every minutes matters.
Semarang Mountain Race, event yang sebenarnya dari awal nggak pengen-pengen banget diikuti karena sudah terlanjur daftar Tugu Muda Marathon. Mengingat kemampuan masih segitu-gitu aja dan race day-nya cuma selisih seminggu, ada rasa takut juga buat daftar. Tapi ya beginilah, kalau sudah pengen pasti harus keturutan. Akhirnya daftar juga event itu, modal nekat dan niat pengen finish. Latihan? Ya sewajarnya manusia saja, nggak yang gimana-gimana juga.
Berjalannya waktu, sampailah ke hari yang ditunggu-tunggu. Hari H race semua terasa biasa saja. Dari start sampai antre turun ke sungai masih haha-hihi aja bawaannya. Sudah berasa Semarang Mountain and River daripada run, karena tiap beberapa ratus meter ketemu sungai lagi.
Belum sampai WS 1, tiba-tiba kaki mulai terasa kram. Semakin dipaksa, semakin narik. Padahal dari awal sudah mikir mau ngejar waktu di turunan saja karena sadar diri kalau di tanjakan susah napas. Eh, belum WS 1 kok kaki sudah terasa berat begini.
Di WS 1 akhirnya melipir sebentar buat minta salonpas spray ke tim medis, makan beberapa potong semangka, isi ulang softflask, lalu lanjut lagi. Turun dari WS 1 kaki masih terasa ketarik, tapi tetap dipaksa buat lari timik-timik.
Apalah daya, jalur turunannya ternyata nggak sesuai ekspektasi. Jalanannya jeblok semua, jauh dari bayangan awal. Sudah kaki ketarik, jalurnya rusak, macet pula. Makin lama lah awak buat turun. Rasanya sudah kayak kebo bajak sawah. Bokong kiri juga sudah full lumpur entah karena jatuh atau kepeleset berapa kali.
Nggak tahu di selokan sebelum ketemu sawah, akhirnya nyemplung saja buat bersihin celana sama sepatu. COT sudah kurang dari setengah jam lagi, tapi jalur rasanya masih panjang banget. Sepanjang area sawah panasnya mulai terasa dan mulut sudah full misuh karena sadar bakal over COT.
Dan benar saja, ini jadi race pertama yang pulang nggak bawa medal karena over COT tujuh menit. Sebelnya ada banget. Mana habis itu ketemu Mas Cik, terus beliau nanya, “kok nggak bawa medal?” Asal jawab aja, "Tahun depan aku remidi, mas." Ketawa aja beliaunya.
Ya sudah. Pelajarannya jelas: kalau mau race, persiapan latihan yang benar, cuk. Jangan ngeremehin.







Komentar
Posting Komentar