Minggu, 13 Februari 2022 0 comments

bermimpi seharusnya ketika aku tertidur.

Beberapa hal tentang bodohnya diri ini baru aku sadari. Semua terpancing keluar dari sumur luka yang ternyata aku gali sendiri. Pelan namun aku konsisten melakukannya sehingga sekarang alat ukur yang aku punya sudah tak sanggup untuk memeriksanya. Sekian lama aku menekuninya sehingga kini aku semakin mahir untuk membuat luka di hatiku sendiri. 

Hal itu juga membuktikan kalau tangga yang aku bangun ternyata tak membawaku keatas melainkan semakin menenggelamkanku ke angan yang abu-abu dan dipenuhi kabut. Selama ini aku terlalu sibuk menyuapi egoku, menyalurkan hobiku untuk menyangkal segala realita yang ada di depan mata, serta terlalu sering memupuk harapan palsu orang-orang sok tahu di sekitarku. Semua yang dulu aku lakukan tak berbuah apapun dan sekarang tersisa sesak dan sesal.

Langkah kaki yang terlanjur jauh terasa sia-sia ketika dipaksa kembali ke titik awal. Keringat kering ini belum menerima upahnya. Semua yang dikorbankan telah selesai perjuangannya. Aku lupa seharusnya mataku terpejam ketika bermimpi. Tak bisa aku menggapainya hanya dengan mengawang-awang hal yang sepertinya indah. 

Ya, aku memang bodoh dan baru sadar sambil mengetik narasi ini. Seharusnya aku bermimpi ketika tertidur karena hanya saat itulah aku dapat merasakan bahagiaku.
Senin, 07 Februari 2022 0 comments

yang paling bersedih di hari minggu.

Tak terasa sudah hari Minggu lagi. Buat kamu mungkin ini hari yang ditunggu. Setelah enam hari digempur deadline dan rutinitas, akhirnya tiba saatnya untuk melepas penat dan lelah. Akhirnya punya kesempatan untuk bangun lebih siang dan bersantai.

Banyak rasa yang datang hari ini. Sebal, lelah, sedih, marah, semua saling sikut ingin menjadi pemeran utama. Tak ada yang jadi juara. Saat mereka merangsek datang, hanya sepi yang muncul di kepala.

Entah, seharusnya keramaian ini membuatku bahagia namun malah kebalikannya. Ramai ini hanya pura-pura, sementara namun menjadi akhir dari segalanya. Kepura-puraan ini membuatku semakin percaya kalau kebohongan yang akan menang. Semua yang dimulai dengan kebohongan pasti akan berakhir dengan kepura-puraan.

 


Rabu, 12 Januari 2022 0 comments

utuh walau rapuh.

Gadis kecil yang bernama kejujuran itu meronta. Sekian lama ia dikurung, akhirnya kini ia bisa melihat langit. Tak ada lagi kegelapan. Tak ada lagi ruangan pegap.

Sesak di dada ini ingin segera aku akhiri. Aku baru tersadar kalau diam dan memendamnya tak membuat aku lupa akan kejadian itu. Apa yang aku lakukan malah membuatnya semakin menggerogoti hatiku. Aku seperti menanam ingatan dan menantinya menjadi masa lalu yang semakin menghantui. Aku merawatnya, menyiangi dari rumput liar, menyiramnya dengan rutin, dan tak lupa memberinya pupuk terbaik. Kini aku menuai hasilnya. Ia telah menjelma menjadi ketakutan yang jelas sangat aku hindari selama ini. Aku masih sangat mengingatnya. Jelas. Semua terasa seperti baru kemarin terjadi.

Dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu. Yoh 8:32

 Siang itu rumah sepi, hanya ada aku dan budheku yang sudah lanjut. Ibuku pergi menginap beberapa hari keluar kota dan ketiga saudaraku belum pulang sekolah. Aku masih sekolah dasar dan entah kenapa aku sampai di rumah lebih dulu. Seseorang mengetuk pintu, aku berlari antusias dan membukakannya. Aku tak tahu siapa dia, begitu pula budhe yang tiba-tiba muncul di belakangku. Ia memaksa masuk, ia terengah dan meminta segelas air.


Tanpa banyak ba-bi-bu, ia mendekatkan wajahnya yang legam ke mukaku. Usai itu, bibirnya yang basah menari diatas bibirku, tangannya yang jauh lebih kuat dan besar menggerayangi seluruh tubuh kecilku. Selang beberapa menit, teriakan budheku membuyarkan lamunan. Aku ikut berteriak mengusirnya. Meskipun pada waktu itu aku tidak mengerti, kehidupanku tidak akan pernah sama lagi.

Hidup dalam penyangkalan ternyata jauh lebih rumit daripada menerima kenyataan yang ada. Rasa sakit, rasa bersalah, dan amarah datang dan pergi sesuka hati. Aku terlalu lama menimbun luka. Tampak luar aku utuh sebagai pribadi yang 'normal-normal' saja, walau di dalam aku rapuh.
 
Rangkaian kata ini berasal dari sisa-sisa air mata yang kemarin jadi aku selalu bersyukur akan kecewaku kemarin setidaknya berguna. Keputusan untuk berdamai dengan masa lalu membawaku bertahan sampai hari ini. Beban yang selama ini kubawa, kurebahkan perlahan. Semua berjalan sebagaimana mauku. Wajar kalau sedih itu hadir namun setidaknya aku tak lagi terpuruk bersama masa lalu.
 
;