catatan yang tidak perlu diingat tapi tak bisa dilupakan.
Ada masa ketika aku pikir hidup paling melelahkan adalah deadline kantor dan rapat yang tidak pernah selesai. Lalu aku ikut Pelatihan Bela Negara di Rindam Magelang, dan ternyata tubuh manusia bisa disiksa dengan cara yang jauh lebih kreatif daripada sekadar zoom jam delapan pagi. Semuanya dimulai dengan upacara, acara paling damai selama pelatihan. Sebelum kami dilempar ke realitas tempat ini: dunia di mana “istirahat” hanyalah kata dalam kamus, dan “minum” hanya dilakukan saat pelatih tidak melihat. Lengkap dengan suara teriakan yang bisa menggetarkan tanah, atau minimal menggetarkan niat untuk hidup. PBB menjadi pembuka: seni menggerakkan kaki kanan dan pikiran kiri secara bersamaan. Dalam hitungan lima menit, kami berubah dari manusia merdeka menjadi robot setengah rusak yang salah langkah hanya karena angin lewat. Pelatih mengawasi seperti cctv yang selalu “recalculating”, tapi dengan volume suara lebih besar dan ancaman yang lebih meyakinkan. Kelas-kelas teori kemudian had...