By
sudarnowati
At
Januari 12, 2022
0
Gadis kecil yang bernama kejujuran itu meronta. Sekian lama ia dikurung, akhirnya kini ia bisa melihat langit. Tak ada lagi kegelapan. Tak ada lagi ruangan pegap.
Sesak di dada ini ingin segera aku akhiri. Aku baru tersadar kalau diam dan memendamnya tak membuat aku lupa akan kejadian itu. Apa yang aku lakukan malah membuatnya semakin menggerogoti hatiku. Aku seperti menanam ingatan dan menantinya menjadi masa lalu yang semakin menghantui. Aku merawatnya, menyiangi dari rumput liar, menyiramnya dengan rutin, dan tak lupa memberinya pupuk terbaik. Kini aku menuai hasilnya. Ia telah menjelma menjadi ketakutan yang jelas sangat aku hindari selama ini. Aku masih sangat mengingatnya. Jelas. Semua terasa seperti baru kemarin terjadi.
Dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu. Yoh 8:32
Siang itu rumah sepi, hanya ada aku dan budheku yang sudah lanjut. Ibuku pergi menginap beberapa hari keluar kota dan ketiga saudaraku belum pulang sekolah. Aku masih sekolah dasar dan entah kenapa aku sampai di rumah lebih dulu. Seseorang mengetuk pintu, aku berlari antusias dan membukakannya. Aku tak tahu siapa dia, begitu pula budhe yang tiba-tiba muncul di belakangku. Ia memaksa masuk, ia terengah dan meminta segelas air.
Tanpa banyak ba-bi-bu, ia mendekatkan wajahnya yang legam ke mukaku. Usai itu, bibirnya yang basah menari diatas bibirku, tangannya yang jauh lebih kuat dan besar menggerayangi seluruh tubuh kecilku. Selang beberapa menit, teriakan budheku membuyarkan lamunan. Aku ikut berteriak mengusirnya. Meskipun pada waktu itu aku tidak
mengerti, kehidupanku tidak akan pernah sama lagi.
Hidup dalam penyangkalan ternyata jauh lebih rumit daripada menerima kenyataan yang ada. Rasa sakit, rasa bersalah, dan amarah datang dan pergi sesuka hati. Aku terlalu lama menimbun luka. Tampak luar aku utuh sebagai pribadi yang 'normal-normal' saja, walau di dalam aku rapuh.
Rangkaian kata ini berasal dari sisa-sisa air mata yang kemarin jadi aku selalu bersyukur akan kecewaku kemarin setidaknya berguna. Keputusan untuk berdamai dengan masa lalu membawaku bertahan sampai hari ini. Beban yang selama ini kubawa, kurebahkan perlahan. Semua berjalan sebagaimana mauku. Wajar kalau sedih itu hadir namun setidaknya aku tak lagi terpuruk bersama masa lalu.
You Might Also Like