jangan bergerak barang sejengkalpun! Tetaplah disana!"

Cairan bening mengalir dari sudut-sudut netra Renjani. Bibirnya bungkam. Seluruh tubuhnya beku. Tiap rintih senyap malah menjadi bumerang baginya.

"Kehadiranku tak pernah ada yang mengharapkan. Termasuk kamu."

Suara parau seorang pria ditambah bebunyian lonceng yang menguar dari balik pintu merah di sudut ruangan menambah kengerian. Birunya langit mendadak sirna. Hangatnya matahari perlahan pudar. Sejuk angin berubah dingin.

"Renjani, kau berjanji padaku akan menjemputku ketika malam menjelang, memelukku hingga pulas kala itu."

Hening. Hembusan angin meriuhkan setiap helai rambut Renjani. Bibirnya dibungkam perasaannya yang palsu. Hatinya lama terpasung oleh dunia.

"Kau harus menepati janjimu, Renjani. Senja hampir selesai, mulailah hitung mundur waktumu!"

Tawa riuh menggema di seisi ruangan bernuansa putih yang sempit. Di dalamnya terdapat sebuah kasur yang berada di tengah ruangan, tempat Renjani terbaring, sebuah meja berkaki besi yang akan berderit ketika tergeser walau semili, di atasnya segelas air yang tersisa setengah, sebuah pintu merah di ujung ruang, dan sebuah jendela bertirai kemerahan dimana pria itu bersandar menatap nanar mentari.

Renjani meringkuk memeluk lututnya di atas kasur. Tubuhnya bergetar dan gemerutuk gigi beradu semakin kencang. Hitungannya hampir selesai. Dadanya semakin sesak ditagih janji.

"Danar." bisik Renjani lirih.

Sekuat tenaga ia membuka kedua matanya. Jemarinya berusaha menjangkau pria tersebut. "Maaf." tambah Renjani. Kali ini suaranya hampir tak terdengar.

Pria tersebut membalik badannya. Tubuhnya yang bermandi cahaya keemasan senja, semakin mendekati tubuh Renjani. Dingin sikapnya bahkan tak lebih beku dari perlakuan Renjani padanya di masa lampau.

Tangan Danar, menyibakan rambut Renjani perlahan. Ia menyeka pipi Renjani lembut. Tak lupa ia bernostalgia dengan kebiasaan lamanya. Ia membelai ujung kepala Renjani dengan penuh kasih.

"Sudah terlambat, sayangku Renjani. Semua kata maafmu sudah terlambat." bisik Danar dengan suara paraunya, "Aku telah kau antar pulang. Sewinduku merindumu percuma. Kamu yang aku anggap rumah tetap menjadi anganku."

Renjani terisak. Kini semakin menjadi. Ia ditampar dengan kenyataan yang ada. Pahatan kecewa di hati Danar terlanjur dalam. Ruang hatinya sudah tertutup.

"Sayangku, Renjani." Danar kembali mengusap pipi Renjani dengan punggung tangannya. "Cerdik siasatmu curangi perasaanku. Sandiwaramu harus segera berakhir seperti ceritaku ini, sayangku."

Renjani bersikeras melepas cekikan tangan Danar. Teriakannya terasa percuma. Waktunya memang harus selesai karena sisa dosa yang harus ia tanggung.

"Renjani, Renjani?" seorang wanita berpakaian serba putih masuk ke ruangan tersebut. Di belakangnya dibuntuti oleh seorang lagi dengan stetoskop di lehernya. Seorang memeriksa selang infus Renjani yang menjuntai dan seorang lagi membenarkan posisi tidur Renjani.

"Tepat pukul 17.17 kesadaran pasien menurun lebih buruk dari kemarin. Tambah dosis penenangnya!" suruh salah seorang wanita ke wanita yang satunya sebelum mereka berdua meninggalkan Renjani sendirian.

Minggu, 08 September 2019 0 comments

Menua itu Harus!

