berhenti memaksa mengerti.
Rencana Tuhan itu kadang rasanya kayak bercanda yang terlalu niat, terlalu detail, dan sama sekali nggak minta persetujuan. Di awal aku dibuat bingung, diputar ke sana kemari, disuruh jalan tanpa peta tapi ditanya kenapa capek. Aku sempat mikir, ngapain aku kuliah sampai Surabaya kalau ujungnya kerja di Jakarta? Bukannya bisa lurus aja? Tapi hidup jelas nggak kenal kata efisien. Setelah lulus dari Surabaya, aku keterima kerja di Jakarta, lalu entah kenapa harus nyasar lagi ke Purwakarta lingkungan yang sebagian besar orangnya Jawa Timur, dengan bahasa yang kasar, volume suara tinggi, dan tekanan yang jauh lebih ngegas dari Jawa Tengah. Harusnya kaget, harusnya tersinggung, harusnya ngerasa asing. Tapi kenyataannya aku fine-fine aja. Karena rupanya aku sudah dilatih dulu.
Lalu muncul pertanyaan berikutnya yang sama nyebelinnya. Ngapain aku lama kerja di Jakarta dan sekitarnya kalau akhirnya aku harus balik ke rumah dan dapat pekerjaan tetap di sini? Ngapain ribet, ngapain muter, ngapain ngerasain macet, deadline, dan drama yang nggak ada habisnya, kalau ujungnya balik lagi ke titik awal? Tapi ternyata itu bukan muter tanpa tujuan. Tuhan sengaja bikin aku kenyang dulu sama hidup di luar, kenyang capek, kenyang ambisi, kenyang chaos biar pas pulang aku nggak gampang kaget, nggak gampang iri, dan nggak gampang merasa kurang.
Sekarang baru kerasa. Tuhan bikin aku siap tempur dengan segala huru-hara sebelum benar-benar butuh dipakai. Dia bikin aku merasa “cukup” di luar, supaya ketika di rumah ada fase menunggu, fase pelan, fase yang nggak bisa dikejar-kejar, aku bisa lebih sabar dan cuma mikir, “Ah, dulu juga udah pernah.” Dulu pikiranku belum sampai ke sana. Aku cuma lihat repotnya, bingungnya, dan rasa kayak diseret hidup tanpa penjelasan.
Dan sekarang, setiap kali aku nengok ke belakang, aku cuma bisa geleng-geleng kepala sambil bilang, ya ampun. Bukan karena masih bingung, tapi karena sadar satu hal yang agak nyebelin: ternyata aku bukan nyasar, aku cuma lagi disiapin. Lebih nyebelinnya lagi, semua itu baru masuk akal setelah berhenti memaksa mengerti.
Komentar
Posting Komentar