Sabtu, 29 Juni 2024 0 comments

the last chapter in this place. finally i'm done.

Akhirnya perjalanan di tempat ini mencapai titik. Walau tak sesuai harapan, paling tidak semesta masih memberiku hal-hal baik yang mengiringi. Ini sebagian jawaban dari doaku dan sebagian lagi keinginan orang-orang yang menganggapku bukan apa-apa. Tapi tak apa, aku tetap merasa menang karena bukan aku yang menyerah namun keadaan yang memaksaku untuk pergi.

Aku paham betul siapa aku dan bagaimana caranya aku bisa sampai ke titik ini, jadi aku bersyukur bisa ada di sini, di tengah keramaian tanpa istirahat yang seiring waktu meredup karena badai. Sedari awal aku sudah tahu kalau perpisahan ini akan terjadi tapi aku tak tahu kalau aku yang akan meninggalkan mereka, orang-orang yang ternyata memperhatikan dengan caranya masing-masing.

Awalnya pun aku hanya ingin membubuhi koma di cerita ini. Aku sudah nyaman dengan semua yang ada, orang-orang yang sudah membuatku capek untuk heran, tempat nongkrong yang itu-itu saja, dan cuaca kota yang berubah tergantung moodnya. Namun memang tak ada yang bisa dipertahankan lagi disini.

Terimakasih karena ku tak mudah menjadi bagian dari kalian orang-orang baik dengan cara kalian masing-masing. Mulutku yang minim sopan santun serta tingkahku yang sering lupa umur. Kerandomanku yang kadang menghilang entah kemana lalu datang lagi tanpa cerita apa-apa. Terimakasih sudah banyak bercerita dan mengajakku untuk mendengarkannya. 

Selasa, 25 Juni 2024 0 comments

kembali menuju 3371 mdpl

"Libur tiga hari enaknya kemana ya?" tanyaku iseng. Kebetulan hari itu tepat seminggu sebelum libur panjang akhir pekan karena perayaan Idul Adha. Waktu itu aku sedang mampir ke rumah karena ada teman sekampus yang mengadakan pernikahan.
"Bawa keril ya, kalo jadi kita summit."

"Aku ga ada latihan sama sekali."

"Gapapa, sebisanya aja."

"Kita S2 kalo ga bisa ya, S1 dulu. Remidi."

"Ok."

Lewat percakapan singkat sore itu, kami bertiga berangkat ke Wonosobo. Memang ini bukan perjalanan pertama kami untuk naik gunung, tapi tetap saja tanpa latihan fisik sama sekali aku merasa ada yang kurang. Berbekal niat, ketua kami langsung booking tiket bus dari Bekasi ke terminal Wonosobo. Kami memutuskan untuk naik dari Cibitung agar tidak terjadi seperti kejadian yang lalu ketika kami terjebak macet di daerah Kemayoran.

Masalah dimulai ketika kami tiba di rest area Subang. Hal yang aku takutkan terjadi. Aku haid. Aku langsung lemas. Namun mbak Emma masih santai. Ia masih tidak ambil pusing, lagipula tak masalah juga kalau naik gunung sedang haid yang penting tidak membuang sampahnya sembarangan. Kami melanjutkan perjalanan kami.

Masih sama dengan perjalanan kami ke Sumbing sebelumnya, kami turun di terminal Mendolo. Sampai disana kami bersih-bersih badan dan mencari angkutan untuk ke Basecamp Garung. Kami tiba sore hari waktu itu. Rencananya kami akan bermalam di Basecamp dan naik besok paginya tepat di hari Idul Adha. Namun hari itu basecamp penuh. Pendaki lain mengejar bisa sholat ied di lapangan sebelah basecamp yang memang cantik jika cuaca bagus.

Kami menginap di warung seberang basecamp dan kamipun merubah rencana. Kami memutuskan untuk naik jam 2 atau 3 pagi agar bisa sekalian turun hari itu juga atau biasa disebut tektok. Mengingat kondisiku yang sedang haid hari pertama, aku mengiyakan. Tapi aku juga tidak menjanjikan akan sampai puncak. Semua akan disesuaikan dengan kondisi badanku nanti.

