Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

aku banyak takutnya.

Aku banyak takutnya: takut salah pilih, takut rumah tangga tak sesuai ekspektasi, takut beda pandangan di tengah jalan, takut omongan orang, takut tidak sepadan, bahkan takut tidak cukup membuat nyaman—tapi ya sudah, hidup memang tidak pernah adil, siapa suruh aku berharap terlalu banyak? Kadang aku pikir cinta itu sederhana: ketemu orang yang bikin jantung deg-degan, lalu yakin dia soulmate. Tapi kalau cuma soal deg-degan, kopi sachet pun bisa bikin jantungku berlari. Soulmate ternyata bukan soal sensasi sementara, tapi soal rasa pulang. Aneh, ya. Ada orang yang bikin aku tenang meski kami sering nggak sepaham. Nggak selalu manis, nggak selalu romantis. Kadang malah bikin kepalaku penuh. Tapi entah kenapa, tetap ada rasa aman yang susah dijelaskan. Lalu, ketakutan lain datang: “Bagaimana kalau karirnya nggak seimbang sama aku? Bagaimana kalau orang lain menganggap aku turun kelas karena pilih dia?” Aku sering lupa, ternyata aku lebih takut sama omongan orang ketimbang sepi di kamarku ...

kalau diceritain panjang, jadi aku mending lari.

Gambar
Hidup yang monoton menjalani rutinitas yang itu-itu saja seharusnya banyak-banyak aku syukuri. Itu berarti badai kehidupan tidak sedang bersamaku. Di tengah hiruk pikuk undangan pernikahan dan tentang semua asumsi orang terhadapku, terima kasih karena menurut kalian aku berbahagia. Aku tak setenang itu, sesekali aku ingin mencabik mulutnya saat ia mulai mengoceh menyalahkan semua orang seenaknya. Aku ingin menarik rambutnya sampai lepas dari kulit kepala ketika dagunya sudah mulai lebih tinggi dari lubang hidungnya. You will never understand the hell I feel inside my head. Aku diam bukan karena apa, aku diam karena sibuk menenangkan monster yang ada di dalamku. Di umur yang tak lagi muda ini aku memutuskan untuk berhenti membandingkan nasibku. Aku sudah lelah melihat pencapaian orang lain yang kadang di usia mudanya sudah mendapatkan apa yang belum aku punya, pasangan hidup, rumah, pekerjaan tetap, mobil, destinasi liburan menarik, konser band luar negeri, tas mahal, dan segala bentuk...

Merbabu Sky Run 2025: Jalur, Dada, dan Diri Sendiri

Gambar
Hidup memang kayak track trail: kadang mulus, kadang makadam; baru lega nemu turunan, eh lutut langsung protes. Begitu juga di Merbabu Sky Run 2025 ini. Jalurnya bikin dada ngos-ngosan, bikin kaki serasa ditarik paksa, tapi di tiap langkah ada jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang kubawa sendiri. Aku sempat mikir, harusnya Virgin Trail Run-ku adalah Kendal Trail Run 7K. Tapi semesta bikin plot twist — Merbabu Sky Run kategori 10K jadi debut trail run-ku. Nggak tanggung-tanggung, langsung disuguhi jalur yang dar-der-dor: tanjakan panjang, turunan licin, semak liar, jalan makadam, sampai pemandangan gunung yang kayak nyinyir, ngetawain tiap kali aku berhenti ambil napas. Tapi justru di jalur itu aku belajar lagi: bahwa semua orang lari dengan caranya sendiri, semua orang punya pace, semua orang punya pertarungannya masing-masing. Dan aku sampai juga ke garis finish. Dengan wajah basah keringat, kaki gemetar, tapi senyum tetap lebar. Di depan kamera, aku angkat jempol — bukan buat gaya,...