Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2025

the romantic part of my life is just beginning.

Aku duduk di coffeeshop yang baristanya sudah hafal pesananku. Tanpa banyak kata, aku membayar dan duduk di tempat biasanya. Usai menelepon, aku memutar album baru Hindia yang belom aku dengarkan semuanya. Walau puasa, tempat ini tetap ramai dengan orang-orang sibuk yang mengadakan meeting di luar kantor. Tak lama hujan turun. Aku hanya bisa mendengarkan suara Baskara, samar rintik hujan dan omongan tak jelas orang-orang yang mengomongkan topik yang menurut mereka penting. Detik itu aku merasa seperti di dalam film. Dibayanganku, aku seperti Bella Swan yang sedang duduk di depan jendela besar. Kamera berputar mengelilingiku, menangkap ekspresiku yang sebenarnya biasa saja tapi tak tahu detik itu aku merasa senang saja. Speed diperlambat sekian milidetik. Soundtrack hindia, everything you are sayup mulai terdengar. The romantic part of my life is just beginning . Satu persatu doaku tembus ke langit. Aku takut perayaan ini terlalu cepat. Aku takut salah menangkap perasaanmu. Aku takut p...

tanpa perayaan.

Ada yang sibuk merayakan pencapaiannya padahal di sudut lain ada yang menderita karena ketidakpekaannya. Aku tidak menyalahkan siapapun atas kegagalan yang selama ini merongrongku. Aku tak merengek walau dunia selalu tak sejalan denganku. Aku tak minta banyak bantuan untuk melangkah walau kakiku telah koyak. Aku terus berlari menggunakannya meski aku tahu, tak mungkin aku dapat melakukannya. Selamaku hidup, poros semesta berputar padamu. Sebanyak apapun usaha yang kuberikan, rasanya tak pernah cukup di matanya. Aku yang bernomor punggung dua, tetap tak pernah menjadi prioritas. Tetap namanya yang terpatri menjadi nomor satu meski yang ia beri tak lebih dari yang ia terima. Ia sibuk menyuapi egonya sendiri dan menganggap semua telah cukup. Aku tahu aku juga tak pernah lebih darinya tapi dari sedikit yang aku punya, tetap ku coba untuk memprioritaskan kepada yang seharusnya. Suaraku tak pernah lebih lantang. Semua harus berada di bawahnya tanpa semua sadari. Apapun yang terjadi meski kam...

dilarang jujur di proyek

Gambar
Ada aturan sederhana tapi sakral di sini: dilarang jujur di proyek! Jangan coba-coba. Jujur itu sama saja menggali lubang kuburmu sendiri, lalu orang-orang akan dengan senang hati menimbunmu hidup-hidup. Di sini, jujur bukanlah nilai, melainkan penyakit. Orang yang jujur dianggap bodoh, naif, dan tidak tahu diri. Aku sudah terlalu sering jadi saksi bisu kebusukan mereka. WhatsApp penuh perempuan muda yang haus perhatian, panggilan video mesra dengan istri sah di rumah sambil tangan sibuk meraba LC di samping. Ajaib, bukan? Dua dunia berjalan bersamaan tanpa rasa bersalah. Satu demi satu wajah mereka kuingat, bukan karena kagum, tapi karena jijik. Awalnya aku kira hanya oknum. Tapi semakin lama, semakin jelas bahwa sistem ini memang dibangun dari kebohongan. Satu dari ratusan mungkin bisa dipercaya, sisanya? Ya, pelatih semua. Kejahatan yang belum mereka coba mungkin cuma membunuh. Dan aku kadang bingung, apakah itu karena mereka belum ada kesempatan, atau karena memang jadwalnya belum ...

semua yang kulihat seperti film fiksi yang tidak benaran terjadi.

Aku kembali dari perjalanan yang pernah kubayangkan tapi tak pernah aku harapkan datang secepat ini. Malam itu semua berjalan seperti biasa. Video call dari orang rumah menemani makan malamku. Aku ingat hari itu aku gofood ayam madura dari kantor yang sempat aku tawarkan kepadamu yang sudah terbaring lemah. Namun aku tak pernah tahu kalau itu makanan terakhir yang aku tawarkan kepadamu. Kamu mungkin sudah sadar akan ada hari ini sebelumnya namun sikapku masih saja dingin tak tahu apa-apa. Sehari sebelum Natal sampai aku kembali dari libur Tahun Baru Islam sikapku masih acuh tak acuh kepadamu. Syukurnya, aku masih sempat membelikan kurma terakhir untukmu dan semangkuk bubur Ta-wan yang sudah kamu minta sebelum kamu sampai di Semarang. Ibu bahkan sudah mewanti-wanti untuk menuruti semua pintamu agar tak ada penyesalan bila ini menjadi permintaan terakhirmu. Ternyata yang dibilang Ibu, benar terjadi. Semua seperti mimpi yang sampai sekarang masih belum aku cerna dengan baik. Perasaanku ya...