Rabu, 30 Juni 2021 0 comments

kembali kalah (lagi)

Mimpi lama yang telah terkubur, kembali bangkit seperti zombie. Dari balik bayangan kekalutan, ia mengendap-endap muncul. Dari bayang-bayang ketakutan, ia mengkagetkanku."Lalu bagaimana?" Tanyanya.

Semalam angin berbisik padaku, "Percuma untuk mengejarnya kembali, nyalimu tak ada. Apa kamu mau kembali kalah? Apa kamu berani mempertaruhkan semuanya?"

Aku terdiam, tak ada jawab. Bayangkan kalau aku dulu mampu. Gemuruh tepuk tangan sudah ku tuai. Sanjung dan puji memenuhi lumbung. Namun nyatanya? Aku jatuh. Terkapar, sendirian dan tak berdaya. Mereka bilang aku belum beruntung. Mereka bilang aku terlalu muluk-muluk. Mereka bilang aku.

Aku semakin jauh. Semakin ditenggok ke belakang, semakin dekat jaraknya. Mereka mampu mengejar. Fokus ke depan, musuh sudah tak terlihat. Beristirahat sebentar, makin tertinggal. Terus berlari, napas sudah senin-kamis. Pengin berjalan, terkejar yang lain.

Semoga kita tak kehabisan semoga.

Apalagi yang bisa aku harap. Pantas saja tidak. Aku kehabisan semoga. Semua sudah aku rapalkan sedari dulu. Kini tak ada yang tersisa. Semoga kita tak kehabisan semoga.

Mimpi itu tak hanya milikku saja. Mimpi semua orang yang selalu hadir di balik layarku. Mimpi usang yang hingga kini belum bertemu tuannya. Aku sempat mengusirnya jauh, menyuruhnya pergi karena aku bukan pemiliknya. Dia hanya singgah, memberi harapan kemudian lari hingga aku tak sanggup mengejarnya. Terus seperti itu hingga aku kembali kalah.

Ku hela napas panjang, menguatkan diri untuk kembali melanjutkan rutinitas. Bukan demi diri tapi demi orang-orang di balik layar. Paling tidak aku saja yang hancur, tidak dengan mimpi mereka. Apa dengan tangisku ini semesta akan iba dan memberikan segala yang aku impikan?

Aku butuh ruang untuk memikirkan semua angan-anganku. Di kala orang sudah settle dengan apa yang dia punya, aku malah goyah dengan apa yang aku miliki. Dilematika masuk daftar awal (lagi).

Ada rumpang ketika belum rampung,
ada solusi ketika tersudutkan situasi,
ada usai ketika kisah telah selesai.

Kegundahan kembali menyeruak. Ada sesuatu yang mengganjal karena perjuangan masih diberi kesempatan. Semacam air di tengah dehidrasi yang mendera atau koma di tengah kalimat. Mata air yang menghidupi.

Ketika sudut menjelma menjadi awal baru, aku malah sibuk mencari liang untuk bersembunyi. Ketika titik berubah menjadi koma, aku malah takut untuk tak menyudahi karena takut kembali kecewa. Takut kembali tersakiti. Kelak, apakah rasa ini semua akan terulang lagi? Semoga ini yang terakhir.

Senin, 28 Juni 2021 0 comments

hujan di siang hari.

Segumpal rindu untuk dia yang tak bisa aku miliki yang aku luapkan menjadi rangkaian kata di siang hari dan dihiasi dengan rintik hujan nan sendu namun romantis. Semoga dirimu diberi secercah kepekaan untuk mengetahui rinduku ini.

Hujan di siang hari mengantarkanku pada kenangan kita. Bukan kenangan indah yang pernah aku lewati bersamamu namun kenangan kuat yang dapat membuat aku bahagia mengenangmu. Mustahil kau mengerti tentang kenangan ini. Ku pikir hanya aku seorang yang memilikinya.

