Selasa, 11 Maret 2025 0 comments

the romantic part of my life is just beginning.

Aku duduk di coffeeshop yang baristanya sudah hafal pesananku. Tanpa banyak kata, aku membayar dan duduk di tempat biasanya. Usai menelepon, aku memutar album baru Hindia yang belom aku dengarkan semuanya. Walau puasa, tempat ini tetap ramai dengan orang-orang sibuk yang mengadakan meeting di luar kantor. Tak lama hujan turun. Aku hanya bisa mendengarkan suara Baskara, samar rintik hujan dan omongan tak jelas orang-orang yang mengomongkan topik yang menurut mereka penting. Detik itu aku merasa seperti di dalam film.

Dibayanganku, aku seperti Bella Swan yang sedang duduk di depan jendela besar. Kamera berputar mengelilingiku, menangkap ekspresiku yang sebenarnya biasa saja tapi tak tahu detik itu aku merasa senang saja. Speed diperlambat sekian milidetik. Soundtrack hindia, everything you are sayup mulai terdengar.

The romantic part of my life is just beginning. Satu persatu doaku tembus ke langit. Aku takut perayaan ini terlalu cepat. Aku takut salah menangkap perasaanmu. Aku takut pesta ini kunikmati sendirian dan aku kembali terpuruk. Ragam wajahmu saja aku belum tahu. Luka yang kemarin juga belum pudar dari ingatan. I put everything on him but i'm not found a happy ending.

I learnt from it dan hasilnya sekarang aku bingung dengan mauku sendiri. Ketika ada seseorang datang aku malah kalang kabut sendiri. Aku tak mau terlalu melekat tapi tak mau melepaskan. Aku meniru apa yang dia lakukan dulu kepadaku. Apa aku jahat? Iya, aku tahu itu tapi kalau kamu harus tahu sebabnya, aku takut kehilangan (lagi). Aku belum tau apa traumanya. Aku cuma takut kalau ia mengikatku terlalu erat sampai aku tak bisa bernapas. Usahaku kali ini mudah-mudahan kembali menembus langit. Namun aku menyisakan sedikit ruang untuk kecewa yang semoga tak akan terpakai.
0 comments

tanpa perayaan.

Ada yang sibuk merayakan pencapaiannya padahal di sudut lain ada yang menderita karena ketidakpekaannya. Aku tidak menyalahkan siapapun atas kegagalan yang selama ini merongrongku. Aku tak merengek walau dunia selalu tak sejalan denganku. Aku tak minta banyak bantuan untuk melangkah walau kakiku telah koyak. Aku terus berlari menggunakannya meski aku tahu, tak mungkin aku dapat melakukannya.

Selamaku hidup, poros semesta berputar padamu. Sebanyak apapun usaha yang kuberikan, rasanya tak pernah cukup di matanya. Aku yang bernomor punggung dua, tetap tak pernah menjadi prioritas. Tetap namanya yang terpatri menjadi nomor satu meski yang ia beri tak lebih dari yang ia terima. Ia sibuk menyuapi egonya sendiri dan menganggap semua telah cukup. Aku tahu aku juga tak pernah lebih darinya tapi dari sedikit yang aku punya, tetap ku coba untuk memprioritaskan kepada yang seharusnya.

Suaraku tak pernah lebih lantang. Semua harus berada di bawahnya tanpa semua sadari. Apapun yang terjadi meski kamu lebih baik, kamu tak boleh lebih darinya. Itu adalah peraturan tak tertulis namun wajib ditaati apapun yang terjadi.

Dan aku lelah. Lelah menjadi bayangan yang dipaksa untuk tetap redup agar cahaya palsunya terlihat lebih terang. Lelah menahan diri agar tidak melangkah lebih jauh hanya karena takut menyalahi aturan yang bahkan tidak pernah aku buat. Ada kalanya aku ingin berhenti, melepaskan nomor di punggungku, dan berjalan pelan dengan kakiku yang koyak—tanpa lagi berlomba, tanpa lagi mengukur diriku dengan dia.

Karena bukankah hidup seharusnya bukan tentang siapa yang lebih dulu sampai, tapi bagaimana kau tetap bisa bernapas setelah semua luka? Aku ingin percaya bahwa suatu hari, meski aku selalu nomor dua di matanya, aku bisa jadi nomor satu di mataku sendiri.
0 comments

dilarang jujur di proyek


Ada aturan sederhana tapi sakral di sini: dilarang jujur di proyek! Jangan coba-coba. Jujur itu sama saja menggali lubang kuburmu sendiri, lalu orang-orang akan dengan senang hati menimbunmu hidup-hidup. Di sini, jujur bukanlah nilai, melainkan penyakit. Orang yang jujur dianggap bodoh, naif, dan tidak tahu diri.

Aku sudah terlalu sering jadi saksi bisu kebusukan mereka. WhatsApp penuh perempuan muda yang haus perhatian, panggilan video mesra dengan istri sah di rumah sambil tangan sibuk meraba LC di samping. Ajaib, bukan? Dua dunia berjalan bersamaan tanpa rasa bersalah. Satu demi satu wajah mereka kuingat, bukan karena kagum, tapi karena jijik.

Awalnya aku kira hanya oknum. Tapi semakin lama, semakin jelas bahwa sistem ini memang dibangun dari kebohongan. Satu dari ratusan mungkin bisa dipercaya, sisanya? Ya, pelatih semua. Kejahatan yang belum mereka coba mungkin cuma membunuh. Dan aku kadang bingung, apakah itu karena mereka belum ada kesempatan, atau karena memang jadwalnya belum masuk agenda.

