Senin, 17 Juni 2019 0 comments

Hari Esok Lebih Baik

Pergumulan, kepahitan, kecewa, putus asa, dan kesedihan merongrong kalbu ini. Entah mengapa, pikiran-pikiran itu sekelebat datang tanpa pertanda, merangsek hingga tembus ke dada yang berjubel dengan rasa sesal dan membaur menjadi satu dengan kebencian.

Tubuhku terbaring di atas ranjang kamar, namun jiwaku berpetualang entah kemana. Ia pergi membawa serta kegelapannya, berkelana mencari kenyamanan. 

Tanpa ekspresi aku menatap langit-langit kamar. Sesekali aku mengedipkan mata, membasahi permukaan kornea yang kering karena cahaya lampu. Hening. Tak ada satupun suara yang terdengar.

Perlahan cairan transparan meleleh beranak sungai. Bibirku terkatup tak sanggup berbincang. Suara-suara berisik di kepala mulai berteriak dan berkecamuk. Mereka menyatakan kehendaknya bersamaan. Tak sanggup lagi aku melerai mereka.

Tak terasa sudah berhari-hari aku melakukan ritual itu. Ritual yang membuatku lebih damai walau tanpa beraktivitas apapun. Lapar, dahaga, kantuk, silih berganti mendatangi namun tak ada daya yang dapat aku lakukan. Aku lebih memilih seperti ini, berdiam diri tanpa melakukan apapun.

Seperti masa pupa pada kupu-kupu, di pagi yang cerah aku kembali mengumpulkan semangat hidup. Serpihan itu aku tata kembali menjadi satu kesatuan yang utuh. Aku paham, itu semua percuma. Aku kembali menggarami, samudra yang luas. Aku melakukan sesuatu yang aku pikir akan berakhir dengan sia-sia dan penyesalan. Apalah dayaku, tak seorangpun yang aku percaya untuk sekedar berbagi beban.

Semesta ini tak punya nyali dan niat untuk membiarkan aku bahagia meski sedetik saja sehingga aku menciptakan bahagiaku sendiri.

Aku harus lebih baik dari hari kemarin. Berani bermetamorfosa layaknya seekor ulat menjadi kupu-kupu, menunjukan kepada dunia siapa sebenarnya aku. Percaya kalau sebagai manusia, hidup kita berharga.

Aku ingin menutup lembaran hitam dalam perjalanan hidupku ini. Membuka lembaran baru, dan menorehkan warna-warna yang sebelumnya takut untuk aku gunakan. Sudah, cukupkan saja. Aku mau bergerak! Banyak hal yang belum aku ketahui, banyak tempat yang belum aku tuju, banyak pengalaman yang belum aku rasa.

Kalau semuanya kamu nilai dengan angka, apa dirimu bisa menilai berapa banyak nikmat yang sudah Tuhanmu beri sampai detik ini sehingga kamu masih sanggup untuk hitung-hitungan?

Tak ada kalkulator di dunia ini yang sanggup menghitung kebaikan Tuhan yang diberikan kepadaku. Aku hanya perlu membuka mata, hati, dan telinga. Lebih banyak bersyukur dan peka, maka berkat Tuhan yang berlimpah. Rasa gagal, sesal, benci, dan semua hal negatif akan luntur dengan sendirinya perlahan dan semoga hari esok lebih baik.
0 comments

Belakang Kantin


Disanalah tempat persembunyian rindu yang lama terpasung.

Duduklah sejenak, menemaniku menghabiskan sepotong rindu sisa semalam.

Semilir angin, menyejukan tubuhku yang sedang duduk sendiri. Aku bersandar di batang pohon johar yang tengah meranggas, menatap nanar tulisan putih yang menghiasi dinding belakang kantin. Seringkali, ku berusaha setengah mati untuk tidak memikirkan dirimu. Naas, semua upaya itu gagal. Kebanyakan aku membiarkan pikiranku untuk melupakan dirimu. Sedetik kemudian, aku menemukan sesuatu. Tulisan itu. Tiga kata bodoh, yang aku persembahkan untukmu kala itu.

"Kamu mau janji untuk tidak meninggalkan aku?" ucapku sembari berbaring di kedua kakimu, di bawah pohon yang sama.

