Postingan

untuk kita yang tak tahu sedang menunggu apa.

Aku selalu menarik napas dalam ketika duduk bersama dengan kamu seperti saat ini. Dinginnya hujan di luar, tak membuat api dalam hati ini padam. Semua yang melayang di kepala, tetap seperti itu adanya. Kisah tak sengaja ini, pernah menjadi sesuatu yang aku impikan. Cerita ini sempat singgah di mimpiku beribu malam yang lalu. Sampai akhirnya, kisah ini benar terwujud dan kamu menjadi cerita yang esok akan kukenang walaupun pahit ketika diingat. Kita hanya duduk bersama sampai hari ini. Tak bercengkerama atau bercerita. Sehingga kita tak pernah saling dekat. Walau lama kita duduk bersama, aku tak tahu isi kepalamu, tak tahu maksudmu, dan tetap tak saling kenal. Tujuan kita saat ini sama namun kita tak seirama. Banyak cara untuk kita sampai namun kita memilih duduk dan diam menunggu. Konyol memang disaat yang lain bisa bergerak bersama, kita malah duduk saling menunggu tanpa tahu apa yang dinanti. “Bisakah kita memulainya sekarang?” Pertanyaan itu yang selalu muncul di kepala tapi aku sel...

sedikit keluh kesah malam ini.

Seharian moodku seperti wahana. Menjelang pagi aku sangat bersemangat menghadapi Senin di akhir bulan. Semua kalimat positif sudah aku ucapkan, semua doa sudah kurapal agar hari ini bisa kulewati tanpa drama. Kugosok gigiku sembari mengeset schedule dan menata apa saja yang harus aku lakukan dari pagi. Senin harus produktif. Sebentar, biar aku tarik napas panjang sambil mengingat hari yang tak terlalu baik ini. I.  Sampai di kantor, aku mendapat kabar dari teman semasa berseragam putih biru. Teman yang lebih dari lima belas tahun lalu aku kenal. Tanpa berbasa-basi, ia membagikan tautan. Aku sudah tahu sejak lama kalau dia menjalin cerita bersama seseorang. Tapi aku tak berpikiran kalau akan secepat ini. Benar, tautan tersebut adalah undangan pemberkatan pernikahan. Dari empat orang teman dekat sejak putih-biru hanya aku saja yang belum tahu arahnya bagaimana, yang paling muda sudah punya tiga putra, yang tertua menikah dan menetap di pulau yang paling cantik di timur pulau Jawa, s...

sudah jujur saja salah apalagi bohong.

Hari ini gajian kedua setelah kembali ke proyek. Setelah memaksa diri untuk keluar, ternyata Tuhan masih pakai diri ini di proyek. Mau sejauh apa aku menghilang, tarikan ini lebih kuat dari dayaku. Lucu memang kalau ingat bagaimana aku bisa kembali. Lewat sebuah panggilan yang awalnya kukira telepon biasa. Pertanyaan yang umum untuk basa-basi hingga ajakan untuk bergabung kesini. Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan. Lalu, aku sampai di kota ini.  Aku merasa ini semua memang sudah jalan hidupku. Aku tak ingin ada penolakan lagi sehingga aku tak bisa fokus dengan tujuan utamaku. Apalagi kalau bukan gaji bulanan yang semoga bisa menggemukan rekeningku. Tapi rintangan sebenarnya bukan karena kembalinya aku. Melainkan tawaran lain yang seharusnya bisa ikut menyumbang lemak-lemak dalam rekeningku. Mereka dengan mudah menawarkannya kepadaku bahkan kali ini tanpa ada tedeng aling-aling. Sebulan disini, aku sudah ditawari tiga kali. Dua kali lewat udara dan yang terakhir baru pagi tadi. Seh...

belum tahu dan belum pernah tahu.