Aku sudah mencoba segala cara untuk keluar. Kuliah lagi, mencoba memulai hidup baru, bahkan sempat terpikir menikah biar punya alasan lari. Tapi setiap pintu yang kubuka, tetap saja temboknya sama: dunia ini busuk, dan aku masih terjebak di dalamnya.

Di proyek, kebenaran itu bukan untuk diucapkan. Kalau ada kebocoran, semua serentak “tidak tahu.” Kalau ada masalah, semua mendadak bisu dan buta huruf. Tapi giliran bagi-bagi jatah, entah bagaimana semua jadi jenius matematika hingga pecahan terkecil tak terlewat.

Aku pernah iseng bicara apa adanya. Hasilnya? Aku diperlakukan seperti virus. Tugas dipersulit, kesalahan dicari-cari, gosip murahan disebarkan. Semua hanya karena aku membuka mulut. Di sini, terlalu jujur sama saja dengan bunuh diri sosial.

Seorang senior pernah berkata padaku sambil tertawa hambar: "Kalau kau mau selamat, belajar pura-pura. Jangan jujur. Simpan saja untuk dirimu." Dan aku sadar, itulah inti dari proyek ini. Bukan soal bangunan yang berdiri, tapi soal kebohongan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dan mungkin, memang itu doa terbaik untuk proyek ini: semoga runtuh sebelum selesai, semoga roboh menimpa para pelakunya sendiri, semoga jadi monumen busuk dari kebohongan yang mereka pelihara. Kalau dunia memang butuh korban, biarlah mereka tenggelam bersama bangunan yang mereka dirikan atas dasar dusta.

Karena jujur dilarang di sini, maka biarlah kebohongan jadi pusarannya. Aku hanya berharap satu hal: ketika semuanya hancur, jangan ada yang selamat.
Sabtu, 01 Maret 2025 0 comments

semua yang kulihat seperti film fiksi yang tidak benaran terjadi.

Aku kembali dari perjalanan yang pernah kubayangkan tapi tak pernah aku harapkan datang secepat ini. Malam itu semua berjalan seperti biasa. Video call dari orang rumah menemani makan malamku. Aku ingat hari itu aku gofood ayam madura dari kantor yang sempat aku tawarkan kepadamu yang sudah terbaring lemah. Namun aku tak pernah tahu kalau itu makanan terakhir yang aku tawarkan kepadamu.

Kamu mungkin sudah sadar akan ada hari ini sebelumnya namun sikapku masih saja dingin tak tahu apa-apa. Sehari sebelum Natal sampai aku kembali dari libur Tahun Baru Islam sikapku masih acuh tak acuh kepadamu. Syukurnya, aku masih sempat membelikan kurma terakhir untukmu dan semangkuk bubur Ta-wan yang sudah kamu minta sebelum kamu sampai di Semarang. Ibu bahkan sudah mewanti-wanti untuk menuruti semua pintamu agar tak ada penyesalan bila ini menjadi permintaan terakhirmu.

Ternyata yang dibilang Ibu, benar terjadi. Semua seperti mimpi yang sampai sekarang masih belum aku cerna dengan baik. Perasaanku yang seharusnya bersedih masih belum percaya kalau ini benar terjadi. Air mataku malu-malu untuk terjatuh. Sampai banyak pertanyaan datang ke dalam benakku, "Apa aku tidak berhak mendapat kebahagiaan ini sampai setiap aku berbahagia aku tak boleh mengajak orang sekitarku untuk berbahagia juga?" Pertanyaan itu tak hanya aku saja yang rasa. Orang sekitarku juga merasakannya.

Datang sampai ke kotamu berada, air mata tak kunjung datang juga. Lagu Kenanglah Aku milik band Naff lirih mengiringi perjalanan dari stasiun ke rumah. Penumpang di sebelahku kembali terisak, aku hanya termenung berpikir apa yang seharusnya aku lakukan. Di rumah, kursi-kursi biru itu sudah tertata di depan rumah. Karpet sudah melapisi setiap jengkal ruangan. Aku menyelonong masuk, memeluk Ibu.

Usai adzan subuh berkumandang, namamu ikut diumumkan. Perasaanku masih biasa saja. Di kepalaku masih tidak terjadi apa-apa. Selesai sarapan nasi bungkus, aku ke pasar mencari beberapa sayuran untuk di buat urap untuk dibagikan ke tetangga. Di rumah sudah kembali ramai, Bu Nyai sudah bersiap memandikanmu. Aku dan Ibu ikut membantu walau kami tidak tahu bagaimana tahapannya sama sekali. Aku hanya ikut instruksi Bu Nyai yang menyuruhku mengambilkan kain dan handuk. Sisanya aku ikut ucapannya.

Orang-orang berbondong ikut menyaksikan tubuhmu yang dingin kembali menyatu dengan tanah. Bau pandan dan melati jadi parfum terakhirmu. Padahal belum sampai setahun lalu, hidungku akrab dengan ini. Hari-hari orang datang untuk mendoakanmu dan ikut berduka. Aku sibuk di belakang untuk menyiapkan jamuan. Tubuhku lelah tapi lebih baik seperti ini sebagai tanda hormatku untukmu. Aku masih merasa dirimu tidur di kamar seperti biasanya. Kadang aku rindu dirimu yang selalu penasaran dengan apa yang aku masak lalu mencicipi duluan walau aku belum selesai memasaknya.

Semua yang kulihat seperti film fiksi yang tidak benaran terjadi. Kepalaku masih berusaha mencerna semua ini. Entah apa yang orang pikirkan tentangku tapi aku tak mau menyangkal perasaanku yang sedang bersedih. Diam di dalam kamar sendirian nyatanya tak membuat air mataku jatuh juga. Aku hanya lelah dan tidur seharian. Semoga bom waktu ini tak benar-benar meledak di kemudian hari.

 
;