Jumat, 21 Juni 2019 0 comments

Ingatan Masa Lampau


Aku mengeluarkan kardus coklat besar yang berdebu dari dalam gudang. Kukeluarkan satu persatu album dan frame foto yang dulu pernah menghiasi rumah lamaku. Aku mengusapnya dengan kain lap yang sudah siapkan sebelumnya. Lembar demi lembar aku buka dan kubersihkan dari lekatnya debu yang menempel. Aku berhenti pada sebuah foto. Kupandangi lekat - lekat gambaran yang ada dalam foto.

Tanpa sadar, air mataku menetes. Teringat kembali rentetat cerita dibalik foto lama yang aku pandangi. Foto seorang wanita yang sangat aku sayangi. Wanita tangguh yang selalu pasang badan membelaku dan rela memberikan seluruh kehidupannya untuk diriku. Ingatanku kembali ke masa kecilku dulu. Masa kecil yang bisa dibilang bahagia, untukku yang dulu belum tahu apa - apa.

Aku masih ingat betul masa kecilku dulu. Ketika Ibuk mengasuh kami, keempat anaknya sendirian. Tak pernah aku merasa kekurangan kasih sayang dari dia. Aku merasa dia seperti Ibuk, Bapak, dan sahabatku. Aku tenggelam dalam pikiran, mengenang masa lalu.

Pedih yang menempa mental, masa lalu yang terus mengejar, dan cita - cita yang belum sempat digapai menjadi secuil pengorbanan yang dilakukan oleh seorang Ibuk. Apa itu cinta, kasih sayang, dan pengorbanan, itu adalah makanan sehari - hari dan pelajaran hidup yang kita dapat dari seseorang yang disebut Ibuk.

Sebelum berangkat sekolah harus sarapan. Biar kalau belajar, perutnya ndak kosong, ndak bunyi krucuk - krucuk. —Ibuk.

"Nok, bangun sudah jam setengah enam! Sekolah ndak?" Ibuk menggerak - gerakkan badanku dan memanggil panggilan sayangnya padaku yang sedang berkelana dalam dunia mimpi.

Aku segera terbangun dari dunia mimpi. Aku menggosok - gosok kedua mataku, membersihkan kotoran mata yang menumpuk di ujung mata, meraba - raba meja yang sengaja diletakkan di sebelah tempat tidurku, mencari kacamata.

"Buk, bajuku mana?" teriakku dari dalam kamar mandi.

"Sek, bentar nok." dengan tergopoh - gopoh, Ibuk membawakan baju seragam merah putih milikku. Aku lekas mandi dan berganti baju. Kedua adikku sedang asyik menonton film kartun sambil menunggu giliran.

Semarang,  tengah tahun 2002.

Aku Dinar. Tahun ini aku naik kelas dua sekolah dasar. Aku anak kedua dari empat bersaudara. Kakakku, Mbak Eka, tahun ini naik kelas enam, Arya TKB dan adik bungsuku Nabil baru masuk TKA. Aku dan saudaraku sekolah di tempat yang sama. Sekolah milik yayasan Katolik yang mempunyai nama cukup baik di Semarang. Bapak sengaja memilih sekolah swasta untuk dasar pendidikan kami karena menurutnya, sekolah swasta lebih memiliki fasilitas, budaya jujur, dan kedisplinan di bandingkan sekokah milik pemerintah.

Ibuk selalu bangun lebih pagi daripada kami. Ia menyetrika baju kami, memasak nasi, mengecheck buku bawaan kami, dan membersihkan rumah. Ibuk yang mengerjakan semuanya sendiri. Tanpa pernah sekalipun ia mengeluh.

Kami selalu mandi pagi bergantian, sesuai urutan, dimulai dari Mbak Eka, aku, Arya, dan yang terakhir Nabil. Setelah Mbak Eka dan aku selesai ganti baju, Ibuk selalu meminta bantuan untuk membeli lauk sarapan.