Kamu tersenyum sangat manis kala itu. Membelai kepalaku dan berkata, "Kamu yang jangan pergi. Aku nggak mau senasib sama pohon ini, kesepian. Kamu yang harusnya berjanji."

Terdengar aneh, ketika seseorang yang sangat aku kenal berubah menjadi orang asing yang sama sekali tak mengenaliku.

Sosok tuan putri yang jatuh cinta pada pemuda desa yang miskin kini hilang. Hatinya telah berlabuh pada seorang pangeran tampan dari negeri seberang. Ia layak untuk mendapatkannya memang. Namun bagaimana keadaan pemuda desa itu?

"Tut...tut...tut..." selalu tak ada jawaban ketika aku menelponmu. Ribuan chat-pun tidak kau baca. Aku sampai tak tahu lagi, bagaimana caranya agar kau mau mengangkat telepon dariku.

 Sebagian dariku, menginginkan kehadiranmu kembali. Memelukmu, menggenggam tanganmu, dan memilikimu kembali. Tapi semua rasa itu hanya angan. Setiap aku melihat ke belakang, mengingat cinta tak selalu seperti apa yang dirasakan. Itu mudah untuk dilupakan dan itu bukan penyesalan. Kita punya alasan untuk mengakhirinya dan aku pastikan kisah itu tak akan pernah terulang sampai kapanpun.

Kembali ke awal, kita tak punya alasan untuk jatuh cinta. Kita hanya melakukannya, seperti air mengalir. Siang itu, aku berpapasan dengan dirimu di selasar kelas. Tanpa sapa, tanpa senyum, dan tanpa rasa. Hingga pada akhirnya, semesta membukakan jalan untuk kita. Pertemuan kita pun tak seindah kisah di layar kaca atau tak seromantis drama korea. Justru karena ulahmu, kepala sekolah menampar pipiku.

Setahun lalu, di siang yang tak terlalu terik, aku terbaring di bawah pohon yang sama ini. Kamu yang entah darimana datangnya, menghujamkan sebatang rokok hingga menyapa bibirku kemudian berlari dan menyaru dengan siswi lain di kantin. Dibelakangmu, datang tergopoh kepala sekolah dan tanpa aba-aba memberiku hadiah kecil.

Esoknya, tanpa tanda dirimu kembali dan memohon maaf padaku. Aku terpaku sejenak ketika itu. Ada sesuatu yang tak biasa dan tak pernah aku rasakan sebelumnya. Sorot matamu meluluhkan hatiku. Aku dapat melihat cinta dari sana. Aku merasa menemukan tujuan hidupku. Tanpa alasan, aku dan kamu menjadi kita.

Semua berjalan apa adanya, walau tak terucap kata cinta. Semua karena ada rasa. Jaka dan Riska, aku dan kamu, kita.

 Ketika cerita bodoh menjadi sesuatu yang lucu, obrolan tak penting yang mematikan waktu, hingga debat kusir yang tak berujung menjadi kebiasaan menyambut senja kita. Renyahnya suara tawamu, menjadi pengisi dayaku. Senyummu menjadi pengiring di setiap langkahku. Dinding belakang kantin dan pohon johar ini menjadi saksi bisu kisah asmara kita. Sepenggal cerita dalam hidupku yang akan aku kenang seumur hidup. Tak tahu bagaimana denganmu.

"Jaka!" panggilmu ketika mentari kembali bertemu dengan bumi. Masih sama di bawah pohon ini, aku memalingkan wajahku. Tak sanggup aku menyembunyikan sesal yang aku lakukan.

"Aku harus pergi. Ini pilihan terbaik dari semua pilihan yang terburuk." lanjutmu. Suaramu bergetar dan mungkin air mata mulai menggenangi wajah cantikmu. Aku masih tetap tak bergeming.

"Aku ..." kamu berhenti sejenak ketika hendak mengatakan tiga kata itu. Lembut jemarimu, menghapus air mata yang tak terasa berlinangan di kedua pipiku.

"Aku cinta kamu." Diakhiri dengan kecupan lembut bibirmu yang mendarat di keningku, kamu pergi meninggalkan aku.

