kata maaf untukku.

Lembar demi lembar yang dibuka terdengar dari balik selimut. Suara televisi yang biasanya berkumandang hari ini absen. Lolongan anjing tetangga sayup membangunkan tidurku yang belum lelap. Ribut di kepalaku masih belum selesai dengan perkaranya.

Maaf ini tak patut untuk mereka, aku yang seharusnya mendapatkan maaf itu. Aku tak bisa memilih dari rahim mana akan dilahirkan. Tak bisa memberi pendapat bagaimana cara dibesarkan. Hingga sekarang tak diberi ruang untuk sekedar hadir memberi pandangan. 

Waktu luang yang ada juga tak pernah disuguhkan hangat untukku. Remah-remahnya yang seharusnya dibuang malah dikumpulkan kembali. Mereka menempatkannya di bekas bungkus yang masih lumayan bagus, kembali memakaikan pitanya, dan memberikannya kepadaku seolah itu hadiah mewah jerih payah selama tak bersamaku. Aku yang polos sangat bahagia menerimanya tanpa bertanya apa aku layak menerimanya. 

Esok paginya aku jauh lebih mengerti, mencoba memahami kalau ini semua memang sudah menjadi takdirku. Walau masih terselip perih yang mengganjal perihal maaf yang tak pernah kudapat.

Kepingan kenangan kukumpulkan dan kususun sesuai garis waktu. Banyak kata yang kuingat, semua nyata tersirat. Bukan cincin yang mengikat melainkan segumpal nyawa yang tak punya pilihan dan dosa. Semua berawal dari janji yang tak pasti, bukan cinta untuk sehidup semati. 

Tak pernah ada penjelasan gamblang. Tak pernah ada alasan yang dikemukakan atau klarifikasi tentang segala asumsi yang berkeliaran. Awal yang tak indah tentu tak bisa berekspektasi indah pula. Segalanya menjadi kolaborasi cantik agar aku terluka sempurna.

Karena itu semua aku berhak mendapatkan maaf. Bukan malah aku yang harus berusaha berucap. Lalu, apa aku akan menjadi durhaka bila tak pernah berucap maaf?
Copyright © catatan sudarnowati. Designed by OddThemes