Inilah yang menjadi sebab aku tak terlalu suka hujan di siang hari. Ini sama dengan bom waktu bagiku. Seolah menghitung mundur kematianku. Aku akan segera meledak. Hancur menjadi serpihan karena tak mampu menahan rinduku padamu.

Hujan di siang hari seolah memaksaku mengingat kenangan yang ingin kulupakan. Kenangan yang sebenarnya ingin ku kubur ke dalam benakku. Kenangan tentang cinta yang tak pernah terucap. Tentang cinta yang tak boleh diungkapkan.

Siapalah aku ini. Aku hanyalah wanita biasa. Aku hanyalah butiran gula yang telah larut di tengah lautan. Tak dapat kau lihat dan tak dapat kau rasakan. Tak apa itu terjadi padaku karena itu kesalahanku. Kesalahanku pernah mencintaimu. Kesalahanku bertemu denganmu.

Aku tak kasat mata. Tak pernah kau lihat atau bahkan tak pernah sekalipun kau melirikku. Aku masih ingat jelas senyummu. Senyum tulus yang bukan milikku. Senyum bahagia yang bukan untukku.

Hujan di siang hari belum reda. Sama dengan rinduku padamu yang tak pernah reda. Pernah aku menyebut namamu dalam doaku. Tapi tak pernah ingin untuk Tuhan mengijinkan mengabulkannya. Aku hanya dapat memendam rasa ini selamanya. Apabila Tuhan memberiku kesempatan, aku akan melewatkannya.

Aku tahu siapa aku ini. Aku tahu diri. Meski sakit ini aku rasakan. Aku tak dapat menjadi cinta seperti yang kau dambakan. Aku harap hujan ini segera berhenti. Sehingga aku bisa berhenti mengenangmu. Berhenti merindukan yang bukan milikku.

Kamu tahu, dulu aku sering melihatmu. Walaupun aku melihatmu dari jauh, aku senang. Setidaknya aku tahu kalau kamu baik - baik saja. Kadang aku ingin bangun dari mimpi ini. Aku ingin bangun dan melupakan mimpi ini. Aku sadar, ini bukan mimpi. Ini kenyataan pahit yang harus aku lewati.

Hujan di siang hari, tolong berhentilah. Tolong berhenti agar aku juga bisa berhenti mengimajinasikan sesuatu yang tak akan pernah terjadi dalam hidupku. Tolong berhentilah agar aku dapat melihat pelangi. Supaya hidupku lebih cerah daripada sebelumnya.

Rintik hujan siang ini seakan mengiring ingatanku kepada kenangan bersamamu. Kamu, seseorang yang tak akan pernah kumiliki.

Waktu seakan berhenti berputar. Pikiranku penuh sesak tentang kamu. Sebentar lagi aku akan meledak. Semua isi yang ada didalamnya akan keluar. Berceceran memenuhi ruang kamar ini. Berhamburan mengotori dinding, lantai, dan langit - langit kamar.

Sebentar lagi waktunya. Aku sudah merasakan perlawanannya. Ketika hati dan pikiran ini tak sejalan. Sudah tak tahu lagi mau kemana.

Hujan mengeluarkan kembali kejadian - kejadian diluar logika. Menawarkan kembali janji surgawi yang sempat terucap. Berjalan lurus kedepan atau bermanuver menghindarimu. Itu bukanlah pilihan melainkan keharusanku untuk berputar arah. Kita berbeda arah. Kita berbeda dunia. Kita berbeda dimensi.

Kita bukan pelangi yang indah dengan perbedaannya. Kamu di langit, aku di bumi. Kamu utara dan aku selatan. Kamu terang sedangkan aku gelap.

Ini bukan takdir. Ini sebuah kecelakaan yang tak sengaja terjadi. Tak seperti cerita film yang berakhir romantis, kisah kita ini sebuah tragedi.
Sebuah kisah yang akhirnya masih menjadi misteri.

Aku tak ingin mengakhirinya. Aku akan sedih dan air mataku akan bercucuran bila tau akhir cerita ini. Dugaanku belum sepenuhnya benar. Tapi apa yang bisa aku perbuat.

