Jumat, 24 Mei 2024 0 comments

alasanku membenci wewangian.

Aku benci orang yang memakai parfum. Mereka begitu egois memaksakan indra orang lain mengikuti seleranya. Mereka sama sekali tak peduli perasaan orang lain seakan mereka melarang orang disekitarnya untuk bernapas dengan lega. Beberapa bisa dicerna dengan baik ketika bercampur dengan wangi tubuh mereka namun ada beberapa yang malah saling tumpang tindih tambah tak karuan ketika tercampur.

Selain itu, entah mengapa memori penciumanku jauh lebih baik daripada ingatan kepalaku. Aku mendadak panik ketika sekelebat aroma mirip milikmu lewat. Semua tentangmu langsung menyerang ingatan. Semua berjubel tak mau kalah memaksaku untuk mengenangmu. Lalu, tidak salah kan kalau aku membenci wewangian? Karena semua yang dihadirkan bersamanya tak selalu yang indah.
Rabu, 15 Mei 2024 0 comments

seharusnya kamu bahagia kalau aku tidak mengganggumu (lagi)

Dering telepon berbunyi. Jam segini rasanya jarang urusan pribadi menghampiriku. Paling orang-orang yang berkaitan dengan pekerjaan yang mencari. Aku mengjangkau ponselku yang tak terlalu jauh kugeletakan. Tercantum namamu di layar ponsel. Semua masih sama. Aku tak merubah apapun sejak tak lagi ada apa-apa diantara kita. Kuhembusan napas panjang, mencoba menurunkan heart rate yang mendadak naik. 

"Kukira semua sudah berlalu, ada apalagi kamu menghubungiku? Tak usah di angkat," ujar kepalaku. Tapi ternyata rasa ingin tahuku lebih menggebu. 

"Apa?" Tanyaku tanpa basa-basi walau nada bicaraku tak menghentak seperti biasanya.

"Aman, kan?" ucapnya dengan nada datar dan tenang seperti dia biasanya.

Kepalaku mendadak kosong, lidahku kelu. "Aman," jawabku sekenanya.

Dari hembusan napasnya yang berat, sepertinya jawabanku tak sesuai ekspektasinya. Aku yang biasanya tak seperti itu. Aku sering mengulur jawabanku agar bisa berlama-lama mengobrol dengannya namun kali ini aku sudah membulatkan tekad untuk tidak kembali dengannya lagi.

"Kalau ada apa-apa kabari, ya!" ujarnya. 

Tanda basa-basi aku memencet tombol merah. Aku sudah tak tahu lagi harus berkata apa. Lagipula ini juga jam kerja, tak enak kalau sampai terdengar yang lain. Walau memang terkadang sebagian dari mereka mencuri-curi bicara seperti itu.

Jujur aku sudah muak dengan kalimat itu. Rasanya seperti de javu. Kesannya seperti kamu mau aku masih tergantung padamu tapi kamu tak mau kalau aku ada disekitarmu. Bukan seharusnya kamu bahagia kalau aku tidak mengganggumu lagi.

Padahal kamu tahu kalau aku bodoh dan tak peka tapi kenapa masih pakai kode-kode. Banyak sinyal-sinyal yang kamu tebar tak sampai kepadaku. Banyak hal yang aku lewatkan karena cara berkomunikasimu yang kusebut unik itu. Sudahlah, memang banyak hal yang buat kita tak bisa bersama. Mungkin ini cara Tuhan buatku untuk melawatkanmu.




Jumat, 10 Mei 2024 0 comments

untuk diamku yang selalu salah.

Di separuh tahun ini, aku banyak belajar tentang diam. Entah bagaimana aku menyikapi diamnya seseorang atau bagaimana aku belajar untuk diam. Aku menjalani roller coaster perasaanku dalam diam. Belum lagi suara bising dari kepala yang semakin menjadi ketika aku diamkan. Semua memojokan diamku, seolah ia tersangkanya.

Apa diamku ini salah?

Kupikir dengan diamku semua akan bergerak ke bagian yang semestinya. Semua diamku akan mendukungku untuk menjadi yang seharusnya terjadi. Tapi nyatanya? Semua malah menyerang balik diamku dan aku semakin tersudut.

Mereka mengira diamku tanda kalah, padahal diamku adalah cara bertahan. Mereka membaca diamku sebagai tunduk, padahal aku hanya sedang menahan diri agar tidak meledak. Di balik diamku ada amarah, ada luka, ada kata-kata yang terlalu tajam jika aku lepaskan.

Aku tahu, tak semua bisa memahami bahasa diam. Sebagian butuh penjelasan, sebagian butuh klarifikasi, sebagian butuh pembelaan. Tapi aku sedang tak punya tenaga untuk menjelaskan semua itu. Diam menjadi satu-satunya pilihan, meski harus aku tanggung segala salah tafsir yang mengikutinya.

Mungkin diam ini bukan tentang benar atau salah. Mungkin ia hanyalah jeda, ruang kosong yang kutinggalkan agar aku bisa bernapas sejenak. Dan kalaupun dunia menuding diamku, biarlah. Aku masih belajar berdamai dengan sunyi yang kuciptakan sendiri.

 
;