"Mbak, ke Supri ya! Beli mendoan lima sama sayur rambak dua ribu. Ini mangkoknya. Hati - hati nyebrangnya, tengok kanan kiri dulu, jangan lari!" Kalimat ini selalu terulang setiap pagi, kami sebenarnya sudah hafal tapi tak apalah jika Ibuk mengulangnya kembali. Mungkin ia takut kalau kami lupa.

Jarak warung nasi memang tak jauh, kami hanya harus melewati dua rumah dan menyeberangi jalan raya yang tak terlalu ramai di pagi hari. Penjual nasi sudah lama berjualan di situ. Seorang wanita renta dan anak perempuannya yang sudah mengenal kami.

Sesampainya kami di rumah, Arya dan Nabil dibantu dengan Ibuk, sudah siap dengan baju seragamnya. Kemudian, Ibuk membagikan piring plastik milik kami masing-masing, mengambilkan jatah nasi dan lauknya. Kami makan bersama - sama. Inilah ritual sarapan kami sebelum sekolah. Selalu bertemu dengan nasi, mendoan, dan kecap. Tak pernah seharipun kami melewatkannya, meskipun hari libur sekolah.

"Mbak, nanti pulang sendiri ya! Ini uang buat naik bis, ini buat sangu." Ibuk memberikan uang saku untuk Mbak Eka. Hanya 1000 rupiah untuk jajan dan 200 rupiah untuk ongkos naik bis. Sedangkan aku dan kedua adikku belum, kami sekolah sampai jam sepuluh pagi, berbeda dengan Mbak Eka yang sampai siang jam 12.30.

Ibuk sudah melatih Mbak Eka pulang sendiri dengan naik bis sejak kelas 5 SD. Sampai sekarang kalau Ibuk tak sempat menjemput, ia dapat pulang sendiri. Jarak sekolah kami tidak terlalu jauh, namun jalannya terlalu ramai bila harus jalan kaki seorang diri.

Usai sarapan, kami memakai sepatu masing-masing, kami membawa tas kami untuk segera berangkat ke sekolah. Tak lupa kami mencium punggung tangan Ibuk dan berpamitan untuk berangkat ke sekolah. Kami berjalan ke rumah tetangga, persis di sebelah kanan rumah.

Kami selalu berangkat ke sekolah bersama dengan naik mobil milik tetangga. Kebetulan kami masuk ke sekolah yang sama dan anak bungsu tetangga, satu angkatan denganku. Pak Budi dan Tante Yuli, sepasang suami istri keturunan Tionghoa yang pindah ke sebelah rumah kami sejak tahun 1997.

Rumah kami terletak pada perkampungan biasa namun mayoritas yang menghuni adalah keturunan Tionghoa. Itu sudah menjadi hal yang biasa di Semarang. Kota dengan berbagai perbedaan yang masih memiliki rasa toleransi tinggi.

"Lin, ayok cepet! Sudah ditunggu Dinar ini lho." teriak Tante Yuli memanggil putri bungsunya, sembari memanaskan mesin mobil.

"Sebentar ya, Ferlin masih sarapan. Kamu sudah sarapan, kok jam segini sudah siap?" tanyanya padaku. Aku hanya mengganggukkan kepala, mengiyakan pertanyaan dari Tante Yuli.

"Bangun jam berapa kamu kalo pagi?"

"Jam setengah enam." balasku.

"Lha, Nabil juga?" Tante Yuli kini bertanya kepada adikku yang paling kecil, Nabil. Nabil mengganggukan kepalanya sambil tertawa - tawa menggoda Arya kakaknya.

Tante Yuli masuk ke dalam rumah memanggil kedua putrinya untuk segera bersiap. Tak lama, mereka keluar untuk berangkat ke sekolah. Priska, anak pertama Tante Yuli masih belum memakai sepatu dan ia membawa setangkup roti tawar dilapisi coklat untuk sarapan.