Hari ini hidupku terasa penuh. Banyak hal baik yang ternyata datang kepadaku tanpa disadari. Hal yang tadinya kukira kutukan ternyata dirasakan juga oleh beberapa kawan. Hal yang kusangka keberuntungan ternyata lebih dari itu. Hal yang kupikir karma buruk ternyata lebih baik dari semua yang pernah kuterima. Sampai aku merasa logikaku tak cukup untuk mencerna semuanya. Hari ini aku tertawa karena bisa membelikan makanan kesukaan bapak. Aku juga bisa mengirim sejumlah uang untuk ibuk karena tak pernah ada yang ia mi ta kepadaku dan aku berharap dengan sedikit uang itu ia bisa membeli sendiri beberapa barang atau makanan yang ia sukai. Meski malam harinya aku menangis karena mengingat obrolan mendalamku dengan kawan lama yang kembali bersama setelah hampir tujuh tahun berpisah. Kami banyak bercerita tentang keluarga kami yang ternyata punya banyak kemiripan. Dua keluarga yang punya empat anak, sepasang bapak yang memiliki kesibukan di kota lain, dan sepasang ibuk yang selalu ada untuk ana...

bermimpilah ketika sudah tertidur.

Beberapa hal tentang bodohnya diri ini baru aku sadari. Semua terpancing keluar dari sumur luka yang ternyata aku gali sendiri. Pelan namun aku konsisten melakukannya sehingga sekarang alat ukur yang aku punya sudah tak sanggup untuk memeriksanya. Sekian lama aku menekuninya sehingga kini aku semakin mahir untuk membuat luka di hatiku sendiri. Hal itu juga membuktikan kalau tangga yang aku bangun ternyata tak membawaku keatas melainkan semakin menenggelamkanku ke angan yang abu-abu dan dipenuhi kabut. Selama ini aku terlalu sibuk menyuapi egoku, menyalurkan hobiku untuk menyangkal segala realita yang ada di depan mata, serta terlalu sering memupuk harapan palsu orang-orang sok tahu di sekitarku. Semua yang dulu aku lakukan tak berbuah apapun dan sekarang tersisa sesak dan sesal. Langkah kaki yang terlanjur jauh terasa sia-sia ketika dipaksa kembali ke titik awal. Keringat kering ini belum menerima upahnya. Semua yang dikorbankan telah selesai perjuangannya. Aku lupa seharusnya mataku t...

berawal dari kedengkian.

Kilas balik, perihal kenapa pilih nama ini? Awalnya iseng aja. Dulu jaman SMP lagi asyik-asyiknya main Facebook kasih nama pet di sana nama ini, gabungan nama belakang sendiri sama imbuhan -wati, biar keliatan jenis kelaminnya apa. Lanjut, gimana bisa ngide buat blog ini. Awalnya bukan dari blog juga sih. Pada mulanya Wattpad, terus karena emang gue-nya nggak sabaran dan nggak konsisten, pindah ke beberapa platform lain dengan harapan pengen banyak follower aja. Sempet ke tumbrl, joypad, banyaklah. Step stone paling keren sih jadi kontributor hipwee, sempet kirim beberapa cerpen juga. Tapi yang namanya manusia, masih nggak puas sama pencapaiannya sendiri.  Darisana, nggak sengaja liat temen SMP yang punya podcast sendiri. Sebagai leo berdarah campuran, panas deh. Ngerasa kok gue gini-gini aja ya. Selidik punya selidik, dia juga punya blog. Langsung deh, buka-buka file lama yang dulu dilupakan.  Tadinya nama yang dipilih bukan catatan tapi cerita. Lama-lama kok pengen disisipin...

kata maaf untukku.

Lembar demi lembar yang dibuka terdengar dari balik selimut. Suara televisi yang biasanya berkumandang hari ini absen. Lolongan anjing tetangga sayup membangunkan tidurku yang belum lelap. Ribut di kepalaku masih belum selesai dengan perkaranya. Maaf ini tak patut untuk mereka, aku yang seharusnya mendapatkan maaf itu. Aku tak bisa memilih dari rahim mana akan dilahirkan. Tak bisa memberi pendapat bagaimana cara dibesarkan. Hingga sekarang tak diberi ruang untuk sekedar hadir memberi pandangan.  Waktu luang yang ada juga tak pernah disuguhkan hangat untukku. Remah-remahnya yang seharusnya dibuang malah dikumpulkan kembali. Mereka menempatkannya di bekas bungkus yang masih lumayan bagus, kembali memakaikan pitanya, dan memberikannya kepadaku seolah itu hadiah mewah jerih payah selama tak bersamaku. Aku yang polos sangat bahagia menerimanya tanpa bertanya apa aku layak menerimanya.  Esok paginya aku jauh lebih mengerti, mencoba memahami kalau ini semua memang sudah menjadi takdi...