Senin, 11 April 2022 0 comments

bermimpilah ketika sudah tertidur.

Beberapa hal tentang bodohnya diri ini baru aku sadari. Semua terpancing keluar dari sumur luka yang ternyata aku gali sendiri. Pelan namun aku konsisten melakukannya sehingga sekarang alat ukur yang aku punya sudah tak sanggup untuk memeriksanya. Sekian lama aku menekuninya sehingga kini aku semakin mahir untuk membuat luka di hatiku sendiri.

Hal itu juga membuktikan kalau tangga yang aku bangun ternyata tak membawaku keatas melainkan semakin menenggelamkanku ke angan yang abu-abu dan dipenuhi kabut. Selama ini aku terlalu sibuk menyuapi egoku, menyalurkan hobiku untuk menyangkal segala realita yang ada di depan mata, serta terlalu sering memupuk harapan palsu orang-orang sok tahu di sekitarku. Semua yang dulu aku lakukan tak berbuah apapun dan sekarang tersisa sesak dan sesal.
Langkah kaki yang terlanjur jauh terasa sia-sia ketika dipaksa kembali ke titik awal. Keringat kering ini belum menerima upahnya. Semua yang dikorbankan telah selesai perjuangannya. Aku lupa seharusnya mataku terpejam ketika bermimpi. Tak bisa aku menggapainya hanya dengan mengawang-awang hal yang sepertinya indah.

Ya, aku memang bodoh dan baru sadar sambil mengetik narasi ini. Seharusnya aku bermimpi ketika tertidur karena hanya saat itulah aku dapat merasakan bahagiaku.


Selasa, 05 April 2022 0 comments

berawal dari kedengkian.

Kilas balik, perihal kenapa pilih nama ini? Awalnya iseng aja. Dulu jaman SMP lagi asyik-asyiknya main Facebook kasih nama pet di sana nama ini, gabungan nama belakang sendiri sama imbuhan -wati, biar keliatan jenis kelaminnya apa.

Lanjut, gimana bisa ngide buat blog ini. Awalnya bukan dari blog juga sih. Pada mulanya Wattpad, terus karena emang gue-nya nggak sabaran dan nggak konsisten, pindah ke beberapa platform lain dengan harapan pengen banyak follower aja. Sempet ke tumbrl, joypad, banyaklah. Step stone paling keren sih jadi kontributor hipwee, sempet kirim beberapa cerpen juga. Tapi yang namanya manusia, masih nggak puas sama pencapaiannya sendiri. 

Darisana, nggak sengaja liat temen SMP yang punya podcast sendiri. Sebagai leo berdarah campuran, panas deh. Ngerasa kok gue gini-gini aja ya. Selidik punya selidik, dia juga punya blog. Langsung deh, buka-buka file lama yang dulu dilupakan. 

Tadinya nama yang dipilih bukan catatan tapi cerita. Lama-lama kok pengen disisipin cerpen sama segala cerita yang ga penting kayaknya nggak cocok kalo namanya cerita. Singkat cerita, tiba-tiba suka banget sama Febrian, salah satu travel enthusias di instagram. Dia juga kelola website pribadi nah, alamatnya www.ceritafebrian.com makanya terinspirasi dari sana. Namun lama-kelamaan berasa geli sendiri sama nama blog sendiri. Terus kepikiran ganti, akhirnya dipilihlah nama catatan, biar vibenya berasa anak sekolah gitu. 

Pengen banget cerita tentang pengalaman jalan-jalan ke blog ini. Walaupun nggak seberapa dan nggak jauh-jauh amat dari rumah. Daripada sebatas foto di instagram dan caption yang nggak seberapa itu pengen tulis semua cerita menyenangkan itu kesini. Tunggu niat dan waktu yang longgar, mumpung PPKM masih diperpanjang lagi dan belom ada cuan buat jalan lagi juga. 

Bukannya hobi jalan-jalan atau gimana. Sebenernya seneng aja keluar, lihat daerah lain dan cari bahan buat nanti aku ceritain ke anak waktu kasih mereka cerita sebelum tidur. 

Senin, 14 Maret 2022 0 comments

kata maaf untukku.

Lembar demi lembar yang dibuka terdengar dari balik selimut. Suara televisi yang biasanya berkumandang hari ini absen. Lolongan anjing tetangga sayup membangunkan tidurku yang belum lelap. Ribut di kepalaku masih belum selesai dengan perkaranya.

Maaf ini tak patut untuk mereka, aku yang seharusnya mendapatkan maaf itu. Aku tak bisa memilih dari rahim mana akan dilahirkan. Tak bisa memberi pendapat bagaimana cara dibesarkan. Hingga sekarang tak diberi ruang untuk sekedar hadir memberi pandangan. 

Waktu luang yang ada juga tak pernah disuguhkan hangat untukku. Remah-remahnya yang seharusnya dibuang malah dikumpulkan kembali. Mereka menempatkannya di bekas bungkus yang masih lumayan bagus, kembali memakaikan pitanya, dan memberikannya kepadaku seolah itu hadiah mewah jerih payah selama tak bersamaku. Aku yang polos sangat bahagia menerimanya tanpa bertanya apa aku layak menerimanya. 

Esok paginya aku jauh lebih mengerti, mencoba memahami kalau ini semua memang sudah menjadi takdirku. Walau masih terselip perih yang mengganjal perihal maaf yang tak pernah kudapat.

Kepingan kenangan kukumpulkan dan kususun sesuai garis waktu. Banyak kata yang kuingat, semua nyata tersirat. Bukan cincin yang mengikat melainkan segumpal nyawa yang tak punya pilihan dan dosa. Semua berawal dari janji yang tak pasti, bukan cinta untuk sehidup semati. 

Tak pernah ada penjelasan gamblang. Tak pernah ada alasan yang dikemukakan atau klarifikasi tentang segala asumsi yang berkeliaran. Awal yang tak indah tentu tak bisa berekspektasi indah pula. Segalanya menjadi kolaborasi cantik agar aku terluka sempurna.

Karena itu semua aku berhak mendapatkan maaf. Bukan malah aku yang harus berusaha berucap. Lalu, apa aku akan menjadi durhaka bila tak pernah berucap maaf?
 
;