Sebelum tidur, kami sudah menyiapkan semua logistik yang akan kami bawa. Karena tektok tentu beban kami tidak seberat pendakian kami sebelumnya. Ditambah lagi kami juga sudah memesan nasi bungkus di tempat kami menginap. Jadi cukuplah tenaga kami karena pondasinya saja sudah nasi. Malamnya kami menyempatkan diri untuk makan indomie rebus yang memang cocok di udara seperti ini. Usai bertukar cerita dengan beberapa orang asing, kami memutuskan untuk beristirahat.

Pukul 2 ruangan sudah mulai ramai. Dinginnya udara luar masuk melalui celah pintu. Kami mulai terbangun. Tapi sepertinya masih terlalu dini hari mungkin kita bisa mulai beberapa jam lagi sembari menunggu tukang ojek. Ternyata perkiraan kita salah, kita mulai beranjak dari sana sekitar pukul 3 lebih dan penjual nasi bungkus terheran karena biasanya pendaki tektok sudah mulai berangkat sebelum jam 3 pagi.

Sebelumnya kami memang sudah pernah kesini walau dengan tim yang sama selalu ada cerita yang berbeda di setiap perjalanan. Naik ojek dari basecamp ke pintu rimba terasa seperti naik wahana ekstrim. Apalagi aku tidak bisa melihat apa-apa karena memang langit masih gelap, belum lagi headlamp punya mas-mas ojeknya sudah mati enggan hidup pun tak mau. Ia hanya mengandalkan feeling dan daya ingat untuk melewati setiap jalan terjal. Turun di pintu rimba terasa jantung masih tertinggal di ladang warlok.

Kami mulai menyalakan headlamp. Langkah kami ringan mengingat beban di pundak tak seberapa. Sepanjang jalan yang gelap kami tidak menghentikan langkah. Tak terasa langit mulai terang dan sayup adzan subuh berkumandang kami sudah tiba di pos 3. Perut kami masih aman mengingat pondasi mi rebus dan telur semalam namun tenggorokan kami jadi kering dan sering haus. Perjalanan kali ini benar-benar aman dan time management kami kali ini sangat baik. Terus berjalan walau pelan tapi pasti kami sampai di puncak sejati sebelum tengah hari.

Tali temali harus kami lalui. Salah sedikit bisa saja masuk ke postingan Mountnesia. Kaki-kaki tua kami tak bisa di bohongi, siang itu kami langsung memutuskan untuk tidak ke puncak Rajawali daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Bisa dibilang salah satu dari kami tidak terlalu suka dengan ketinggian. Tapi kenapa ke gunung? Lain cerita kalau ini, kedua puncak Sumbing ini tidak bisa dilalui dengan berjalan tapi kami harus memanjat bebatuan dengan tali temali apalagi tanpa pengaman apapun.

Kami sempat menikmati bekal kami di puncak, bertemu dengan beberapa pendaki lain kami juga sempat membantu mengambil gambar mereka. Kami turun tengah hari ketika matahari sudah di pucuk kepala. Lewat camp area kami langsung berjalan tanpa melipir ke warung. Di Pengkolan 9 kami baru beristirahat sebentar, disana kami mampir membeli potongan semangka dan es nutrisari. Rombongan kami juga bertambah satu orang dedek-dedek yang berasal dari luar pulau Jawa. Katanya ia habis putus dengan pacarnya jadi langsung berangkat trail run ke beberapa tempat.

Tak lama kami langsung berjalan lagi. Harapannya kami bisa sampai di basecamp sebelum gelap. Langkah kaki kami benar-benar ringan. Jauh berbeda dengan perjalanan kami ke sini sebelumnya. Kami sampai ke pintu rimba sekitar jam tiga sore dan langsung ke basecamp dengan naik ojek. Beristirahat sejenak di sana, kami langsung bersih-bersih dan beres-beres. Sore itu juga kami langsung kembali ke Jakarta.
Sabtu, 22 Juni 2024 0 comments

apa yang orang salah kira tentangku.

Kembali lagi di pinggir kolam koi depan musholla setelah makan siang. Hari ini masih sendirian, kantor sepi, dan semoga tetap begini. Atau setidaknya aku masih tetap berada disini sampai ada panggilan pekerjaan lain yang lebih menjanjikan.


Sejak mampir ke rumah, banyak hal yang mengganjal di pikiran. Entah apapun itu aku merasa banyak kesesakan. Mulut ini sudah ingin meluapkan semuanya ke kalian tapi aku selalu merasa ini bukan waktu yang tepat. Cerita kalian lebih rumit dan aku tak mau ceritaku malah menjadi beban untuk kalian.