"Cicik lama tadi, Mah. Masak belum nyiapin buku." Ferlin yang sudah duduk di kursi depan penumpang, mengadu pada Mamanya yang sedang berusaha mengeluarkan mobilnya dari halaman rumah.

Priska yang ada diluar mobil tak mendengar, ia masih asyik mengunyah sarapannya. Mbak Atik, asisten rumah tangga mereka, membawakan tas, sepatu, prakarya milik Priska dari dalam rumah dan memasukkannya kedalam mobil. Usai persiapan Priska dan Ferlin selesai, kami segera masuk ke dalam mobil. Berangkat ke sekolah untuk menuntut ilmu.

Priska dan Ferlin, sungguh anak yang beruntung. Pak Budi seorang pemilik apotek di daerah Pasar Bulu Semarang sedangkan istrinya, Tante Yuli, seorang karyawati bank swasta. Mereka hidup lumayan berkecukupan sehingga dapat membayar upah dua orang asisten rumah tangga. Mbok Yah, bertugas untuk memasak dan membersihkan rumah, serta Mbak Atik, yang memiliki tugas untuk mencuci dan mengurus Ferlin dan Priska.

Sepanjang perjalanan ke sekolah, kami selalu dicekoki lagu-lagu Westlife. Boy band terkenal yang berasal dari Irlandia. Tante Yuli memutar CD album Coast to Coast dan Westlife album pertamanya di tape yang terpasang di mobil.

Mulai dari I Have A Dream, Up Town Girl, Seasons In The Sun, Soledad, More Than Words, dan yang menjadi lagu favorit kami My Love, kami menghapalnya. Tak jarang kami menyanyikan lagunya bersama - sama, disepanjang jalan ke sekolah. Memori itu masih terpatri dalam otakku. Lagu - lagu hits pada zamannya.

Kami selalu menikmati perjalanan kami ke sekolah. Jalanan yang sepi dan lenggang pada tahun itu, tidak seperti sekarang. Cuma butuh waktu 20 menit untuk membelah Kota Semarang. Perjalanan singkat dan menyenangkan ketika berangkat sekolah.

Entah mengapa tiba - tiba aku kembali mengenang masa kecilku yang memorable. Masa dimana kami berempat dan Ibuk bersama. Masa dimana kami hanya mengenal Bapak lewat secarik surat di akhir bulan.


Senin, 17 Juni 2019 0 comments

Hari Esok Lebih Baik

Pergumulan, kepahitan, kecewa, putus asa, dan kesedihan merongrong kalbu ini. Entah mengapa, pikiran-pikiran itu sekelebat datang tanpa pertanda, merangsek hingga tembus ke dada yang berjubel dengan rasa sesal dan membaur menjadi satu dengan kebencian.

Tubuhku terbaring di atas ranjang kamar, namun jiwaku berpetualang entah kemana. Ia pergi membawa serta kegelapannya, berkelana mencari kenyamanan. 

Tanpa ekspresi aku menatap langit-langit kamar. Sesekali aku mengedipkan mata, membasahi permukaan kornea yang kering karena cahaya lampu. Hening. Tak ada satupun suara yang terdengar.

Perlahan cairan transparan meleleh beranak sungai. Bibirku terkatup tak sanggup berbincang. Suara-suara berisik di kepala mulai berteriak dan berkecamuk. Mereka menyatakan kehendaknya bersamaan. Tak sanggup lagi aku melerai mereka.

Tak terasa sudah berhari-hari aku melakukan ritual itu. Ritual yang membuatku lebih damai walau tanpa beraktivitas apapun. Lapar, dahaga, kantuk, silih berganti mendatangi namun tak ada daya yang dapat aku lakukan. Aku lebih memilih seperti ini, berdiam diri tanpa melakukan apapun.

