Senin, 14 Maret 2022 0 comments

kata maaf untukku.

Lembar demi lembar yang dibuka terdengar dari balik selimut. Suara televisi yang biasanya berkumandang hari ini absen. Lolongan anjing tetangga sayup membangunkan tidurku yang belum lelap. Ribut di kepalaku masih belum selesai dengan perkaranya.

Maaf ini tak patut untuk mereka, aku yang seharusnya mendapatkan maaf itu. Aku tak bisa memilih dari rahim mana akan dilahirkan. Tak bisa memberi pendapat bagaimana cara dibesarkan. Hingga sekarang tak diberi ruang untuk sekedar hadir memberi pandangan. 

Waktu luang yang ada juga tak pernah disuguhkan hangat untukku. Remah-remahnya yang seharusnya dibuang malah dikumpulkan kembali. Mereka menempatkannya di bekas bungkus yang masih lumayan bagus, kembali memakaikan pitanya, dan memberikannya kepadaku seolah itu hadiah mewah jerih payah selama tak bersamaku. Aku yang polos sangat bahagia menerimanya tanpa bertanya apa aku layak menerimanya. 

Esok paginya aku jauh lebih mengerti, mencoba memahami kalau ini semua memang sudah menjadi takdirku. Walau masih terselip perih yang mengganjal perihal maaf yang tak pernah kudapat.

Kepingan kenangan kukumpulkan dan kususun sesuai garis waktu. Banyak kata yang kuingat, semua nyata tersirat. Bukan cincin yang mengikat melainkan segumpal nyawa yang tak punya pilihan dan dosa. Semua berawal dari janji yang tak pasti, bukan cinta untuk sehidup semati. 

Tak pernah ada penjelasan gamblang. Tak pernah ada alasan yang dikemukakan atau klarifikasi tentang segala asumsi yang berkeliaran. Awal yang tak indah tentu tak bisa berekspektasi indah pula. Segalanya menjadi kolaborasi cantik agar aku terluka sempurna.

Karena itu semua aku berhak mendapatkan maaf. Bukan malah aku yang harus berusaha berucap. Lalu, apa aku akan menjadi durhaka bila tak pernah berucap maaf?
Minggu, 13 Februari 2022 0 comments

bermimpi seharusnya ketika aku tertidur.

Beberapa hal tentang bodohnya diri ini baru aku sadari. Semua terpancing keluar dari sumur luka yang ternyata aku gali sendiri. Pelan namun aku konsisten melakukannya sehingga sekarang alat ukur yang aku punya sudah tak sanggup untuk memeriksanya. Sekian lama aku menekuninya sehingga kini aku semakin mahir untuk membuat luka di hatiku sendiri. 

Hal itu juga membuktikan kalau tangga yang aku bangun ternyata tak membawaku keatas melainkan semakin menenggelamkanku ke angan yang abu-abu dan dipenuhi kabut. Selama ini aku terlalu sibuk menyuapi egoku, menyalurkan hobiku untuk menyangkal segala realita yang ada di depan mata, serta terlalu sering memupuk harapan palsu orang-orang sok tahu di sekitarku. Semua yang dulu aku lakukan tak berbuah apapun dan sekarang tersisa sesak dan sesal.

Langkah kaki yang terlanjur jauh terasa sia-sia ketika dipaksa kembali ke titik awal. Keringat kering ini belum menerima upahnya. Semua yang dikorbankan telah selesai perjuangannya. Aku lupa seharusnya mataku terpejam ketika bermimpi. Tak bisa aku menggapainya hanya dengan mengawang-awang hal yang sepertinya indah. 

Ya, aku memang bodoh dan baru sadar sambil mengetik narasi ini. Seharusnya aku bermimpi ketika tertidur karena hanya saat itulah aku dapat merasakan bahagiaku.
Senin, 07 Februari 2022 0 comments

yang paling bersedih di hari minggu.

Tak terasa sudah hari Minggu lagi. Buat kamu mungkin ini hari yang ditunggu. Setelah enam hari digempur deadline dan rutinitas, akhirnya tiba saatnya untuk melepas penat dan lelah. Akhirnya punya kesempatan untuk bangun lebih siang dan bersantai.

Banyak rasa yang datang hari ini. Sebal, lelah, sedih, marah, semua saling sikut ingin menjadi pemeran utama. Tak ada yang jadi juara. Saat mereka merangsek datang, hanya sepi yang muncul di kepala.

Entah, seharusnya keramaian ini membuatku bahagia namun malah kebalikannya. Ramai ini hanya pura-pura, sementara namun menjadi akhir dari segalanya. Kepura-puraan ini membuatku semakin percaya kalau kebohongan yang akan menang. Semua yang dimulai dengan kebohongan pasti akan berakhir dengan kepura-puraan.

 


 
;