Beberapa malam lagi, genap usiaku seperempat abad. Sebuah pencapaian yang lumayan membuatku kalang kabut. Duh dek, semakin uzur Hayati. Nggak kerasa banget udah dikasih hidup selama itu sama Tuhan. Rasanya kayak kemaren baru lahir.

Quarter Life Crisis? Jelas! Bagaimana tidak, diusiaku yang sudah seharusnya mampu berdiri di kaki sendiri, aku masih saja begini. Berlindung di bawah ketek orang tua. Mau tak mau, suka tak suka yang namanya manusia masih bernapas selalu membandingkan hidupnya sama orang lain, ditambah kemajuan teknologi yang bikin kita semakin gampang mengintip gaya hidup orang lain.

Tarik napas panjang. Huft. Undangan nikahan silih berganti datang dan sekarang sudah diselingi sama undangan ulang tahun bocah-bocah di McD. Nggak ngerti lagi, sudah berapa banyak temen yang sudah punya anak. Sedangkan aku. Jomblo binti pengangguran.

Menganggur boleh, goblok jangan!

Sejumput kutipan dari influencer yang akhir-akhir ini sering aku stalking instagram-nya itu seperti menamparku. Bener juga, sih. Apa salahnya sementara ini menganggur. Toh, juga masih berusaha untuk mendapatkan tempat terbaik di tengah hiruk-pikuk dunia kerja yang fana.

Cinta tak perlu di cari karena cinta akan datang sendiri di waktu dan orang yang tepat.

Perkara jodoh, biar Tuhan yang jawab. Hayati siap kapan saja, kalau itu sudah kehendak yang Kuasa. Toh, Hayati juga berusaha memantaskan diri setiap harinya. Jujur sama diri sendiri, lebih mengenal dan mencintai diri sendiri pula. Pasti Dia akan memberi dia yang sepadan dengan Hayati. Ahay...

Senin, 15 Juli 2019 0 comments

Berkawan Dengan Kegagalan

Kalau kau belum tahu rasanya penolakan, itu seperti luka menganga akibat hunusan pedang. Perih apabila terkena sesuatu namun apabila sudah sembuh, jangan kau tanya lagi rasanya, aku sudah lupa.

Kegagalan adalah masa dimana kelemahan kita diuji, ditekan, dan ditempa. Tak ada pilihan lain selain menerima kenyataan, mengumpulkan sisa tenaga untuk kembali bangkit dari keterpurukan, dan menghadapinya.

Titik terendah seumur hidupku, terjadi belum lama ini. Resign dari pekerjaan, tak lekas mendapat kerja kembali. Belum bisa melanjutkan sekolah yang sudah tertunda.

Tapi dari sana, aku banyak belajar untuk bersabar. Because at the right time, He will make it happen. Tuhan punya cara sendiri dalam bekerja, jauh dari pikiran kita, dan setiap rencana-Nya tak ada yang kebetulan.

Tetap berusaha, ternyata rencana Tuhan indah pada waktu-Nya. Aku bisa melanjutkan studi di tempat yang tidak sama sekali aku duga sebelumnya. Kesempatan baru, kenalan baru, pengalaman mahal lainnya, aku dapatkan.

Expect for the best and preparing for the worst. 

Kita boleh minta pengharapan apapun tetapi jangan lupa untuk mempersiapkan mental untuk kemungkinan terburuk yang bisa terjadi kapan saja. Kalau hati kita siap, semua akan kita hadapi dengan gagah bahkan kita akan mempersilakan kegagalan itu melangkah terlebih dahulu.

Kini, aku jauh lebih kuat dari hari kemarin. Berfikiran lebih positif dalam segala keadaan. Bahkan tanpa disadari terkadang aku menantang kegagalan itu sendiri, "Silakan datang kepadaku. Aku akan makan engkau dan menjadikanmu lompatanku untuk lebih besar lagi. Wait me for the next battle!"

Sounds like adrenaline junkie, right? Gimana dengan kalian? Sudah siap untuk melawan kegagalan?
 
;