Jumat, 20 Desember 2024 0 comments

double shoot

Menghilang memang jadi salah satu defend mechanism yang paling aku kuasai. Tak ada seorangpun yang bisa mendebatnya. Tampak luar aku bisa terlihat tenang, tak punya beban masalah apapun, namun semua badai muncul menemani tiap malam.

Bodohnya, aku masih menambah amunisi dengan segelas coffee aren latte dengan double shoot. Benar sajakan. Seolah rasa pahitnya bisa menutupi getir di kepala, padahal cuma menambah jantung berdebar, mata terjaga, dan pikiran makin liar ke mana-mana. Ironis, aku membayar untuk menyiksa diri sendiri.

Katanya orang-orang bijak, “lari tidak akan menyelesaikan masalah.” Tapi kalau aku diam, apa masalahnya akan menyelesaikan aku? Mana yang lebih dulu: aku hancur atau masalahku hilang? Sialnya, aku sudah terbiasa jadi orang yang pura-pura kuat di depan semua orang, padahal kenyataannya aku sudah lama kalah dalam peperangan di dalam kepala sendiri.

Lucunya, semua orang masih percaya. Mereka lihat aku tertawa, mereka lihat aku update story, mereka lihat aku minum kopi manis di gelas cantik—padahal di baliknya aku sedang menghitung sisa napas, berharap tidak terlalu panjang umur.

Aku ingin berhenti. Berhenti dari semua basa-basi, berhenti dari semua pura-pura, berhenti dari semua pertanyaan “kamu baik-baik aja?” yang bahkan mereka sendiri malas dengar jawabannya.

Tapi aku masih di sini. Dengan double shoot yang kucari-cari, dengan rasa pahit yang kuanggap sahabat, dengan malam-malam yang selalu jadi saksi betapa kacaunya kepala ini.

Dan sekarang aku cuma bertanya pada diri sendiri, sambil menatap gelas kosong:

Apakah aku sedang mencoba bertahan hidup… atau cuma sedang memperlambat cara bunuh diri yang paling sopan?

Sabtu, 07 Desember 2024 0 comments

apa aku boleh bahagia?

Disaat orang lain terlihat bahagia dengan hidupnya, aku malah semakin sesak dengan apa yang sedang kujalani. Sejujurnya semua pertanyaan yang mereka tanyakan juga sedang aku tanyakan ke diriku sendiri. Aku juga ingin seperti mereka, punya teman bercerita, punya keluarga kecil yang selalu tertawa bersama. Tapi kalau memang hal-hal itu belum waktunya atau bahkan tak bisa aku miliki, aku bisa apa?

Sulit buatku untuk percaya lagi ke seseorang. Sejak aku bisa memahami apa itu ditinggalkan, semua terasa tak ada yang benar-benar bisa melekat. Apalagi semua yang ada di muka bumi ini ada masanya masing-masing. Buatku membuka hati tidak semudah apa yang mereka katakan. Meskipun dia sudah bersamaku dan punya label milikku, tak ada jaminan kalau dia tidak akan meninggalkanku.

Aku sudah mencobanya berulang kali, yang awalnya sangat percaya diri bisa membuka diri, membuka hati, membuka kisah baru, yang ada aku malah semakin tenggelam di pikiranku sendiri. Luka yang kukira sudah mulai sembuh nyatanya malah kembali menganga. Aku malah semakin sering mempertanyakan diriku sendiri. Apa aku pantas dicintai? Apa aku boleh bahagia?

Aku tak tahu apa ini wajar ketika seseorang mempertanyakan kepantasan dirinya sendiri, mencari validasi untuk dirinya sendiri, apakah ia boleh bahagia? Di sisi lain ada rasa bersalah yang menghantui entah dari mana asalnya. Aku merasa cerita hidupku juga tak segelap milik orang lain. Tapi mengapa semua terasa salah kalau aku bahagia. Padahal sekitarku juga sibuk merayakan bahagia mereka masing-masing.

Aku tak seburuk itu tapi asumsiku sejauh ini.
Rabu, 04 Desember 2024 0 comments

on my survival mode.

I'm on my survival mode.

Bukan kewajibanmu buat mengerti aku, dan terserah asumsimu buat aku. Aku terima saja kamu sebut aku apa. Aku nggak punya nyali sama sekali buat menjelaskan tentang apapun. Aku bukan papan pengumuman yang harus menjabarkan alasan kenapa aku begini, kenapa aku begitu.

Aku hanya manusia yang sedang berusaha hidup, dengan caraku sendiri, seburuk apapun kelihatannya di matamu. Aku tahu rasanya jadi kambing hitam. Aku tahu rasanya jadi sosok yang mudah dihakimi. Tapi di titik ini aku sudah nggak peduli.

Kalau bagimu aku pengecut, ya sudah. Kalau bagimu aku egois, ya silakan. Aku tidak sedang berusaha menang. Aku bahkan tidak sedang ikut main. Aku hanya sedang berusaha bertahan supaya besok masih bisa bangun lagi, entah untuk apa.

Dan kalau suatu saat kamu sadar, kamu akan tahu: aku tidak pernah meminta diselamatkan. Aku cuma ingin tidak diganggu saat aku tenggelam dengan caraku sendiri.

Karena survival mode itu tak indah.

Itu cuma insting paling dasar:

tetap bernapas,

walau harus kehilangan segalanya.

 
;