Kamis, 26 Juni 2025 0 comments

keluh kesah donatur tak kasat mata

Kenapa semua maksud baikku selalu dianggap sebuah tuntutan yang berat untuk orang-orang? Aku mau membantu, tapi jangan bebankan semua ke pundakku. Aku mau menolong, tapi bukan berarti semuanya menjadi tanggung jawabku. Semua yang sudah aku lakukan sepenuh hati seolah tak pernah terlihat. Aku sadar posisiku, tapi apakah akan terus seperti ini?

Aku tidak boleh sakit hati. Aku tidak boleh marah. Aku harus selalu menurut. Aku tidak boleh bicara. Aku hanya boleh mendengar. Sampai kapan?

Kadang aku merasa seolah hanya dijadikan wadah: menampung keluh kesah, menampung tuntutan, menampung segala hal yang tidak diinginkan orang lain. Tapi ketika aku sendiri penuh, siapa yang mau menampungku?

Semua kebingungan yang kutemui hanya berubah jadi emosi. Semua solusi yang kucari hanya sebatas omong kosong. Dan pada akhirnya, aku kembali lagi ke diam. Diam yang katanya emas, tapi sebenarnya lebih sering terasa seperti beban di dada.

Sabtu, 21 Juni 2025 0 comments

banyak yang mereka tak sadari.

Mereka menudingku dingin, tak peduli, tanpa perasaan. Kata-kata itu sering dilempar dengan mudah, seolah mereka tahu seluruh isi diriku hanya dari permukaan. Tapi tak ada yang bertanya kenapa aku menjadi seperti ini. Tak ada yang benar-benar mau melihat ke dalam—melihat bahwa di balik sikapku yang tampak tak peduli, ada kelelahan yang terlalu sering dilupakan. Aku tidak memilih jadi seperti ini; aku bertahan.

Bicara enteng aku nir-empati tapi mereka tak sadar kalau itu mereka yang ciptakan.

Dulu aku mencoba peduli. Aku merasa, aku menangis, aku berusaha memahami semua orang, meskipun seringkali tak dimengerti balik. Tapi kepedulianku tak pernah cukup. Empatiku dibalas tuntutan. Kebaikanku disambut pengkhianatan. Lama-lama aku belajar menyimpan air mata, membungkam empati, dan mengganti pelukan dengan jarak. Bukan karena aku tak bisa merasa, tapi karena merasa terlalu banyak pernah hampir menghancurkanku.

Mereka bilang aku berubah. Tapi mereka tak sadar bahwa mereka juga bagian dari perubahan itu. Setiap kata tajam, setiap pengabaian, setiap kali aku dicintai hanya saat aku berguna—semua itu perlahan membentuk benteng yang kini mereka keluhkan. Aku bukan patung es yang lahir beku; aku adalah hati yang pernah hangat, tapi terlalu sering terbakar.

Lucunya, yang menciptakan luka sering merasa berhak menilai bentuk sembuhku. Mereka menciptakan versi diriku yang kebal dan kini menyalahkanku karena tak lagi lembut. Tapi siapa yang akan terus menampung bara dengan tangan telanjang? Di titik tertentu, aku sadar: menjadi kuat kadang berarti harus kelihatan kejam bagi yang tak pernah tahu rasanya hancur.

Aku tidak bangga jadi seperti ini, tapi aku juga tidak menyesal. Karena jika ini satu-satunya cara untuk melindungi sisa-sisa diriku, maka biarlah aku disebut nir-empati. Aku lebih memilih dituduh tak peduli, daripada kembali tenggelam dalam kepedihan yang tak pernah dihargai. 

Selasa, 17 Juni 2025 0 comments

new chapter of my life.

Rasanya masih aneh bisa di posisi sekarang ini. Berdiri bersama orang-orang yang jauh dari ekspektasiku. Disini aku makin merasa "kecil" secara ilmu apalagi melihat belakang nama mereka yang sudah panjang. Apalah aku yang dari dulu yang penting hadir, cari ijasah, laku buat kerja. Berbeda dengan mereka yang dari public speakingnya saja beda level jauh denganku.


Apa semua yang sudah di pertaruhkan sepadan dengan apa yang aku dapat sekarang?

Aku masih belum bisa menjawab ini semua. Aku masih mempertanyakan kapasitasku sehingga bisa minimal sejajar dengan mereka yang ada disini. Orang-orang yang benar memberikan support, percaya itu. Tapi di hati kecilku kadang meraung tak percaya diri. Semoga semua yang terjadi ini bisa aku lalui tanpa ada badai-badai yang mengamuk.




 
;