Seperti masa pupa pada kupu-kupu, di pagi yang cerah aku kembali mengumpulkan semangat hidup. Serpihan itu aku tata kembali menjadi satu kesatuan yang utuh. Aku paham, itu semua percuma. Aku kembali menggarami, samudra yang luas. Aku melakukan sesuatu yang aku pikir akan berakhir dengan sia-sia dan penyesalan. Apalah dayaku, tak seorangpun yang aku percaya untuk sekedar berbagi beban.

Semesta ini tak punya nyali dan niat untuk membiarkan aku bahagia meski sedetik saja sehingga aku menciptakan bahagiaku sendiri.

Aku harus lebih baik dari hari kemarin. Berani bermetamorfosa layaknya seekor ulat menjadi kupu-kupu, menunjukan kepada dunia siapa sebenarnya aku. Percaya kalau sebagai manusia, hidup kita berharga.

Aku ingin menutup lembaran hitam dalam perjalanan hidupku ini. Membuka lembaran baru, dan menorehkan warna-warna yang sebelumnya takut untuk aku gunakan. Sudah, cukupkan saja. Aku mau bergerak! Banyak hal yang belum aku ketahui, banyak tempat yang belum aku tuju, banyak pengalaman yang belum aku rasa.

Kalau semuanya kamu nilai dengan angka, apa dirimu bisa menilai berapa banyak nikmat yang sudah Tuhanmu beri sampai detik ini sehingga kamu masih sanggup untuk hitung-hitungan?

Tak ada kalkulator di dunia ini yang sanggup menghitung kebaikan Tuhan yang diberikan kepadaku. Aku hanya perlu membuka mata, hati, dan telinga. Lebih banyak bersyukur dan peka, maka berkat Tuhan yang berlimpah. Rasa gagal, sesal, benci, dan semua hal negatif akan luntur dengan sendirinya perlahan dan semoga hari esok lebih baik.
0 comments

Belakang Kantin


Disanalah tempat persembunyian rindu yang lama terpasung.

Duduklah sejenak, menemaniku menghabiskan sepotong rindu sisa semalam.

Semilir angin, menyejukan tubuhku yang sedang duduk sendiri. Aku bersandar di batang pohon johar yang tengah meranggas, menatap nanar tulisan putih yang menghiasi dinding belakang kantin. Seringkali, ku berusaha setengah mati untuk tidak memikirkan dirimu. Naas, semua upaya itu gagal. Kebanyakan aku membiarkan pikiranku untuk melupakan dirimu. Sedetik kemudian, aku menemukan sesuatu. Tulisan itu. Tiga kata bodoh, yang aku persembahkan untukmu kala itu.

"Kamu mau janji untuk tidak meninggalkan aku?" ucapku sembari berbaring di kedua kakimu, di bawah pohon yang sama.

Kamu tersenyum sangat manis kala itu. Membelai kepalaku dan berkata, "Kamu yang jangan pergi. Aku nggak mau senasib sama pohon ini, kesepian. Kamu yang harusnya berjanji."

Terdengar aneh, ketika seseorang yang sangat aku kenal berubah menjadi orang asing yang sama sekali tak mengenaliku.

Sosok tuan putri yang jatuh cinta pada pemuda desa yang miskin kini hilang. Hatinya telah berlabuh pada seorang pangeran tampan dari negeri seberang. Ia layak untuk mendapatkannya memang. Namun bagaimana keadaan pemuda desa itu?

"Tut...tut...tut..." selalu tak ada jawaban ketika aku menelponmu. Ribuan chat-pun tidak kau baca. Aku sampai tak tahu lagi, bagaimana caranya agar kau mau mengangkat telepon dariku.

 Sebagian dariku, menginginkan kehadiranmu kembali. Memelukmu, menggenggam tanganmu, dan memilikimu kembali. Tapi semua rasa itu hanya angan. Setiap aku melihat ke belakang, mengingat cinta tak selalu seperti apa yang dirasakan. Itu mudah untuk dilupakan dan itu bukan penyesalan. Kita punya alasan untuk mengakhirinya dan aku pastikan kisah itu tak akan pernah terulang sampai kapanpun.

