Selasa, 31 Mei 2022 0 comments

belum tahu dan belum pernah tahu.

Hari ini hidupku terasa penuh. Banyak hal baik yang ternyata datang kepadaku tanpa disadari. Hal yang tadinya kukira kutukan ternyata dirasakan juga oleh beberapa kawan. Hal yang kusangka keberuntungan ternyata lebih dari itu. Hal yang kupikir karma buruk ternyata lebih baik dari semua yang pernah kuterima. Sampai aku merasa logikaku tak cukup untuk mencerna semuanya.

Hari ini aku tertawa karena bisa membelikan makanan kesukaan bapak. Aku juga bisa mengirim sejumlah uang untuk ibuk karena tak pernah ada yang ia mi ta kepadaku dan aku berharap dengan sedikit uang itu ia bisa membeli sendiri beberapa barang atau makanan yang ia sukai. Meski malam harinya aku menangis karena mengingat obrolan mendalamku dengan kawan lama yang kembali bersama setelah hampir tujuh tahun berpisah.

Kami banyak bercerita tentang keluarga kami yang ternyata punya banyak kemiripan. Dua keluarga yang punya empat anak, sepasang bapak yang memiliki kesibukan di kota lain, dan sepasang ibuk yang selalu ada untuk anak-anaknya. Awalnya, kami banyak menertawakan kutukan yang kami kira spesial untuk kita sendiri saja. Nyatanya, haltersebut juga tak asing untuk banyak orang. 

Katanya, jam enam sore punya kekuatan untuk membuat orang bersedih. Karena dulu ketika masih kecil, jam enam sore, kebanyakan semua orang sudah berkumpul bersama keluarganya masing-masing. Entah baru pulang kerja, mengerjakan pekerjaan rumah bersama, makan malam bersama, atau sholat berjamaah. Lalu ketika semua anak sudah tumbuh dewasa yang tersisa hanyalah ingatan. Kursi yang melingkari meja makan kosong, deretan buku usang yang tak pernah dijamah, atau tak ada saf di belakang imam menjadi pemandangan lumrah.

Aku langsung paham apa maksud kawanku itu. Takhanya rumahnya yang penuh kenangan, rumahku juga dan sekarang banyak sudut rumah yang sepi. Rumahtak seperti dulu yang selalu ramai, penuh dengan keempat anak yang selalu rebutan remote tv.

Lalu kawanku bertanya, pertanyaan yang sering terlintas di kepalaku sendiri namun dengan sekuat tenaga dan jiwa selalu aku hindari. 

"Pernah membayangkan gimana kamu kalau kehilangan salah satu dari mereka?"

Aku menghela napas panjang, pikiranku mengambang. 

"Aku egois. Aku sering berdoa kepada Tuhan, biar aku yang pergi duluan. Aku nggak mau kehilangan."

"Kamu nggak punya empati. Kamu nggak mikirin perasaan mereka?"

"Aku tahu. Mereka pasti sedih, berpikiran kenapa nggak mereka duluan karena mereka yang lebih tua. Tapi aku juga punya alasan."

"Apa? Alasan apa yang bisa membuat orang tua rela melepas anaknya?"

"Karena aku belum tahu dan belum pernah tahu rasanya hidup tanpa mereka."

Kami berdua terdiam, sampai tanpa kami sadari air mata meleleh. Tak ada lagi kata yang bisa kami ucapkan. Diskusi yang dibuka dengan tawa malah diakhiri dengan tangis karena bayangan ketakutan yang entah kapan akan terjadi. 

Senin, 11 April 2022 0 comments

bermimpilah ketika sudah tertidur.

Beberapa hal tentang bodohnya diri ini baru aku sadari. Semua terpancing keluar dari sumur luka yang ternyata aku gali sendiri. Pelan namun aku konsisten melakukannya sehingga sekarang alat ukur yang aku punya sudah tak sanggup untuk memeriksanya. Sekian lama aku menekuninya sehingga kini aku semakin mahir untuk membuat luka di hatiku sendiri.

Hal itu juga membuktikan kalau tangga yang aku bangun ternyata tak membawaku keatas melainkan semakin menenggelamkanku ke angan yang abu-abu dan dipenuhi kabut. Selama ini aku terlalu sibuk menyuapi egoku, menyalurkan hobiku untuk menyangkal segala realita yang ada di depan mata, serta terlalu sering memupuk harapan palsu orang-orang sok tahu di sekitarku. Semua yang dulu aku lakukan tak berbuah apapun dan sekarang tersisa sesak dan sesal.
Langkah kaki yang terlanjur jauh terasa sia-sia ketika dipaksa kembali ke titik awal. Keringat kering ini belum menerima upahnya. Semua yang dikorbankan telah selesai perjuangannya. Aku lupa seharusnya mataku terpejam ketika bermimpi. Tak bisa aku menggapainya hanya dengan mengawang-awang hal yang sepertinya indah.

Ya, aku memang bodoh dan baru sadar sambil mengetik narasi ini. Seharusnya aku bermimpi ketika tertidur karena hanya saat itulah aku dapat merasakan bahagiaku.


Selasa, 05 April 2022 0 comments

berawal dari kedengkian.

Kilas balik, perihal kenapa pilih nama ini? Awalnya iseng aja. Dulu jaman SMP lagi asyik-asyiknya main Facebook kasih nama pet di sana nama ini, gabungan nama belakang sendiri sama imbuhan -wati, biar keliatan jenis kelaminnya apa.

Lanjut, gimana bisa ngide buat blog ini. Awalnya bukan dari blog juga sih. Pada mulanya Wattpad, terus karena emang gue-nya nggak sabaran dan nggak konsisten, pindah ke beberapa platform lain dengan harapan pengen banyak follower aja. Sempet ke tumbrl, joypad, banyaklah. Step stone paling keren sih jadi kontributor hipwee, sempet kirim beberapa cerpen juga. Tapi yang namanya manusia, masih nggak puas sama pencapaiannya sendiri. 

Darisana, nggak sengaja liat temen SMP yang punya podcast sendiri. Sebagai leo berdarah campuran, panas deh. Ngerasa kok gue gini-gini aja ya. Selidik punya selidik, dia juga punya blog. Langsung deh, buka-buka file lama yang dulu dilupakan. 

Tadinya nama yang dipilih bukan catatan tapi cerita. Lama-lama kok pengen disisipin cerpen sama segala cerita yang ga penting kayaknya nggak cocok kalo namanya cerita. Singkat cerita, tiba-tiba suka banget sama Febrian, salah satu travel enthusias di instagram. Dia juga kelola website pribadi nah, alamatnya www.ceritafebrian.com makanya terinspirasi dari sana. Namun lama-kelamaan berasa geli sendiri sama nama blog sendiri. Terus kepikiran ganti, akhirnya dipilihlah nama catatan, biar vibenya berasa anak sekolah gitu. 

Pengen banget cerita tentang pengalaman jalan-jalan ke blog ini. Walaupun nggak seberapa dan nggak jauh-jauh amat dari rumah. Daripada sebatas foto di instagram dan caption yang nggak seberapa itu pengen tulis semua cerita menyenangkan itu kesini. Tunggu niat dan waktu yang longgar, mumpung PPKM masih diperpanjang lagi dan belom ada cuan buat jalan lagi juga. 

Bukannya hobi jalan-jalan atau gimana. Sebenernya seneng aja keluar, lihat daerah lain dan cari bahan buat nanti aku ceritain ke anak waktu kasih mereka cerita sebelum tidur. 

 
;