Jika Aku Lahir Kembali

Banyak permohonan aneh yang kadang terlontar dari hati. Tiap kali terucap, aku tak tahu sebenarnya apa yang aku maksud. Entah ini permintaan bodoh atau memang aku yang terlalu takut untuk melanjutkan hidup.

Terombang-ambing tak tentu arah dalam kehidupan yang fana. Apa yang ada di dalam hati, sering kali tak sejalan dengan apa yang terjadi. Akal sehat dan logika tak lagi seirama. Tak dapat lagi membedakan kehendak diri sendiri dengan kehendak duniawi.

Template.

Fase hidup manusia sekarang sama. Lahir, belajar, bekerja, berkembang biak. Tak salah memang. Tapi, apakah itu kehidupan yang benar-benar ingin dijalani?

Tak dapat dipungkiri kalau kita hidup sesuai dengan "apa kata orang". Orang disini bisa diartikan orang lain atau orang terdekat kita.

Buktinya?

Lahir, kita tak punya pilihan untuk terlahir dari rahim ibunya mana. Kaya atau miskin. Latar belakang budaya, suku, agama, atau ras yang mana. Kalo boleh memilih, saya juga mau. Cari ibu yang secantik Sophia Latjuba, sepandai Maudy Ayunda, sekeren Susi Pudjiatusti, atau anak Proklamator Megawati.

Next, setelah itu kita sekolah yang pasti pilihan orang tua. Bisa jadi sampai kuliah, jurusan dan institusi yang kita masuki bukan pilihan hati nurani kita. Orang terdekat kita kadang mendesain sedemikian ruoa sehingga jurusan yang dulu ia ambil itu merupakan satu-satunya jalan yang membuat masa depan kita terbentang indah. Berani jamin?

Usai itu, tempat kita kerja bisa jadi bekas perusahaan temoat orang terdekat kita bekerja. Nepotisme? Hal basi yang sudah semua orang tahu. Tak perlu ditutup-tutupi. Angin akan berbisik, memberitahu fakta yang sebenarnya.

Terakhir, berkembang biak. Ini menjadi rentetan peristiwa panjang yang memusingkan jiwa dan raga. Katanya, tidak hanya menyatukan dua kepala. Ini kejadian yang mempersatukan dua keluarga. Dua kepala saja sudab cukup pusing apalagi dua keluarga. Tak mungkinkan, kalau orang terdekatmu tak ambil alih atau tak mengkonfrontasi sama sekali. Ya, kecuali dirimu memang tak punya siapa-siapa. Tarzan aja punya, masa kalian enggak.

Mati muda, Lahir kembali

Lebih baik aku mati muda. Menghentikan hidupku di usia sekiranya aku masih sanggup untuk bersenang-senang, lebih menuruti keinginan hati daripada tuntutan dunia.

Sebelum semesta meredup dalam kegelapan dan bintang kehabisan energi untuk bersinar, aku ingin hidup mengikuti kata hatiku.

Masih banyak pilihan hidup yang belum sempat ataupun takut untuk aku ambil. Makanya, kalau Tuhan berbaik hati memberi kesempatan untuk hidup sekali lagi, aku ingin mencoba mengambil kesempatan itu. Mencoba pilihan lain yang semoat terlewatkan.

Kdr, 05.05.2019

Copyright © catatan sudarnowati. Designed by OddThemes