Sabtu, 07 Desember 2024 0 comments

apa aku boleh bahagia?

Disaat orang lain terlihat bahagia dengan hidupnya, aku malah semakin sesak dengan apa yang sedang kujalani. Sejujurnya semua pertanyaan yang mereka tanyakan juga sedang aku tanyakan ke diriku sendiri. Aku juga ingin seperti mereka, punya teman bercerita, punya keluarga kecil yang selalu tertawa bersama. Tapi kalau memang hal-hal itu belum waktunya atau bahkan tak bisa aku miliki, aku bisa apa?

Sulit buatku untuk percaya lagi ke seseorang. Sejak aku bisa memahami apa itu ditinggalkan, semua terasa tak ada yang benar-benar bisa melekat. Apalagi semua yang ada di muka bumi ini ada masanya masing-masing. Buatku membuka hati tidak semudah apa yang mereka katakan. Meskipun dia sudah bersamaku dan punya label milikku, tak ada jaminan kalau dia tidak akan meninggalkanku.

Aku sudah mencobanya berulang kali, yang awalnya sangat percaya diri bisa membuka diri, membuka hati, membuka kisah baru, yang ada aku malah semakin tenggelam di pikiranku sendiri. Luka yang kukira sudah mulai sembuh nyatanya malah kembali menganga. Aku malah semakin sering mempertanyakan diriku sendiri. Apa aku pantas dicintai? Apa aku boleh bahagia?

Aku tak tahu apa ini wajar ketika seseorang mempertanyakan kepantasan dirinya sendiri, mencari validasi untuk dirinya sendiri, apakah ia boleh bahagia? Di sisi lain ada rasa bersalah yang menghantui entah dari mana asalnya. Aku merasa cerita hidupku juga tak segelap milik orang lain. Tapi mengapa semua terasa salah kalau aku bahagia. Padahal sekitarku juga sibuk merayakan bahagia mereka masing-masing.

Aku tak seburuk itu tapi asumsiku sejauh ini.
Rabu, 04 Desember 2024 0 comments

on my survival mode.

I'm on my survival mode.

Bukan kewajibanmu buat mengerti aku, dan terserah asumsimu buat aku. Aku terima saja kamu sebut aku apa. Aku nggak punya nyali sama sekali buat menjelaskan tentang apapun. Aku bukan papan pengumuman yang harus menjabarkan alasan kenapa aku begini, kenapa aku begitu.

Aku hanya manusia yang sedang berusaha hidup, dengan caraku sendiri, seburuk apapun kelihatannya di matamu. Aku tahu rasanya jadi kambing hitam. Aku tahu rasanya jadi sosok yang mudah dihakimi. Tapi di titik ini aku sudah nggak peduli.

Kalau bagimu aku pengecut, ya sudah. Kalau bagimu aku egois, ya silakan. Aku tidak sedang berusaha menang. Aku bahkan tidak sedang ikut main. Aku hanya sedang berusaha bertahan supaya besok masih bisa bangun lagi, entah untuk apa.

Dan kalau suatu saat kamu sadar, kamu akan tahu: aku tidak pernah meminta diselamatkan. Aku cuma ingin tidak diganggu saat aku tenggelam dengan caraku sendiri.

Karena survival mode itu tak indah.

Itu cuma insting paling dasar:

tetap bernapas,

walau harus kehilangan segalanya.

Selasa, 12 November 2024 0 comments

diam bukan berarti tanpa luka.

Tidak ada yang benar-benar biasa saja. Setiap keluarga menderita dengan porsinya masing-masing, hanya cara menutupinya yang berbeda. Ada yang menutup rapat dengan doa, ada yang menertawakannya sampai lelah, ada juga yang memilih diam dan menganggap semua baik-baik saja. Tapi luka tetap ada, meski dibungkus dengan rapi.

Mungkin itulah mengapa orang kadang merasa berhak tahu. Mereka mengira ikut campur bisa memperbaiki keadaan, padahal sering kali justru menambah runyam. Ada batas tipis antara peduli dan mencampuri, antara perhatian dan mengorek-ngorek. Orang sering lupa bahwa ada hal-hal yang memang tidak perlu diketahui. Tidak semua cerita harus dibongkar, tidak semua luka harus dipertontonkan. Tapi kalau sesuatu itu melibatkan kita, tidak adil rasanya jika justru kita yang tidak diberi tahu.

Dan di tengah semua itu, ada orang-orang yang memilih diam. Yang tak banyak cerita biasanya punya kepekaan lebih. Mereka terbiasa membaca tanda, menangkap sinyal yang tidak terucap. Mereka tahu bagaimana rasanya disalahpahami, jadi belajar untuk lebih hati-hati memahami orang lain. Tapi kepekaan itu seringkali jadi beban—karena terlalu peka berarti juga mudah terluka.

Barangkali inilah sisi manusia yang jarang kita sadari: kita semua sedang menanggung sesuatu yang tidak selalu tampak di permukaan. Ada yang keras kepala, ada yang rapuh, ada yang sok kuat, ada yang diam-diam menangis. Dan mungkin itu yang membuat manusia mirip-mirip: tidak ada yang sungguh baik-baik saja, tapi kita tetap berjalan seakan tidak terjadi apa-apa. 

 
;