Hari Esok Lebih Baik

Pergumulan, kepahitan, kecewa, putus asa, dan kesedihan merongrong kalbu ini. Entah mengapa, pikiran-pikiran itu sekelebat datang tanpa pertanda, merangsek hingga tembus ke dada yang berjubel dengan rasa sesal dan membaur menjadi satu dengan kebencian.

Tubuhku terbaring di atas ranjang kamar, namun jiwaku berpetualang entah kemana. Ia pergi membawa serta kegelapannya, berkelana mencari kenyamanan. 

Tanpa ekspresi aku menatap langit-langit kamar. Sesekali aku mengedipkan mata, membasahi permukaan kornea yang kering karena cahaya lampu. Hening. Tak ada satupun suara yang terdengar.

Perlahan cairan transparan meleleh beranak sungai. Bibirku terkatup tak sanggup berbincang. Suara-suara berisik di kepala mulai berteriak dan berkecamuk. Mereka menyatakan kehendaknya bersamaan. Tak sanggup lagi aku melerai mereka.

Tak terasa sudah berhari-hari aku melakukan ritual itu. Ritual yang membuatku lebih damai walau tanpa beraktivitas apapun. Lapar, dahaga, kantuk, silih berganti mendatangi namun tak ada daya yang dapat aku lakukan. Aku lebih memilih seperti ini, berdiam diri tanpa melakukan apapun.

Seperti masa pupa pada kupu-kupu, di pagi yang cerah aku kembali mengumpulkan semangat hidup. Serpihan itu aku tata kembali menjadi satu kesatuan yang utuh. Aku paham, itu semua percuma. Aku kembali menggarami, samudra yang luas. Aku melakukan sesuatu yang aku pikir akan berakhir dengan sia-sia dan penyesalan. Apalah dayaku, tak seorangpun yang aku percaya untuk sekedar berbagi beban.

Semesta ini tak punya nyali dan niat untuk membiarkan aku bahagia meski sedetik saja sehingga aku menciptakan bahagiaku sendiri.

Aku harus lebih baik dari hari kemarin. Berani bermetamorfosa layaknya seekor ulat menjadi kupu-kupu, menunjukan kepada dunia siapa sebenarnya aku. Percaya kalau sebagai manusia, hidup kita berharga.

Aku ingin menutup lembaran hitam dalam perjalanan hidupku ini. Membuka lembaran baru, dan menorehkan warna-warna yang sebelumnya takut untuk aku gunakan. Sudah, cukupkan saja. Aku mau bergerak! Banyak hal yang belum aku ketahui, banyak tempat yang belum aku tuju, banyak pengalaman yang belum aku rasa.

Kalau semuanya kamu nilai dengan angka, apa dirimu bisa menilai berapa banyak nikmat yang sudah Tuhanmu beri sampai detik ini sehingga kamu masih sanggup untuk hitung-hitungan?

Tak ada kalkulator di dunia ini yang sanggup menghitung kebaikan Tuhan yang diberikan kepadaku. Aku hanya perlu membuka mata, hati, dan telinga. Lebih banyak bersyukur dan peka, maka berkat Tuhan yang berlimpah. Rasa gagal, sesal, benci, dan semua hal negatif akan luntur dengan sendirinya perlahan dan semoga hari esok lebih baik.
Copyright © catatan sudarnowati. Designed by OddThemes