Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2021

lihat saja nanti.

Gambar
Lihat saja nanti, kalimat yang sampai detik ini masih terngiang baik intonasi maupun ekspresi dari seseorang yang melontarkannya kepadaku secara langsung seperti baru terjadi kemarin. Itu juga yang melecut semangatku untuk terus menjadi yang lebih baik sampai hari ini seolah hidup hanya untuk pembuktian. Sampai dititik dimana aku merasa belum bisa memenuhi itu semua, aku baru tahu kalau semua harus dikolaborasikan kebahagiaan yang kita inginkan versi kita sendiri. bagian 1. aku, si-biasa saja. Aku kembali dikepung tembok cemas malam ini. Entah sudah berapa ratus domba yang melompat tapi kepala masih enggan diajak rehat. Padahal besok schedule padat yang pasti akan membuat mulut mengumpat. "Lihat saja nanti!" kalimat yang seolah baru saja terjadi hingga ekspresi dan intonasi orang tersebut masih membekas. Dia memang bukan siapa-siapa buatku, tak ada kontribusi dalam proses dewasaku yang ternyata melelahkan ini tapi lewat ucapannya hari itu, sedikit banyak memberi motivasi unt...

sebuah pengingat kalau semisal besok aku lupa.

Kembali aku menuliskan catatan. Bukan untuk orang lain, melainkan untuk pengingatku sendiri agar nanti ketika aku menjadi besar dan lupa cara menjadi manusia, aku tak memerlukan orang lain untuk menampar pipi-ku. Melainkan aku sendiri dengan catatan ini. sehebat-hebatnya manusia, besok hanya jadi cerita. Munafik, kalau seorang manusia biasa mengatakan kalau ia tak ingin menjadi besar. Entah seberapa ukuran 'besar' yang ia harap tapi di dalam hati kecilnya pasti pernah ada keinginan itu. Tak ada standar untuk 'besar' yang diinginkan manusia. Bisa saja 'besar' yang telah aku raih nanti, bukan menjadi ukuran 'besar' yang kamu ingin. Beberapa minggu ini, aku masih ter-heran dengan sikap dan karakter manusia yang ada disekitar ku. Tak tahu apa aku yang terlalu sensitif dan ba-per, tapi rasanya semakin kesini, semakin unik karakter manusia yang aku jumpai. Aku akui kalau mereka hebat. Mereka manusia yang bisa membuat orang luar ter-heran. Tapi, sehebat-hebatny...

Peron Dua, Stasiun Tanah Abang

Halo kamu, apa kabar? Tiba - tiba pagi ini, aku rindu Jakarta . Semua rutinitas yang dulu membuatku jenuh. Bangun pagi, berdesakan di kereta, bekerja, berdesakan lagi, tidur beberapa jam, kemudian mengulang kegiatan itu (lagi). Begitu terus selama tujuh hari dalam seminggu sampai akhirnya aku tak sengaja bertemu kamu. Sore itu aku terburu-buru menaiki kereta terakhir dari Stasiun Jurang Mangu . Awal pandemi , jadwal kereta ikut kacau. Kereta terakhir yang biasanya tiba jam 23.45 wib berubah menjadi 16.45 wib. Padahal jam kerjaku masih sama saja. Aku berdiri memandang keluar jendela berusaha tetap waras di tengah semua angan - angan yang sampai saat itu belum tercapai. Ralat, hingga saat ini mungkin. Berbagai pertanyaan muncul begitu saja di kepala. Apa mereka tidak bosan dengan rutinitas yang mereka jalani? Beberapa wajah mereka sudah tak asing buatku. Bisa dibilang aku bertemu mereka setiap pagi dan kalau aku tak lembur, aku juga bisa pulang bersama mereka. Ekspresi mereka tertutup o...

mengalah bukan berarti kalah.

Masih awal tahun tapi udah overthinking sama semua masalah yang menimpa. Suara-suara bising sudah terdengar. Bisikan sudah menjelma menjadi teriakan. Sering terlintas untuk mati saja. Toh, ada tertulis kalau mati di usia muda itu keuntungan buat kita. Iyalah, nggak perlu capek cari jawaban dari pertanyaan klise yang nggak ada ujungnya. Kapan nikah? Udah punya apa aja? Kok kerja swasta? Kok nggak kayak kakaknya? Kok ini? Kok anu? Kok itu? Kepala jadi sesak dengan keinginan orang lain. Padahal dalam benak sudah banyak planning . Kadang bingung mesthi ikut yang mana. Takut ambil keputusan, takut sama pendapat orang nantinya. Mentari menyingsing, bukan semangat yang menyongsong. Tapi malah insecure yang menyambut. Iya, semakin sering buka sosial media semakin ciut nyali untuk mengambil langkah. Kebahagiaan sobat online justru membuat hambatan yang cuma kita sendiri yang bisa hancurkan. Rasa iri menggerus keinginan untuk maju kalau mental kita sudah lelah. Jarak antara mimpi dan kenyataan...