Dan setelah semua diawali tanpa alasan, kini semua berakhir karena sejuta alasan. Itu bagus, maksudnya suatu hari aku akan menemukan seseorang yang akan membuat aku sulit mengatakan  sampai jumpa juga. Ingat, sebagian dariku masih merindukanmu dan menginginkan kamu kembali. Aku harap kamu menemukan cinta yang segala sesuatunya tak dapat kita lakukan seperti sekarang.

"Riska, aku dan kamu hanya sebagian kecil sepasang anak manusia yang tak sanggup melanjutkan cerita cintanya karena jurang usia yang terlampau jauh. Aku sadar, posisiku sebagai guru tak baik bila menjalin hubungan dengan muridnya. Terima kasih atas kisah yang singkat ini. Semoga hal baik menghampirimu dan tak ada lagi alasan yang mendatangi kisahmu selanjutnya."
Jumat, 19 April 2019 0 comments

Jika Aku Lahir Kembali

Banyak permohonan aneh yang kadang terlontar dari hati. Tiap kali terucap, aku tak tahu sebenarnya apa yang aku maksud. Entah ini permintaan bodoh atau memang aku yang terlalu takut untuk melanjutkan hidup.

Terombang-ambing tak tentu arah dalam kehidupan yang fana. Apa yang ada di dalam hati, sering kali tak sejalan dengan apa yang terjadi. Akal sehat dan logika tak lagi seirama. Tak dapat lagi membedakan kehendak diri sendiri dengan kehendak duniawi.

Template.

Fase hidup manusia sekarang sama. Lahir, belajar, bekerja, berkembang biak. Tak salah memang. Tapi, apakah itu kehidupan yang benar-benar ingin dijalani?

Tak dapat dipungkiri kalau kita hidup sesuai dengan "apa kata orang". Orang disini bisa diartikan orang lain atau orang terdekat kita.

Buktinya?

Lahir, kita tak punya pilihan untuk terlahir dari rahim ibunya mana. Kaya atau miskin. Latar belakang budaya, suku, agama, atau ras yang mana. Kalo boleh memilih, saya juga mau. Cari ibu yang secantik Sophia Latjuba, sepandai Maudy Ayunda, sekeren Susi Pudjiatusti, atau anak Proklamator Megawati.

Next, setelah itu kita sekolah yang pasti pilihan orang tua. Bisa jadi sampai kuliah, jurusan dan institusi yang kita masuki bukan pilihan hati nurani kita. Orang terdekat kita kadang mendesain sedemikian ruoa sehingga jurusan yang dulu ia ambil itu merupakan satu-satunya jalan yang membuat masa depan kita terbentang indah. Berani jamin?

Usai itu, tempat kita kerja bisa jadi bekas perusahaan temoat orang terdekat kita bekerja. Nepotisme? Hal basi yang sudah semua orang tahu. Tak perlu ditutup-tutupi. Angin akan berbisik, memberitahu fakta yang sebenarnya.

Terakhir, berkembang biak. Ini menjadi rentetan peristiwa panjang yang memusingkan jiwa dan raga. Katanya, tidak hanya menyatukan dua kepala. Ini kejadian yang mempersatukan dua keluarga. Dua kepala saja sudab cukup pusing apalagi dua keluarga. Tak mungkinkan, kalau orang terdekatmu tak ambil alih atau tak mengkonfrontasi sama sekali. Ya, kecuali dirimu memang tak punya siapa-siapa. Tarzan aja punya, masa kalian enggak.

Mati muda, Lahir kembali

Lebih baik aku mati muda. Menghentikan hidupku di usia sekiranya aku masih sanggup untuk bersenang-senang, lebih menuruti keinginan hati daripada tuntutan dunia.

Sebelum semesta meredup dalam kegelapan dan bintang kehabisan energi untuk bersinar, aku ingin hidup mengikuti kata hatiku.

Masih banyak pilihan hidup yang belum sempat ataupun takut untuk aku ambil. Makanya, kalau Tuhan berbaik hati memberi kesempatan untuk hidup sekali lagi, aku ingin mencoba mengambil kesempatan itu. Mencoba pilihan lain yang semoat terlewatkan.

Kdr, 05.05.2019

 
;