Kita adalah dua arah. Kita dua arah yang berbeda. Dua arah yang berlawanan. Kita dua arah yang tak berpotensi untuk bertemu kembali. Kita bukan seperti dua sisi di mata uang. Kita rumit. Dua sisi mata uang bertolak belakang namun tak dapat terpisah. Kita beriringan pun tidak. Kita memang seharusnya terpisah. Itulah jalan yang terbaik.

Hujan kembali membangkitkan kenangan yang sudah terkubur sebelumnya. Kenangan seperti zombie yang hidup kembali dengan cara yang menakutkan namun menghantui. Ingin rasanya menguburnya kembali. Tapi apa dayaku. Aku tak punya apapun untuk menggali lubangnya. Tanganku kosong.

Aku tak punya cara agar kenangan itu tak menghantuiku lagi. Aku sudah habis akal. Otakku penuh dengan kamu dan hatiku penuh dengan rasa rindu padamu. Sungguh aku ingin mengakhirinya. Namun aku bisa apa. Lelah hati ini merasakannya.

Ribuan rintik hujan jatuh ke tanah, sama rasanya seperti ribuan rindu yang merangsek kedasar kalbu. Hujan sengaja mengajakku bernostalgia tentang kamu. Hujan membuat rasa sakit ini timbul kembali. Aku ingin mati rasa agar aku tak merasakan sakitnya. Aku ingin melupakannya.

Nb. Tulisan lama yang coba diarsipkan dengan lebih baik lagi di sini. edisikuligalau01 (RSN,25.04.2018)

0 comments

untuk pahlawan yang namanya tersemat di ujung namaku.

Bapak,
Jarak menjadi musuh kita sedari dulu. Masa sekolah dasarku sempat menjadi tak berwarna karena ketidakhadiranmu. Tak ada foto bersamamu seusai aku pentas menari. Tak ada riuh tepuk tanganmu selepas aku beratraksi. Tak ada gemuruh tawamu menonton aku berlomba baca puisi. Tak ada pelukmu usai aku bersedih kalah lomba menulis. Bahkan tak ada tanda tanganmu di buku raporku.

Hadirmu hanya kudapat melalui secarik surat yang rutin yang kau kirim di akhir bulan. Lewat secarik surat, kita mengenal dan memahami perasaan. Lewat tulisan, kau menyampaikan kasih yang ingin kau curahkan. Bukan hanya petuah yang menggurui tetapi juga obrolan yang menghangatkan. Lewat sana pula aku merasakan kasihmu yang nyata.

Bapak,
Aku tahu jarak menghalangi pelukmu untukku. Namun jarak tak cukup kuat untuk menghalangimu menjadi pahlawanku. Bapak tetap jadi lelaki pertama di dunia yang mencintaiku. Hingga menjadi yang utama dalam doaku.

Puluhan surat yang aku kumpulkan kemarin telah menggunung. Sama tingginya dengan rinduku yang tak terbendung. Beruntungnya kita, jaman semakin maju. Kabar tertulis berubah melalui tutur. Walau aku hanya dapat membayangkan rupamu, aku bahagia bisa mendengar suaramu.

Bapak,
Terima kasih buat pengorbananmu yang luar biasa. Lewat tulisan-tulisanmu, aku bisa menjadi aku yang sekarang. Walau ragamu fana namun kasihmu nyata.

Jumat, 25 Juni 2021 0 comments

tenggelam dalam kubangan saliva.

Lagi. Aku yang tak bisa berenang memberanikan diri untuk menyebrangi kubangan. Bodoh? Tidak, aku menyiapkan segalanya diam – diam selama ini. Langkah ini harus aku ambil, karena ini satu – satunya jalur evakuasiku.

