Senin, 22 Februari 2021 0 comments

kepada sesuatu yang sedang bergibah di kepala.

Kepada sesuatu yang sedang bergibah di kepala, dihimbau untuk segera keluar dikarenakan aku ingin tidur. Terima kasih.

Aku hanya bisa menghela napas panjang tiap kali mereka datang. Biasanya di malam hari, tapi entah akhir-akhir ini mereka sering mencuri-curi waktu untuk bertemu denganku. Kangen katanya.

Seberapa kuat aku untuk menolaknya masuk, mereka tetap merangsek ke dalam. Mungkin pagar rumahku yang tak terlalu kokoh untuk menghalaunya. Atau akunya saja yang tak bisa bernegosiasi dengan mereka.

Pagi kemarin mereka datang. Mereka bahkan menemaniku sampai ke kantor. Saat aku bekerja, aku sedikit mendiamkan mereka. Aku suguhi mereka dengan sedikit air dan cemilan habisnya aku tak ada daya untuk menyuruh mereka pulang. Lepas dari kantor, mereka bertamu kembali dan baru dini hari tadi mereka pulang. Itupun karena aku tertidur mendengar bualan mereka.

Mereka selalu bilang kalau aku tak ada apa-apanya dibanding yang lain. Tak ada pencapaian yang bisa dibanggakan. Semua yang sudah aku lakukan sia-sia yang lain sudah terlanjur jauh, sudah tak terlihat. Tak ada celah untuk menyusul.

Aku sadar itu semua benar. Kalau dibanding mereka aku memang tak ada apa-apanya. Aku hanya lulusan D4, tak seperti kawan SMP ku yang sudah lulus S2. Universitas negeri pula. Aku juga tak seperti dia yang sekarang menjadi abdi negara. Aku? Seorang staff proyek yang tak punya tanggal merah dan jam kerja yang pasti, itupun tetap tak membuat penghasilanku lebih besar daripada mereka yang jam kerjanya 8/16.

Apalagi?

Aku belum seperti teman sebangku kuliahku dulu yang saat ini punya keluarga kecil bahagia versinya. Aku? Masih merindu pacar yang padahal tak kumiliki.

Benar kata mereka. Boro-boro beli rumah, mobil, motor, atau main saham, untuk beli shampo pun aku lebih memilih beli ketengan. Sepatu yang aku pakai ke kantor, nongkrong bersama mereka, atau berolahraga gratis juga hanya itu. Tak aku ganti sejak kedatanganku di ibukota. Di akhir bulan tak jarang aku memanfaatkan pay later. Berkahnya aku rajin puasa kalau uang makan telat cair.

Semua yang mereka musyawarahkan di kepalaku itu memang benar. Aku tak mengelaknya. Aku tak menyalahkannya. Aku memang belum ada apa-apanya dibandingkan mereka.

Tapi kenapa hanya aku yang mereka bicarakan? Memang mereka semua sudah mendapat semua yang mereka inginkan? Apa mereka sebahagia seperti yang terlihat? Semesta tak akan sebaik itu kepada mereka, kan?

Ini dunia nyata. Tak mungkin mereka yang rupawan sudah pasti akan kaya raya.

Toh, rupawan juga punya makna yang berbeda di setiap kepala.

Kalian, tolong pelankan suara. Aku sudah kenyang dengan nasehat kalian. Sekarang waktunya aku yang bergerak. Cukup doakan, perhatikan langkahku, dan sesekali ingatkanku bila aku mulai meracau.

Aku sedang mencari makna sukses versi aku sendiri.

Biarkan aku menang lewat jalanku sendiri agar aku benar-benar bangga menjadi aku. Biarkan juga aku jatuh karena salahku bukan karena kau hendak menghancurkanku. Tapi ijinkan aku belajar dari pengalaman kalian agar aku bisa menjadi sebaik dan sehebat kalian.

Jumat, 19 Februari 2021 0 comments

semangkuk wedang ronde.

Rabu, 08 April 2020 0 comments

Dear Tante Lina: Panggil Aku, Please!

Badanku terbujur kaku jiwaku melayang-layang menunggu panggilan dari seseorang yang entah dimana dan siapa. Sehari, dua hari, seminggu, sebulan berlalu begitu saja. Tak ada kabar darimu sama sekali. Kolong plafon kamarku ini jadi saksi bisu. Enam bulan usai pesta pora atas prosesi pemindahan temali dari kiri ke kanan yang memakan waktu dan biaya yang tak sedikit berbanding terbalik dengan apa yang dapat kulakukan sekarang.

"Nanti kalau prosesnya sudah selesai, kami hubungi via telepon atau e-mail. Ada yang mau ditanyakan lagi?" Senyum penuh misteri dipertontonkan olehmu kala itu. Aku hanya dapat membalasnya, "Sudah cukup." Aku merapikan kemeja merah mudaku, bergegas menyambar jabat tanganmu, dan meninggalkan ruangan bernuansa putih itu. Sepertinya bukan pertanda baik kalau dilihat dari ekspresimu tadi, sudahlah tunggu saja.

"Semoga ini harinya." doaku setiap kaliku membuka mata. Semilir sepoi surgawi berhembus. "Iya, firasatku hari ini. Semoga." Imbuhku dengan penuh optimis. Mataku berbinar mendengar bunyi notifikasi. Lekas kuambil ponselku, komat-kamit kupanjatkan doa. Nasib sial masih menghantui, ternyata cuma grup chat info lowongan.

Aku tak tahu apakah penantian panjang ini akan sepadan. Apa ekspektasiku yang terlalu tinggi? Atau aku tak pantas untuk mendapatkannya? Aku terheran.

Sore menjelang, jam kerja telah berlalu. Tak mungkin lagi kabar datang hari ini. Sehari berlalu begitu saja. Tak ada hasil. Tenggorokanku semakin kering tanpa pelepas dahaga.

Hari baru, harapan baru. Jemariku tak mau terdiam sedari tadi. Netraku menatap layar ponsel yang sedari pagi kupeluk. Baris demi baris ku baca. Satu viewed, dua viewed, tak hanya sebaris atau dua baris saja. Tiga puluh baris atau mungkin lebih. Kubuka tutup surel, siapa tahu kabarmu menyangkut di udara.

Aku masih menunggu kabar darimu, Tante Lina.


 
;