Postingan

aku, kau, dan laut

Gambar
Laut kembali gaduh. Riak-riak ombak menari abstrak menerjang karang. Ia memporak-porandakan perkampungan yang tak jauh darinya. Hatinya panas melihat Angkasa. Ia sedang cemburu kepada Angkasa karena ia selalu diramaikan oleh Bintang. "Kenapa lagi? Kamu masih marah padaku?" tanya Angkasa. Laut hanya diam. Buih-buih putih membuncah. Ia menarik air ke tengah dan menyemburkannya kembali ke daratan dengan cepat. Ia tak memberi ampun. Bintang yang mengetahui kemarahan Laut hanya mengedip kepada kedua kawannya, Bulan dan Matahari. "Laut," panggil Bintang pelan. Laut tak menggubris. Ia masih dipenuhi emosi. Ia kembali mengirim air ke daratan, kali ini dengan kuantitas yang lebih besar dan dengan ombak setinggi lebih dari pohon kelapa. Ia marah, semarah-marahnya. Ia melampiaskan segala emosinya. Awan yang melihat, menangis. Matahari meredupkan cahayanya. Bulan bersembunyi di balik kelam. Laut merasa sendirian. Ia pikir semua lebih memilih Angkasa—Bintang yang setia men...

kepada sesuatu yang sedang bergibah di kepala.

Kepada sesuatu yang sedang bergibah di kepala, dihimbau untuk segera keluar dikarenakan aku ingin tidur. Terima kasih. Aku hanya bisa menghela napas panjang tiap kali mereka datang. Biasanya di malam hari, tapi entah akhir-akhir ini mereka sering mencuri-curi waktu untuk bertemu denganku. Kangen katanya. Seberapa kuat aku untuk menolaknya masuk, mereka tetap merangsek ke dalam. Mungkin pagar rumahku yang tak terlalu kokoh untuk menghalaunya. Atau akunya saja yang tak bisa bernegosiasi dengan mereka. Pagi kemarin mereka datang. Mereka bahkan menemaniku sampai ke kantor. Saat aku bekerja, aku sedikit mendiamkan mereka. Aku suguhi mereka dengan sedikit air dan cemilan habisnya aku tak ada daya untuk menyuruh mereka pulang. Lepas dari kantor, mereka bertamu kembali dan baru dini hari tadi mereka pulang. Itupun karena aku tertidur mendengar bualan mereka. Mereka selalu bilang kalau aku tak ada apa-apanya dibanding yang lain. Tak ada pencapaian yang bisa dibanggakan. Semua yang sudah aku lak...

semangkuk wedang ronde.

Gambar

Dear Tante Lina: Panggil Aku, Please!

Badanku terbujur kaku jiwaku melayang-layang menunggu panggilan dari seseorang yang entah dimana dan siapa. Sehari, dua hari, seminggu, sebulan berlalu begitu saja. Tak ada kabar darimu sama sekali. Kolong plafon kamarku ini jadi saksi bisu. Enam bulan usai pesta pora atas prosesi pemindahan temali dari kiri ke kanan yang memakan waktu dan biaya yang tak sedikit berbanding terbalik dengan apa yang dapat kulakukan sekarang. "Nanti kalau prosesnya sudah selesai, kami hubungi via telepon atau e-mail. Ada yang mau ditanyakan lagi?" Senyum penuh misteri dipertontonkan olehmu kala itu. Aku hanya dapat membalasnya, "Sudah cukup." Aku merapikan kemeja merah mudaku, bergegas menyambar jabat tanganmu, dan meninggalkan ruangan bernuansa putih itu. Sepertinya bukan pertanda baik kalau dilihat dari ekspresimu tadi, sudahlah tunggu saja. "Semoga ini harinya." doaku setiap kaliku membuka mata. Semilir sepoi surgawi berhembus. "Iya, firasatku hari ini. Semog...

the things i write that he will never read.

Aku terlahir dari sekumpulan perasaan yang tak terucapkan sedang kamu di antara caci maki dunia yang berisik. Aku terbiasa diam, memendam semua yang aku rasa dan menjalani semua seolah tak terjadi apa-apa. Sedang kamu terbiasa berteriak meletuskan amarah, tanpa malu menangis dan semua yang ada meluap begitu saja. Jalanku tenang walau sesekali kerikil menghalangi namun yang kamu lalui tak tentu arah. Kadang badai atau ombak tinggi menghadang. Aku dan kamu berbeda. Aku sering salah menaruh hati kepada seseorang namun kali ini yang paling salah. Aku tahu kamu sudah ada yang memiliki walau belum ada cincin yang mengikat. Aku tahu jarak kita terlalu jauh. Aku tahu jurang pemisah tak mungkin dihancurkan. Ceritamu terlalu rumit untuk aku yang tak ingin sulit. Aku dan kamu tak akan pernah menjadi kita. Aku tahu benar dimana kakiku berpijak. Aku yang bodoh kembali rela menjalani jalan yang salah. Walau rasa ini tak mungkin berhenti secepat aku menaruh hatiku ke dirimu, ijinkan aku menjalani sak...

perihal Jaya.

Gambar
Terinspirasi dari calon kantor baru, berharap banyak disana. Semoga awet dan tahan lama. Amin. Tadinya karya ini buat meramaikan raws festival tapi ditengah jalan, terseok-seok. Akhirnya ya udah. Berisi penggalan cerita perihal spesimen yang diberi nama Jaya dalam menjumpai ketaksaan dunia. Tak hanya mengangkat kegamangan hati, masih ada kisah lain yang mungkin bisa menjadi rhema. Tentang bagaimana ia jungkir balik melunasi tagihan kebutuhan, representasi rezim yang membiarkan kewajaran, ranah keluarga yang mengandung air mata, dan perkara hati yang sejatinya tak ingin di intervensi. Selamat datang di krisis seperempat abad. Imajinasi pada kesucian dunia akan berubah total karena jadi dewasa itu tak enak. Tak hanya raga yang berontak, pikiran diperkosa paksa peradaban, serta jiwa harus bertahan dijajah kebutuhan. Problematika hidup semakin bertambah. Dulu berharap jadi besar mudah, sekarang sudah tak relevan. Perlahan ilusi fatamorgana disingkap realita. Jaya, tak pernah mengira semes...

Berita Kehilangan

Gambar
Kepulangan Jendra memang akhir dari hidupnya tapi hal itu pula yang diamini masyarakat sebagai pertanda agar lahir kembalinya reformasi setelah lama dikorupsi oleh para elit yang duduk nyaman di kursi dewan. Tak ada tangis air mata yang membanjiri tubuh kaku Jendra, bahkan dari sang ibunda. Beliau hanya sibuk merapal doa untuk kepergian sang buah hati tercinta. Almamater kebanggaan Jendra tergantung di dinding ruang keluarga kediamannya. Noda memerah masih membekas di bagian dada, juga di ingatan  "Buk, Jendra berangkat!" suara teriakan terakhir Jendra dari teras rumah masih terngiang di telinga. Ia sudah siap menggeber motor bebeknya menuju meeting point yang disebar luaskan sejak malam sebelumnya. Tak lupa jas identitas kampus ia masukan kedalam tas punggungnya. Ibu Dewi—ibu Jendra, tak memiliki pertanda buruk apapun mengenai kepergian Jendra. Pagi itu ia hanya mengingatkan Jendra untuk pulang tak terlalu larut malam. Jendra mencium tangan Ibunya. Mimiknya tak m...