Kalau kalian coba pakai kaca pembesar mungkin kalian akan lebih tahu tentangku. Aku tak secuek yang kalian pikir. Justru aku hapal setiap gerak-gerik, fashion, atau bisa saja aliran musik yang kalian sering dengar tanpa kalian sadari. Aku tak sebodo amat yang kalian kira. 

Setiap malam, apa yang kalian katakan pagi harinya seperti kaset yang ter-rewind di kepalaku malah kadang titik koma sampai helaan napasmu aku bisa ingat. Pita kaset itu sampai kacau karena terlalu sering kuputar di kepala. Aku tak setenang itu, suara decit sepatu kadang membuat amarahku meluap. Aku hanya meredamnya saja ketika masih ada kalian. Aku tak mau kalian melihat marahku.

Aku menunggu janji kalian terwujud padaku. Apa-apa yang kalian katakan aku mengingatnya, cerita masa lalu, janji akan mengajak pergi, atau hanya bualan yang kadang aku tangkap dengan serius. Kadang aku terlalu percaya diri sampai aku lupa dimana posisiku seharusnya. Aku tak pantas  saja bisa berada disana. Di antara kalian sekumpulan orang hebat yang seharusnya berjarak denganku.

Tubuhku masih ingat, bagaimana cara kalian memegang tanganku ketika aku mau membayar makan, bagaimana kalian menarik tubuhku agar kita tak ketahuan bertemu seseorang, atau bagaimana ketika kalian menerima uang kembalian dariku. 

Aku hapal bagaimana gerak-gerik kalian ketika sudah lelah mengobrol tanpa ada cerita dariku. Cara mata kalian melihatku. Tapi apa kalian juga melakukan yang sebaliknya? Sering aku menanyakan hal itu di kepalaku. Tapi memang aku pantas? 

Banyak hal yang kalian salah kira tentangku. Kalau kalian kira aku begitu, tak apa. Mungkin bagian itu saja yang ingin aku tunjukan ke kalian. Tak apa kalau kalian salah paham, aku juga tak punya energi dan hak untuk merusak ekspektasi kalian. 

Sabtu, 01 Juni 2024 0 comments

rest area km 72

Datang ke sini lagi setelah hampir setahun rutinitas untuk kesini menghilang. Dulu aku masih bodoh. Senang senang saja bila diajak kesini, nongkrong sampai larut, kopi gratis, makan gratis kalau lagi beruntung. Paling tidak aku tak perlu mencari kegiatan di mess.

Setelah orang-orang itu pergi, aku baru sadar kalau selama ini aku hanya diperdayakan. Ya, aku diajak hanya untuk memenuhi kuota. Atau untuk kamuflase mereka saja. Jujur aku juga masih bingung dengan motif mereka. Tapi entah darimana aku yakin kalau mereka tak benar-benar tulus.

Hampir setiap malam, kami bersama. Dari dongeng nabi-nabi sampai cerita orang-orang kantor yang lebih ajaib dari oki dan nirmala. Tapi setelah kisah itu usai, tak ada balasan dari semua pertanyaan yang terlontar. Semua menguap bersama kepergiannya. Semua cerita yang kutangkap sama sekali tak berguna.

Apa aku dijadikan tameng? Apa aku jadi kambing congek? Apa aku dijadikan obat nyamuk? Apa aku jadi alasan agar bisa bersama?

Menurutku tak perlu mengadakan aku diantara kalian. Toh tanpa ada aku kalian lebih bebas melalukan hal yang aku tak perlu tahu. Tanpa adanya aku semua tetap berjalan seperti yang kalian inginkan.

Atau memang kamu sudah malas bersamanya namun masih ingin memanfaatkannya dan mengajakku agar tak terlalu kentara saat menggerogotinya?

Aku sudah tak mau memikirkannya. Paling tidak semua sudah berakhir sesuai pilihanmu sendiri. Kalau tidak sesuai pilihanmu sendiri juga bukan urusanku. Semua kan bergantung padamu. Tak masalah kalau semua yang sudah dilalui kamu lupakan. Aku sudah bisa tak dianggap. Kamu juga tahu sendiri kalau aku paling ahli menghilang.

Bukan semesta yang tak mengijinkan pertemuan tapi memang ia yang enggan mengusahakan. Kalau memang perpisahan yang kemarin adalah akhir, mengapa ada janji manis yang terucap?
 
;