Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2025

semua karena bacotmu yang jahat.

"Janji ga marah?" "Iya, emang kenapa dulu tapi?" Aku hanya tertawa mendengar cerita dari Ibuk. Bingung saja harus merespon bagaimana. Apa aku perlu mengirim kue ke rumahmu untuk ucapan terima kasih? Atau aku harus bagaimana?  Gimana aku bisa marah? Katamu aku bisa kesana karena kamu memintakan doa ke 'orang pintar'. Terus, bagaimana dengan doa orang-orang yang memang tulus mendoakanku tanpa aku minta? Bagaimana dengan usaha belajarku siang dan malam sampai aku mengurangi waktu tidur, scroll, dan nongkrongku? Bagaimana dengan kursus online dan try out berbayar yang kuusahakan agar hidupku lebih baik dari hari ini? Apa Tuhan hanya mendengar doa dari 'orang pintar' mu itu saja?  Tapi kalau di tarik mundur jauh ke belakang, apa yang bisa aku capai sampai sekarang ini memang karena bacotmu yang jahat. Omonganmu memang jadi bahan bakarku untuk hidup lebih baik darimu tanpa meminta bantuan dari orang lain. Hinaanmu jadi semangatku untuk belajar lebih giat, ...

sempurna saja tak cukup.

Entah mengapa aku selalu merasa tak pernah pantas menjadi “aku”. Aku memang biasa saja, belum punya banyak pencapaian seperti orang lain, namun aku merasa menjadi “aku” benar-benar tak ada beban dan aku tak pantas seperti ini. Rasa damai yang ku damba kini terjadi walau aku ada di kamar kost yang kecil. Rasa tenang yang ku ingin ada walau kehilangan beberapa orang rasanya tak mengenakan. Tapi menjadi “aku” tak pernah ku bayangkan seberat ini sebelumnya. Orang kira tanyaku ini sekadar keluhan. Orang kira ini sekadar drama. Padahal ini bukan sekadar bertanya pada hidup, tapi bertanya pada diriku sendiri. Tentang kenapa aku selalu merasa harus mengejar sesuatu agar dianggap layak, tentang kenapa aku merasa tak pernah cukup meski sudah berusaha jadi versi terbaik. Sempurna saja ternyata tidak cukup. Tidak cukup untuk menenangkan omongan orang yang selalu punya standar mereka sendiri. Tidak cukup untuk membuat mereka berhenti menilai kenapa aku belum menikah, kenapa aku belum punya ini, bel...

low pace, long story

Gambar
Awalnya aku lari bukan karena suka. Bukan juga karena ingin jadi pelari. Aku lari semata-mata untuk persiapan naik gunung. Biar kaki nggak kaget pas diajak nanjak, biar napas nggak engap waktu summit. Latihan pun simpel: seminggu dua kali, cukup sebulan sebelum hari H pendakian. Habis itu? Ya sudah, sepatu lari masuk lagi ke pojokan rak. Tapi ternyata kebiasaan kecil itu menempel. Lari yang tadinya cuma “bekal nanjak” perlahan jadi sesuatu yang kucari. Entah kenapa, meski nggak ada agenda mendaki, aku tetap pengin keluar, ikat sepatu, dan gas lari. Kadang di jalan sekitar rumah, kadang di jalan kota, kadang cuma keliling GOR. Pace? Masih keong. Long run? Masih belum bisa. Suka banget sama lari? Jujur aja, masih belum. Tapi yang jelas, lari sudah jadi bagian dari rutinitas. Walaupun latihan nggak selalu konsisten, setidaknya dalam seminggu aku bisa dapat 10K. Dan dari situ aku sadar, lari itu bukan soal siapa yang paling cepat atau siapa yang bisa jauh. Lari itu soal keberanian untuk te...

perempuan dan ubin kamar mandi

Ramai di sosmed kalau laki-laki memilih diam, duduk sendiri minum kopi kemasan botol sambil merokok di depan minimarket. Semua bisa saja benar — tapi hal itu juga bisa kulakukan. Bukan karena mau menyaingi, tapi karena itulah yang sebenarnya terjadi padaku. Kadang aku tak tahu harus bercerita ke siapa, jadi aku memilih menyendiri di kos sambil menggosok ubin kamar mandi. Ada sesuatu yang ritualis dari aktivitas itu: busa sabun, gerakan memutar kain lap, air yang mengalir. Semakin bersih ubin, seolah-olah semakin banyak pula masalah hidup yang kupentingkan untuk disikat sendiri. Ubin yang mengkilap menjadi ukuran betapa rapi kehidupan yang kubiarkan orang lihat—padahal permukaannya saja, bukan isi bak cucianku yang kusam. Aku kadang tidak bisa mengeluarkan perasaanku yang sebenarnya, terutama rasa sedih. Menangis di depan orang lain? Sampai hari ini itu terasa mustahil. Aku masih mengulik kenapa. Mungkin karena sejak lama aku diajari untuk kuat, untuk menahan, untuk tidak merepotkan. Mu...