Senin, 13 Desember 2021 0 comments

jangan ada dongeng pengerat lagi!

Tak tahu harus tertawa atau menangis. Tertawa karena semua kebaikan yang sudah lama dilakukan seakan sia-sia dan itu semua hanya kebodohan yang pernah dilakukan atau kenangis pilu karena kebodohan yang kamu lakukan bertahun ternyata berimbas padaku. Bagaimana tidak, mimpi yang kukira bisa jadi kenyataan hancur karena kebodohanmu. Iya kebaikanmu selama ini adalah kebodohan.

Bodoh karena kamu baik kepada mereka. Pengerat tak tahu malu dan tak tahu diri. Sampai beranak cucu, dia mengemis. Rumahnya berkilau emas sedang yang iba dengannya hanya beralas tanah. Cukup mimpiku saja yang kamu kalahkan dengan kebaikan untuk mereka. Biar mereka bahagia dengan harta pemberian sedang aku bahagia dengan tangis perjuangan.

Sekarang pintaku sederhana. Duduk diamlah disana, kursi nyaman yang aku bangun dengan sisa kebaikanmu itu, nikmati hari tuamu dengan baik, sehatlah terus sampai aku bisa membalas sedikit kebaikanmu ini dengan segalanya yang kamu ingin. Cukup jangan dongengi aku lagi kisah pengerat yang tak tahu diri itu. Jangan katakan nama mereka didepanku, jangan kau agungkan mereka yang selama ini membodohimu, memperdayamu, dan menyalahgunakan kebaikanmu. Itu saja cukup. 
Sabtu, 04 Desember 2021 0 comments

semesta yang enggan mengiba.



Pergumulan, kepahitan, kecewa, putus asa, dan kesedihan merongrong kalbu ini. Entah mengapa, pikiran-pikiran itu sekelebat datang tanpa pertanda, merangsek hingga tembus ke dada yang berjubel dengan rasa sesal dan membaur menjadi satu dengan kebencian.

Tubuhku terbaring di atas ranjang kamar, namun jiwaku berpetualang entah kemana. Ia pergi membawa serta kegelapannya, berkelana mencari kenyamanan. 

Tanpa ekspresi aku menatap langit-langit kamar. Sesekali aku mengedipkan mata, membasahi permukaan kornea yang kering karena cahaya lampu. Hening. Tak ada satupun suara yang terdengar.

Perlahan cairan transparan meleleh beranak sungai. Bibirku terkatup tak sanggup berbincang. Suara-suara berisik di kepala mulai berteriak dan berkecamuk. Mereka menyatakan kehendaknya bersamaan. Tak sanggup lagi aku melerai mereka.

Tak terasa sudah berhari-hari aku melakukan ritual itu. Ritual yang membuatku lebih damai walau tanpa beraktivitas apapun. Lapar, dahaga, kantuk, silih berganti mendatangi namun tak ada daya yang dapat aku lakukan. Aku lebih memilih seperti ini, berdiam diri tanpa melakukan apapun.

Seperti masa pupa pada kupu-kupu, di pagi yang cerah aku kembali mengumpulkan semangat hidup. Serpihan itu aku tata kembali menjadi satu kesatuan yang utuh. Aku paham, itu semua percuma. Aku kembali menggarami, samudra yang luas. Aku melakukan sesuatu yang aku pikir akan berakhir dengan sia-sia dan penyesalan. Apalah dayaku, tak seorangpun yang aku percaya untuk sekedar berbagi beban.

Semesta ini tak punya nyali dan niat untuk membiarkan aku bahagia meski sedetik saja sehingga aku menciptakan bahagiaku sendiri. Kebahagiaan yang bisa jadi tak berarti untuk orang lain.

Minggu, 19 September 2021 0 comments

berjalan bersama orang asing.

Perjalanan ke antah berantah ini memenuhi kepala. Antara senang, sedih, dan marah membaur menjadi satu. Bukan perjalanan seperti ini yang aku dambakan selama ini. Roadtrip bersama orang asing yang disatukan karena sampah. Kegiatan ini agak menyita tenaga dan waktu. Sejak masuk ke dunia kerja sambilan, mungkin ini saat-saat yang agak sibuk. 

Pagi hari, tanpa banyak bicara hanya suara lekukan kertas yang menderu. Antrian mandi yang belom terurai mencegah turun dari ranjang. Berbagi kamar dengan tujuh orang asing ini cukup melelahkan. Kamar mandi yang hanya ada tiga dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing membuat daftar tunggu kamar mandi favorit membludak. Belom lagi durasi pemakaian yang beragam. Beberapa menyela antrian karena perut mengalami kontraksi. 

Siang hari, silih berganti menunggu antrian pemeriksaan berlembar-lembar plano. Makan siang terasa tak berlaku. Puncak di depan mata, tinggal revisi yang menanti. Tugas hampir berakhir, semoga besok datang yang lebih baik. 

Kabut jatuh, diiringi suara saling sahut dengan suara dari ponsel masing-masing. Lewat rerimbunan pohon cemara yang menjulang, sebuah warung kecil menjadi penyelamat perbauan duniawi. Sesak di dada datang lagi. Entah karena rindu yang belum terbalas atau virus yang menginfeksi.

Malam yang hangat bersama orang asing yang dingin. Riuh tepuk tangan untuk pemenang, pujian untuk yang lewat orang dalam, dan guyonan internal yang disambut oleh mayoritas. Campur sari mempererat persaudaraan. Foto bersama, pondasi kenangan. Prokes dilonggarkan, kerumunan diperketat. Tak ada yang tahu pasti apakah ini semua sudah kembali seperti dulu.

Pagi datang dan hari akan segera berakhir. Deras air hangat melegakan bahu. Singgasana telah diduduki. Perut siap diisi kembali. Sayup keroncong memanjakan telinga. Selimut tebal membekap raga. 

Piring-piring menjulang. Berbagai menu sarapan disuguhkan. Deretan hijau pinus menyayangkan kepergian. Derai dedaunannya menolak ku meninggalkannya. 

Waktu kosong kembali menyatukan orang-orang asing ke dalam liang. Buaian lagu pop kuno menjadi pilihan yang menyatukan suara parau kami. Diiringi suara om Is yang syahdu, kami pun tenggelam dalam nada. 

Es kampul di Karanganyar tapi rasa Sulawessi. Berburu batik untuk buah tangan dari sini. Kaos smiley yang menghibur serta pertigaan arah Bekonang yang menguar memori. 

Hujan yang baik tahu waktu yang tepat untuk jatuh. Kata pamit yang terakhir ini jadi awal yang baru untuk perjalanan selanjutnya. Walau belum tahu akan kemana namun aku percaya kakiku akan sanggup melanjutkannya. Hal yang paling disenangi ketika bepergian adalah pulang.


Tawangmangu, September 2021.

 
;