Bahtera telah ku bangun. Jalur pelayaran telah ku pelajari, ilmu navigasi ku kuasai, astronomi ku gali, meteorologi ku lalap habis. Bahan bakarku penuh, mampu mengelilingi Bumi tiga kali. Badanku sudah mandi dan wangi. Siap berangkat esok dini hari.

Entah badai atau ombak yang meluluh – lantahkan bahteraku. Tiang – tiang layar roboh, lambungnya berlubang, dan kemudinya menghilang. Aku pun heran melihatnya. Padahal ombak tak sedang gaduh juga langit tak sedang berduka. Kukira persiapanku ini sudah seribu persen, benar – benar siap dan aku pasti bisa melalui hari yang kunanti dengan bahagia.

Para pesaing telah pergi mengarungi kubangan. Perahu penuh warna, topeng, kostum, dan ambisi jadi andalan. Sepoi angin membantu laju kapal serta riak ombak riuh menyambut kepergian mereka. Tinggal samar buritan yang terlihat dari tepi pantai.

Aku?

Aku duduk menepi di bawah pohon kepala, menggali pasir tak seberapa dalam untuk mengubur asaku yang memang sudah menipis. Tak ada air mata, tak ada tangis ataupun kecewa, yang tersisa hanya tanya.

Apa semua yang sudah aku korbankan percuma? Apa perjuanganku masih kurang? Apa aku memang tak pantas untuk bersaing dengan mereka? Dan apa – apa yang lain mulai tumbuh di kepala.

Sayangnya aku tak punya banyak waktu untuk menjawab itu semua. Aku malah akan menyesal kalau sama sekali tak kembali mencoba. Aku akan semakin terpuruk bila sama sekali tak berusaha hari ini.

Aku sadar aku tak mungkin berenang, membuat kembali bahtera akan makan waktu, aku tak bisa menyamai langkah mereka. Aku kalah.

Sepoi angin mengeringkan air mata. Aku sadar, aku belum sepenuhnya kalah. Aku tak ingin esok hariku terjerat sesal. Kepalaku masih kosong tak tahu mau apa. Teori yang kupelajari entah hilang kemana.

Aku mulai berjalan mengejar kapal. Ya, aku berjalan. Langkah demi langkah aku lalui. Sesekali tanganku mengenangkan pelukan ke pelampung yang kupeluk. Namun, tiba-tiba aku tersadar.

Aku tak ingin esok hariku terjerat sesal.

Aku yang bodoh baru tersadar kalau aku hanya melalui kubangan yang tak seberapa dalam. Cekungan yang berisi penuh saliva. Overthinkingku selama ini percuma. Tanya perlahan terhapus berganti tawa. Bodoh, mana mungkin aku tenggelam dalam kubangan saliva.

0 comments

Latar Belakang Masalah

Perjalanan panjang tanpa tujuan ini akan mulai aku tulis satu-persatu agar kelak ketika kakiku tak bisa melangkah lagi, aku tidak akan mengumpat pada semesta dan pencipta, agar aku bersyukur kalau kakiku ini sudah pernah melangkah sejauh itu. Aku akan coba mengingat, kemana saja kakiku pernah berjalan. Sambil diiringi Lagu Pejalan dari Sisir Tanah, salah satu lagu yang mendorong aku untuk sesegera mungkin keluar dari zona yang aku "anggap" nyaman kala itu. Mari bersamaku menjejaki semesta yang terlalu indah ini.


Sudah lama kaki ini tak merasakan riak-riak ombak dan desiran pasir. Perjalanan selama tiga puluh menit menemukan akhir yang bahagia. Berangkat pukul setengah enam pagi dari penginapan di daerah UPN, pukul tujuh lebih sepuluh menit kami tiba di pantai 

Meski sebentar, paling tidak rindu yang menggebu sudah terbayar tuntas.
Kamis, 24 Juni 2021 0 comments

perindu hujan.

Mendung menghiasi atap langit. Menyiapkan tenaganya untuk kembali merindu. Berbenah untuk melakukan ritualnya kembali. Membangkitkan kenangan masa lalu. Kenangan yang telah terkubur lama. Kenangan yang sepenuh daya dilupakan.

