Postingan

berjalan bersama orang asing.

Perjalanan ke antah berantah ini memenuhi kepala. Antara senang, sedih, dan marah membaur menjadi satu. Bukan perjalanan seperti ini yang aku dambakan selama ini. Roadtrip bersama orang asing yang disatukan karena sampah. Kegiatan ini agak menyita tenaga dan waktu. Sejak masuk ke dunia kerja sambilan, mungkin ini saat-saat yang agak sibuk.  Pagi hari, tanpa banyak bicara hanya suara lekukan kertas yang menderu. Antrian mandi yang belom terurai mencegah turun dari ranjang. Berbagi kamar dengan tujuh orang asing ini cukup melelahkan. Kamar mandi yang hanya ada tiga dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing membuat daftar tunggu kamar mandi favorit membludak. Belom lagi durasi pemakaian yang beragam. Beberapa menyela antrian karena perut mengalami kontraksi.  Siang hari, silih berganti menunggu antrian pemeriksaan berlembar-lembar plano. Makan siang terasa tak berlaku. Puncak di depan mata, tinggal revisi yang menanti. Tugas hampir berakhir, semoga besok datang yang lebih ...

feeling blue like the atlantic.

Gambar
🌊🌊 Aku tahu terkadang kamu bingung dengan perasaanmu sendiri. Semua tercampur di kepala dan membuat sesak dada. Tak ada alasan untuk marah, tak ada sebab untuk sedih, tapi hati tak sedang gembira. Bukan cuma kamu yang seperti itu. Nyatanya tiap kali kamu scroll timeline twittermu, berjuta makhluk mencuit overthinking tiap malam. Tak hanya itu, mereka melabelinya dengan mental illness tanpa diagnosa ahlinya. Kamu nggak sendiri. Wajar sesekali kecewa, marah, menyesal, sedih, yang tak wajar ketika kamu membiarkan mereka menenggelamkanmu terlalu jauh. Kamu masih bisa ada yang disyukuri. Setidaknya kamu sudah tak menjadi beban orang tua. Wajar sesekali kecewa, marah, menyesal, sedih, yang tak wajar ketika kamu membiarkan mereka menenggelamkanmu terlalu jauh. Waktu tak bisa menyembuhkanmu kalau kamu terus menghalanginya bekerja. Lepaskan. Pelan tapi pasti, kamu akan sembuh dan belajar dari rasamu ini. Aku tahu ini sulit tapi yakini kamu bisa saja dan imani nanti akan terbiasa d...

The Coolest Way To Kill Someone

Gambar
 

berdua menuju senja

Mereka bukanlah pasangan romantis, tak pernah beradu tatap mesra atau mengumbar kata sayang. Bahasa cinta mereka tak kasat mata, namun benar adanya. Tuan dan Puan yang sadar jauh berbeda—yang semakin dicari persamaannya semakin tak ditemukan, namun mereka tetap mencoba menjahit celah itu agar terasa utuh. Jarak tak membuat mereka berjarak. Selisih keyakinan tak menggoyahkan tekad. Ombak telah mereka lalui, ujian datang silih berganti, waktu habis untuk meneguk cangkir masing-masing sambil menertawakan dunia. Hingga senja itu tiba, angkasa merah menjadi saksi. Tidak ada pesta, tidak ada kata manis. Hanya dua jiwa yang mengerti bahwa cinta tidak selalu soal menyatu, tapi tentang bertahan dalam perbedaan tanpa harus saling menyeret. Sebab pada akhirnya, cinta bukan milik siapa yang paling mirip, melainkan siapa yang paling berani tinggal—meski tahu suatu saat, senja akan tetap memisahkan.

Lovesick Bear : Novel Usang Yang Belum Bertemu Jodoh

Gambar
  Mau ngenalin sama Lovesick Bear, novel yang sudah lama tamat di wattpad tapi sampai sekarang belum ketemu jodoh penerbitnya. Maklumlah, anget-anget tai ayam carinya. Sempet kepikiran buat self publish tapi ya gitulah, masih terkendala banyak hal. Mulai belum tahu banyak soal penerbit yang kira-kira bisa buat ngelahirin ini anak pertama, biaya, sampai mikirnya emang ada yang minat ya sama novel buatan aku. Kayak blog ini juga nggak yakin, ga ada yang baca juga. Modal pengen aja semuanya. Tapi nggak papa, semua pasti ada hikmahnya. Kalau bukan sekarang, mungkin nanti kapan-kapan. Entah gimana dulu bisa betah nulis ini novel. Walau lama juga sih kayaknya dulu bisa tamat. Sempet naik turun juga mood nya buat nulis. Kalau nggak salah inget, dulu nulis ini pas awal-awal jadi pengangguran sampe dapet kerja juga sempet ngelanjutin ini novel. Inget banget dulu naik Trans Jakarta sambil ngetik ini di wattpad , udah banyak yang diketik ternyata nggak nge- save . Amsyong emang dulu. Ide a...

mantra untuk menerawang masa yang akan datang.

Hari yang ditunggu telah tiba, setelah penantian yang cukup lama. Sehabis pandemi yang menghalangi. Setelah telah kesempatan ketiga terlewati. Kini waktunya memilih (lagi). Kembali ke pelukan yang berulang kali mencampakan atau perpindah ke lain hati. Semua masih jadi dipertimbangkan. Semua masih bisa berubah. Semoga kali ini ia tak mengulangi kesalahannya, doaku. Namun tetap saja hatiku kembali meragu. Sejuta pertanyaan kembali menyeruak. Semakin banyak usia, semakin banyak pertimbangan. Timbangan usang kembali aku gunakan. Komparasi mulai mengalkulasi. Pilih Dia, tapi aku pernah tersakiti. Pilih Kamu, aku belum kenal betul. Dia dan Kamu sama-sama menjanjikan ketenangan tapi apakah yakin aku tak akan bosan di tengah jalan nanti? Usiaku sudah tak muda lagi, bukan waktunya untuk bermain hati. Bukan saatku untuk terus pindah berkala rumah ke rumah. Sudah banyak pelajaran yang aku ambil. Ini saatnya untuk mengamalkannya. Tapi masih banyak tapi yang menghalangi. Banyak berkas yang perlu di...

pada akhirnya semua akan berakhir.

Entah kenapa tiba-tiba aku ingin menceritakan hal ini yang seharusnya membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum juga selesai, aku malah ingin segera memulai meluapkan ini semua. Cerita tentang aku yang mulai muak dengan banyak perubahan besar akibat pandemi ini. Bagaimana tidak, dua tahun ini mobilitas banyak dibatasi, semua terasa sulit. Semua berawal dari bulan Maret 2020 lalu. Ketika virus ini masuk ke Indonesia, aku masih bekerja sebagai karyawan swasta di salah satu kontraktor swasta. Kala itu aku ditempatkan di proyek pusat pembelanjaan yang aku yakin di tahun mendatang akan terkenal di Bintaro (kawasan yang lumayan keren buatku anak kampung).  Akhir bulan Maret 2020, salah satu staff mendadak divonis Covid-19. Beliau tinggal di Depok, bolak-balik Bintaro setiap hari terlebih sebagai staff lapangan beliau sering lembur untuk storing . Kami masih positif thinking . Apalagi kasus di Indonesia masih belum mencapai angka ribuan.  Kebetulan beliau memiliki kaka...