Sabtu, 27 Februari 2021 0 comments

aku, kau, dan laut

Laut kembali gaduh. Riak-riak ombak menari abstrak menerjang karang. Ia memporak-porandakan perkampungan yang tak jauh darinya. Hatinya panas melihat Angkasa. Ia sedang cemburu kepada Angkasa karena ia selalu diramaikan oleh Bintang.

"Kenapa lagi? Kamu masih marah padaku?" tanya Angkasa.

Laut hanya diam. Buih-buih putih membuncah. Ia menarik air ke tengah dan menyemburkannya kembali ke daratan dengan cepat. Ia tak memberi ampun. Bintang yang mengetahui kemarahan Laut hanya mengedip kepada kedua kawannya, Bulan dan Matahari.

"Laut," panggil Bintang pelan.

Laut tak menggubris. Ia masih dipenuhi emosi. Ia kembali mengirim air ke daratan, kali ini dengan kuantitas yang lebih besar dan dengan ombak setinggi lebih dari pohon kelapa. Ia marah, semarah-marahnya. Ia melampiaskan segala emosinya.

Awan yang melihat, menangis. Matahari meredupkan cahayanya. Bulan bersembunyi di balik kelam.

Laut merasa sendirian. Ia pikir semua lebih memilih Angkasa—Bintang yang setia menghiasinya, Awan yang menari di tubuhnya, juga Bulan dan Matahari yang seolah tak pernah benar-benar berpihak padanya. Kesepian itu menggerus.

Yang tak ia tahu, Angkasa pun menyimpan rahasia besar di bawah lengkung indah Pelangi: rahasia tentang sepi yang sama, sepi di tengah keramaian. Karena meski Bulan dan Matahari memang tak bergantung pada Laut, mereka ada untuknya. Sama seperti Laut selalu ada untuk Angkasa, tanpa pernah benar-benar mereka sadari.

Mungkin, semua hanya soal siapa yang lebih dulu berani mengaku kesepian.

Senin, 22 Februari 2021 0 comments

kepada sesuatu yang sedang bergibah di kepala.

Kepada sesuatu yang sedang bergibah di kepala, dihimbau untuk segera keluar dikarenakan aku ingin tidur. Terima kasih.

Aku hanya bisa menghela napas panjang tiap kali mereka datang. Biasanya di malam hari, tapi entah akhir-akhir ini mereka sering mencuri-curi waktu untuk bertemu denganku. Kangen katanya.

Seberapa kuat aku untuk menolaknya masuk, mereka tetap merangsek ke dalam. Mungkin pagar rumahku yang tak terlalu kokoh untuk menghalaunya. Atau akunya saja yang tak bisa bernegosiasi dengan mereka.

Pagi kemarin mereka datang. Mereka bahkan menemaniku sampai ke kantor. Saat aku bekerja, aku sedikit mendiamkan mereka. Aku suguhi mereka dengan sedikit air dan cemilan habisnya aku tak ada daya untuk menyuruh mereka pulang. Lepas dari kantor, mereka bertamu kembali dan baru dini hari tadi mereka pulang. Itupun karena aku tertidur mendengar bualan mereka.

Mereka selalu bilang kalau aku tak ada apa-apanya dibanding yang lain. Tak ada pencapaian yang bisa dibanggakan. Semua yang sudah aku lakukan sia-sia yang lain sudah terlanjur jauh, sudah tak terlihat. Tak ada celah untuk menyusul.

Aku sadar itu semua benar. Kalau dibanding mereka aku memang tak ada apa-apanya. Aku hanya lulusan D4, tak seperti kawan SMP ku yang sudah lulus S2. Universitas negeri pula. Aku juga tak seperti dia yang sekarang menjadi abdi negara. Aku? Seorang staff proyek yang tak punya tanggal merah dan jam kerja yang pasti, itupun tetap tak membuat penghasilanku lebih besar daripada mereka yang jam kerjanya 8/16.

Apalagi?

Aku belum seperti teman sebangku kuliahku dulu yang saat ini punya keluarga kecil bahagia versinya. Aku? Masih merindu pacar yang padahal tak kumiliki.

Benar kata mereka. Boro-boro beli rumah, mobil, motor, atau main saham, untuk beli shampo pun aku lebih memilih beli ketengan. Sepatu yang aku pakai ke kantor, nongkrong bersama mereka, atau berolahraga gratis juga hanya itu. Tak aku ganti sejak kedatanganku di ibukota. Di akhir bulan tak jarang aku memanfaatkan pay later. Berkahnya aku rajin puasa kalau uang makan telat cair.

Semua yang mereka musyawarahkan di kepalaku itu memang benar. Aku tak mengelaknya. Aku tak menyalahkannya. Aku memang belum ada apa-apanya dibandingkan mereka.

Tapi kenapa hanya aku yang mereka bicarakan? Memang mereka semua sudah mendapat semua yang mereka inginkan? Apa mereka sebahagia seperti yang terlihat? Semesta tak akan sebaik itu kepada mereka, kan?

Ini dunia nyata. Tak mungkin mereka yang rupawan sudah pasti akan kaya raya.

Toh, rupawan juga punya makna yang berbeda di setiap kepala.

Kalian, tolong pelankan suara. Aku sudah kenyang dengan nasehat kalian. Sekarang waktunya aku yang bergerak. Cukup doakan, perhatikan langkahku, dan sesekali ingatkanku bila aku mulai meracau.

Aku sedang mencari makna sukses versi aku sendiri.

Biarkan aku menang lewat jalanku sendiri agar aku benar-benar bangga menjadi aku. Biarkan juga aku jatuh karena salahku bukan karena kau hendak menghancurkanku. Tapi ijinkan aku belajar dari pengalaman kalian agar aku bisa menjadi sebaik dan sehebat kalian.

Jumat, 19 Februari 2021 0 comments

semangkuk wedang ronde.

 
;