Orchestra alam dari Tuhan mulai terdengar. Rintik hujan seakan membacakan mantera. Mantera untuk menguatkan ingatan. Ingatan tentang kenangan dan rasa rindu yang mendalam untuk dirimu. Dirimu yang berada dipelukan orang lain.

Matahari enggan tersenyum. Senyumnya berubah menjadi tangis hujan karena mengenangmu kembali. Hujan turun ketika bumi membutuhkan. Namun hujan datang bersama kenangan itu. Apa aku butuh kenangan itu? Aku rasa tidak, kenangan itu menambah kepedihan hatiku. Menambah pahit dalam kehidupanku.

Hujan turun untuk menghijaukan bumi. Tapi apakah kenanganmu menghijaukanku? Tidak, kenangan bersamamu membuat hatiku semakin gersang. Rasa rindu dan kenangan bersamamu datang pergi seenaknya seperti hujan. Suara deru hujan seperti tabuhan gendang mengiringi perang batinku. Menambah keseruan dalam kemelut pertikaian yang berkecamuk.

Aku, kamu, dan Tuhan yang tahu. Yang lain hanyalah penonton saja. Mengikuti alur cerita yang disuguhkan. Semua kenikmatan dan kedamaian yang ditawarkan oleh rintik-rintik hujan seakan menyihir untuk sejenak mengingatmu. Mengingat kembali perjalanan cinta dua anak manusia yang dipertemukan oleh Penciptanya. Kisah yang usai sebelum dimulai.

Kisah satu cinta, melalui dua arah yang berlawanan. Merasakan sakitnya hati ketika turun hujan. Menjadi remah - remah yang tak ada artinya di dunia. Terbawa arus ke dalam jalur yang tidak benar ditemani derita cinta yang tak berakhir.

Keinginanku melupakanmu dan meninggalkan sudut gelap nan sepi berangsur meningkat. Menyelesaikan perang dingin antara hati dan pikiran. Menghentikan pertikaian memdambamu.

Aku ingin selesai. Menyelesaikan urusan hatiku bersamamu. Menutup buku yang belum sempat kutulis tentang kamu untuk seseorang yang lebih pantas aku puja.

Hati ini mulai menikmati sambutan berupa guyuran air hujan. Berharap air dapat menyadarkanku dari pengalaman bawah sadar. Hati dan pikiran ini mulai letih dirongrong oleh kenangan dan rasa rindu. Aku ingin berhenti.

Aku ingin menjadi pemuja hujan. Tersenyum mencumbu mendung. Berang menampar terik. Tenang ditikam oleh rintik hujan menyedihkan. Melebur dalam tarian air. Hangat direngkuh badai. Asyik menggoda gelegar petir. Menikmati kesejukan, jatuh dan larut dalam genangan. Menembang senandung peluruh lara.

Menghanyutkan kisah cinta. Merobohkan rasa rindu. Tempias hujan perlahan mengikis kenangan pahit. Mengugurkan namamu yang lama terpatri dalam batin.

Kini aku bermetamorfosa menjadi pluviophile, si pemuja hujan. Menunggu hujan yang dapat menggugurkan semua sakit akibat cinta dan membunuh kepahitan dalam jiwa. Semakin lebat hujan yang melanda, mengkokohkan hati ini berdiri.

Aku telah lama menunggu kesempatan ini. Tak akan aku lewatkan kali ini. Yang aku rindukan hanyalah pelangi dan petrichor. Kejutan seusai hujan di siang hari.

Menanti fenomena dispersi cahaya. Rangkaian warna perwakilan dari harapan yang sejajar membentuk garis lengkung senyuman tak berujung. Menunggu detik - detik terlepasnya petrichor. Aroma penghanyut pikiran bawah sadar, lembut dan sederhana.


Nb. Tulisan lama yang coba diarsipkan lebih baik disini. (edisikuligalau02 Sby, 13.10.18)


 
;