kuat ndaftar, lemah latihan
Recap dua event race kemarin. Sama-sama rame, sama-sama bikin basah kuyup, penuh pelari elit, dan seperti biasa, geng gerbong belakang cuma sendiko dawuh mbukak dalan wae yang penting sadar posisi. Ora usah sok-sokan nyalip orang depan kalau ujungnya minggir sambil megang dengkul sendiri.
Race 1 — Tugu Muda Marathon (TMM)
Datang dengan modal muka kenceng padahal aslinya masih trauma sama over COT Semarang Mountain Race. Belum sembuh mentalnya, sudah daftar race lagi. Ya gimana ya, kadang manusia memang hobi mengulangi penderitaan dengan nomor BIB berbeda.
Awal race masih sok tenang. Pace dijaga biar nggak kemrungsung sendiri di awal. Tapi makin lama makin mumet. Terutama tiap ketemu perempatan. Fokus lari buyar karena harus mikir nyebrang sambil lihat motor, marshal, pelari lain, sama nyawa sendiri. Ini race apa simulasi bertahan hidup.
Terus entah kenapa, di saat badan mulai haus dan berharap isotonik, malah nggak nemu sama sekali. Adanya air putih yang langsung kokop dari botolnya tanpa harga diri. Yang penting hidup lanjut dulu. Belum lagi cuacanya. Panasnya tuh bukan panas biasa, tapi panas yang bikin orang jadi gampang sambat dan mempertanyakan semua keputusan hidup sejak daftar race.
Cheering juga chaos. Baru semangat dikit, eh pas lewat malah bubar karena pada ikut zumba Tabola-Bale. Pelari lewat kayak figuran yang numpang lewat acara senam warga. Kita ngos-ngosan, mereka joget penuh senyum. Tidak adil memang dunia ini. Dan yang paling jebakan batman: elevasinya. Jalan Pamularsih ternyata pedes juga buat dengkul jelly ini. Tapi ya begitulah TMM. Race yang bikin sadar kalau lari di kota tetap bisa nyiksa walaupun tanpa lumpur dan tanjakan gunung.
Race 2 — Jogja10K
Kalau TMM masih ada persiapan dikit-dikit, Jogja10K ini benar-benar sak isone. Nggak tidur karena keberisikan check sound. Iya, capsulenya terlalu deket sama venue jadi ya begitu. Tapi sebenernya enak juga, pas pagi jadi ga keburu-buru buat cabut. Pulang race masih bisa mandi cantik di capsule. Sudah kayak panitia pensi, bukan orang mau race. Badan capek, mata panas, tapi tetap sok yakin besok kuat lari. Padahal pemanasan aja rasanya pengen rebahan di trotoar.
Untung masih ada salonpas spray, penyelamat umat gerbong belakang. Itu barang lebih berguna daripada motivational quote pelari di Instagram. Karena kenyataannya, pas kaki mulai ketarik, yang dicari bukan “trust the process” tapi semprotan dingin biar dengkul nggak copot. Race dimulai dan benar saja, dari awal kaki sudah terasa ngajak kompromi. Gending di kepala tuh sudah bukan “ayo push pace”, tapi “jalan timik-timik gapapa yang penting finish.”
Basah kuyup? Jelas. Air dan isoplus di race ini sudah bukan buat diminum lagi, tapi hampir bisa buat mandi. Disemprot, dituang, diminum sedikit, sisanya numpang lewat kaos sama muka. Tapi satu hal yang nggak bisa dibohongi dari Jogja10K: cheering-nya memang niat pake banget. Gending Jawa berasa pengen jalan timik-timik kayak penganten. Terus dari Sayidan sampai jalanan menuju finish, isinya teriak-teriak semua. Ada yang nyetel musik, ada yang joget, ada yang random teriak nyebut nama BIB orang kayak commentator MotoGP. Bahkan sampai ada mas Ndarboy kicau mania di area finish.
Seperti race-race ramai lainnya, chaos sebenarnya baru dimulai di akhir. Ambil medal desek-desekan. Refreshment penuh manusia kelaparan. Semua muka sudah mirip survivor bencana alam yang antre bantuan logistik. Fun dari ngendi cuk. Tapi ya tetap saja, se-capek, se-chaos, dan sebanyak apapun sambatnya, ujung-ujungnya tetap daftar race lagi. Karena ternyata sebagian pelari itu bukan suka lari. Cuma suka punya alasan buat nyiksa diri rame-rame tiap akhir pekan.
Awalnya mikir, “alah kota doang.” Ternyata lumayan juga pedesnya. Nggak brutal memang, tapi cukup buat paha mulai ngajak debat di kilometer akhir. Jadi sepanjang race isinya ya sambat panas, sambat nanjak, sambat haus, sambat hidup. Lengkap.
Buat besti-besti sosmed yang ngira aku lari karena gamon. Jujurly lagi nggak galau ya gess. Nek sampai daftar Rinjani100K itu baru tanda-tanda.






Komentar
Posting Komentar