Kembali ke awal, kita tak punya alasan untuk jatuh cinta. Kita hanya melakukannya, seperti air mengalir. Siang itu, aku berpapasan dengan dirimu di selasar kelas. Tanpa sapa, tanpa senyum, dan tanpa rasa. Hingga pada akhirnya, semesta membukakan jalan untuk kita. Pertemuan kita pun tak seindah kisah di layar kaca atau tak seromantis drama korea. Justru karena ulahmu, kepala sekolah menampar pipiku.

Setahun lalu, di siang yang tak terlalu terik, aku terbaring di bawah pohon yang sama ini. Kamu yang entah darimana datangnya, menghujamkan sebatang rokok hingga menyapa bibirku kemudian berlari dan menyaru dengan siswi lain di kantin. Dibelakangmu, datang tergopoh kepala sekolah dan tanpa aba-aba memberiku hadiah kecil.

Esoknya, tanpa tanda dirimu kembali dan memohon maaf padaku. Aku terpaku sejenak ketika itu. Ada sesuatu yang tak biasa dan tak pernah aku rasakan sebelumnya. Sorot matamu meluluhkan hatiku. Aku dapat melihat cinta dari sana. Aku merasa menemukan tujuan hidupku. Tanpa alasan, aku dan kamu menjadi kita.

Semua berjalan apa adanya, walau tak terucap kata cinta. Semua karena ada rasa. Jaka dan Riska, aku dan kamu, kita.

 Ketika cerita bodoh menjadi sesuatu yang lucu, obrolan tak penting yang mematikan waktu, hingga debat kusir yang tak berujung menjadi kebiasaan menyambut senja kita. Renyahnya suara tawamu, menjadi pengisi dayaku. Senyummu menjadi pengiring di setiap langkahku. Dinding belakang kantin dan pohon johar ini menjadi saksi bisu kisah asmara kita. Sepenggal cerita dalam hidupku yang akan aku kenang seumur hidup. Tak tahu bagaimana denganmu.

"Jaka!" panggilmu ketika mentari kembali bertemu dengan bumi. Masih sama di bawah pohon ini, aku memalingkan wajahku. Tak sanggup aku menyembunyikan sesal yang aku lakukan.

"Aku harus pergi. Ini pilihan terbaik dari semua pilihan yang terburuk." lanjutmu. Suaramu bergetar dan mungkin air mata mulai menggenangi wajah cantikmu. Aku masih tetap tak bergeming.

"Aku ..." kamu berhenti sejenak ketika hendak mengatakan tiga kata itu. Lembut jemarimu, menghapus air mata yang tak terasa berlinangan di kedua pipiku.

"Aku cinta kamu." Diakhiri dengan kecupan lembut bibirmu yang mendarat di keningku, kamu pergi meninggalkan aku.

Dan setelah semua diawali tanpa alasan, kini semua berakhir karena sejuta alasan. Itu bagus, maksudnya suatu hari aku akan menemukan seseorang yang akan membuat aku sulit mengatakan  sampai jumpa juga. Ingat, sebagian dariku masih merindukanmu dan menginginkan kamu kembali. Aku harap kamu menemukan cinta yang segala sesuatunya tak dapat kita lakukan seperti sekarang.

"Riska, aku dan kamu hanya sebagian kecil sepasang anak manusia yang tak sanggup melanjutkan cerita cintanya karena jurang usia yang terlampau jauh. Aku sadar, posisiku sebagai guru tak baik bila menjalin hubungan dengan muridnya. Terima kasih atas kisah yang singkat ini. Semoga hal baik menghampirimu dan tak ada lagi alasan yang mendatangi kisahmu selanjutnya."
 
;