Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2024

semoga aku hilang dalam tidurku.

Hari-hari ini cepat berlalu. Rutinitas membosankan dan hati yang kosong menjadi teman. Mungkin minggu ini aku tak bicara lebih dari lima puluh ribu kata. Aku terlalu banyak diam dan memendam pikiranku. Rumah nampaknya masih sepi. Semua seolah membeku bersama dengan topik pindah rumah yang aku lontarkan. Tak apa aku kembali menjadi tokoh antagonis tapi mengapa selalu aku? Semua yang ada di kepalaku seolah salah. Bahkan ketika aku berusaha jujur, hasilnya tetap saja dianggap salah. Rasanya seperti hidup di ruang sidang tanpa hakim, hanya penuh jaksa yang menunggu celah untuk menuding. Kadang aku berpikir, mungkin benar: diam adalah bentuk perlindungan terakhir. Kalau aku tak bersuara, tak ada yang bisa mereka salahkan. Tapi anehnya, bahkan diam pun bisa ditafsirkan macam-macam. Mereka bilang aku dingin, egois, terlalu jauh, terlalu sulit dimengerti. Padahal aku hanya berusaha tidak hancur di depan mereka. Aku bosan jadi pemeran sampingan di cerita orang lain. Bosan jadi “masalah” hanya k...

aku dan keruwetan kepalaku.

Bukan kamu orang pertama yang mengomentariku seperti itu. Telingaku sudah biasa menerimanya. Mulutku juga hanya bisa terkatup. Aku memilih untuk tidak melawan karena memang begitu adanya. Ruwet. Aku terbiasa terlihat baik-baik saja, gampang mengumbar senyum, tertawa tiap guyon receh yang orang lontarkan. Pokoknya aku bisa bersikap asyik ke semua orang. Aku seorang pendengar yang baik. Apa saja masalahmu mau dari percintaan, orang tua, perekonomian, sampai politik aku siap mendengar. Setiap kali kamu menelepon, aku akan angkat sekalipun aku berada di tengah badai. Kalaupun aku terlewat, aku akan segera meneleponmu balik atau mengirim pesan agar kamu tak kepikiran. Tapi, mungkin cerita tentangku akan sangat sedikit. Semua yang berenang di kepalaku terlalu sulit untuk kuterjemahkan. Setiap kata yang mau kuucap seakan percuma. Aku tak pernah melihat kalian antusias mendengarkan ceritaku. Entah karena lidahku yang belibet atau memang ceritaku tak sebanding dengan milikmu. Kadang aku juga me...

aku tolol, ya.

Ga tau lagi kenapa kepalaku penuh dengan kamu. Padahal setelah pertemuan sebelumnya aku sudah berjanji untuk tidak memikirkanmu dan menghilang. Tapi kamu menghancurkan seenaknya. Semua hal yang kulakukan kemarin seolah percuma. Kamu tahu aku. Mulutku selalu sulit untuk menolak ajakanmu apalagi kalau sudah ada namamu di notifikasiku. Beberapa hari ini aku menunggu notifikasi darimu lagi. Aku tolol, ya. Aku juga ga tau kenapa aku melakukannya. Semua terjadi begitu saja. Aku tahu diri. Aku sadar posisi. Tapi kalau memang kamu yang aku suka, aku bisa apa? Iya, kamu sudah ada dia. Aku tahu tembok kita juga terlalu tinggi. Semua tak mungkin terjadi. Tapi beri aku waktu untuk melepaskan semuanya perlahan. Semua terlalu cepat, sampai aku tak sempat untuk mencernanya. Di pikiranku, aku yang memang tidak pantas untuk menerima kebaikanmu. Aku memang tidak layak untuk mencicipi bahagia dari orang lain. Sampai aku mengira kalau kamu orang yang aku tunggu untuk melepas dahagaku. Sebentar kamu menena...

dari balik bahu

Gambar
De javu. Peristiwa semalam seperti mengulang cerita 12 tahun lalu. Aku cuma bisa menonton dari balik bahu, namun kali ini benar-benar milik orang asing. Tak ada yang berubah. Aku masih sama, perempuan bodoh yang selalu salah mencintai orang. Lampau, kamu jadi orangnya. Lelaki yang sudah menjadi milik orang lain. Mungkin sampai sekarang kamu tak menyadarinya. Bisa jadi sama sekali tak mengingat aku siapa. Tapi terkadang aku masih ingin tahu keberadaanmu. Untuk yang sekarang, lelaki itu bukan kamu. Dia orang lain yang senasib sepertimu, bisa aku miliki dalam mimpi. Kalau yang sekarang aku menangkap, dia juga menangkap sinyal dariku. Tapi, aku tahu diri kalau dia milik orang lain. Selain itu, juga terlalu banyak hal yang menghalangi. Bandung sepertinya tak akan pernah menjadi persinggahan yang ramah buatku. Ia seperti persembunyian sementara, sebuah ruang transit yang hanya mengingatkanku pada kenyataan: aku tak pernah benar-benar punya rumah di hati siapapun. Dan aku masih di sini, menun...