Senin, 27 Desember 2021 0 comments

di tengah perayaan kegagalan.

Perihal masa depan siapa yang tahu.

Selamat untuk engkau yang sedang dirayakan! Habiskan waktumu untuk berpesta, sebelum aku kembali yang tertawa. Bahagiamu mengemis dariku. Ingatlah kalau aku tak akan lagi sembunyi darimu. Selama ini aku menanti hari ini. Hari-hari terbebas dari rasa sakit, kecewa dan sedih. Hari dimana aku merasakan kebahagian yang abadi.

Perjalananku baruku dimulai. Empat kali gagal dalam perang yang sama tak membuatku kapok. Aku seolah bangkit kembali dengan segala fitur yang paling baru dan canggih. Aku akan baik-baik saja. 

Taktik yang aku pakai memang tak tangguh seperti milikmu tapi itu hasil usaha dan keringatku sendiri. Aku memperjuangkan semua bersama diriku saja. Orang hebat yang ada disekelilingku, aku tugasi untuk bertepuk tangan, meneriakan namaku, dan memelukku kalau aku menang apalagi kalah lagi seperti yang terjadi hari ini.

Apa yang terjadi bukan salahku, kamu, semesta, apalagi Tuhan. Bisa jadi kemenangan di medan perang yang ini memang bukan disiapkan untukku. Aku tak bisa memaksa semesta dan Tuhan lagipula perihal masa depan siapa yang tahu. 

Mungkin semesta masih ingin kakiku berjalan lebih jauh menemukan piala kemenanganku yang lain. 

Always stop to smell flower because we never know when our journey is done.
 Setiap langkahku hari ini akan membawa ke tujuanku. Walau aku belum tahu kemana, tapi aku percaya pasti kalau tujuanku lebih indah dari tempatku memulai langkah kecil ini. Siapa lagi yang bisa aku percaya selain kaki kecilku ini. Deretan jari kecil dengan kuku yang kecil, dengan tinggi telunjuk dan jari tengah yang sama memudahkan forensik bekerja. 

Lagu ini kembali menemani langkahku. Musik ini membangunkanku kembali. Meski banyak orang tak percaya, aku masih yakin dengan langkahku. Ini semua tak akan goyah meski kalian menghancurkannya. 

Senin, 13 Desember 2021 0 comments

jangan ada dongeng pengerat lagi!

Tak tahu harus tertawa atau menangis. Tertawa karena semua kebaikan yang sudah lama dilakukan seakan sia-sia dan itu semua hanya kebodohan yang pernah dilakukan atau kenangis pilu karena kebodohan yang kamu lakukan bertahun ternyata berimbas padaku. Bagaimana tidak, mimpi yang kukira bisa jadi kenyataan hancur karena kebodohanmu. Iya kebaikanmu selama ini adalah kebodohan.

Bodoh karena kamu baik kepada mereka. Pengerat tak tahu malu dan tak tahu diri. Sampai beranak cucu, dia mengemis. Rumahnya berkilau emas sedang yang iba dengannya hanya beralas tanah. Cukup mimpiku saja yang kamu kalahkan dengan kebaikan untuk mereka. Biar mereka bahagia dengan harta pemberian sedang aku bahagia dengan tangis perjuangan.

Sekarang pintaku sederhana. Duduk diamlah disana, kursi nyaman yang aku bangun dengan sisa kebaikanmu itu, nikmati hari tuamu dengan baik, sehatlah terus sampai aku bisa membalas sedikit kebaikanmu ini dengan segalanya yang kamu ingin. Cukup jangan dongengi aku lagi kisah pengerat yang tak tahu diri itu. Jangan katakan nama mereka didepanku, jangan kau agungkan mereka yang selama ini membodohimu, memperdayamu, dan menyalahgunakan kebaikanmu. Itu saja cukup. 
Sabtu, 04 Desember 2021 0 comments

semesta yang enggan mengiba.



Pergumulan, kepahitan, kecewa, putus asa, dan kesedihan merongrong kalbu ini. Entah mengapa, pikiran-pikiran itu sekelebat datang tanpa pertanda, merangsek hingga tembus ke dada yang berjubel dengan rasa sesal dan membaur menjadi satu dengan kebencian.

Tubuhku terbaring di atas ranjang kamar, namun jiwaku berpetualang entah kemana. Ia pergi membawa serta kegelapannya, berkelana mencari kenyamanan. 

Tanpa ekspresi aku menatap langit-langit kamar. Sesekali aku mengedipkan mata, membasahi permukaan kornea yang kering karena cahaya lampu. Hening. Tak ada satupun suara yang terdengar.

Perlahan cairan transparan meleleh beranak sungai. Bibirku terkatup tak sanggup berbincang. Suara-suara berisik di kepala mulai berteriak dan berkecamuk. Mereka menyatakan kehendaknya bersamaan. Tak sanggup lagi aku melerai mereka.

Tak terasa sudah berhari-hari aku melakukan ritual itu. Ritual yang membuatku lebih damai walau tanpa beraktivitas apapun. Lapar, dahaga, kantuk, silih berganti mendatangi namun tak ada daya yang dapat aku lakukan. Aku lebih memilih seperti ini, berdiam diri tanpa melakukan apapun.

Seperti masa pupa pada kupu-kupu, di pagi yang cerah aku kembali mengumpulkan semangat hidup. Serpihan itu aku tata kembali menjadi satu kesatuan yang utuh. Aku paham, itu semua percuma. Aku kembali menggarami, samudra yang luas. Aku melakukan sesuatu yang aku pikir akan berakhir dengan sia-sia dan penyesalan. Apalah dayaku, tak seorangpun yang aku percaya untuk sekedar berbagi beban.

Semesta ini tak punya nyali dan niat untuk membiarkan aku bahagia meski sedetik saja sehingga aku menciptakan bahagiaku sendiri. Kebahagiaan yang bisa jadi tak berarti untuk orang lain.

 
;