Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2024

alasanku membenci wewangian.

Aku benci orang yang memakai parfum. Mereka begitu egois memaksakan indra orang lain mengikuti seleranya. Mereka sama sekali tak peduli perasaan orang lain seakan mereka melarang orang disekitarnya untuk bernapas dengan lega. Beberapa bisa dicerna dengan baik ketika bercampur dengan wangi tubuh mereka namun ada beberapa yang malah saling tumpang tindih tambah tak karuan ketika tercampur. Selain itu, entah mengapa memori penciumanku jauh lebih baik daripada ingatan kepalaku. Aku mendadak panik ketika sekelebat aroma mirip milikmu lewat. Semua tentangmu langsung menyerang ingatan. Semua berjubel tak mau kalah memaksaku untuk mengenangmu. Lalu, tidak salah kan kalau aku membenci wewangian? Karena semua yang dihadirkan bersamanya tak selalu yang indah.

seharusnya kamu bahagia kalau aku tidak mengganggumu (lagi)

Dering telepon berbunyi. Jam segini rasanya jarang urusan pribadi menghampiriku. Paling orang-orang yang berkaitan dengan pekerjaan yang mencari. Aku mengjangkau ponselku yang tak terlalu jauh kugeletakan. Tercantum namamu di layar ponsel. Semua masih sama. Aku tak merubah apapun sejak tak lagi ada apa-apa diantara kita. Kuhembusan napas panjang, mencoba menurunkan heart rate yang mendadak naik.  "Kukira semua sudah berlalu, ada apalagi kamu menghubungiku? Tak usah di angkat," ujar kepalaku. Tapi ternyata rasa ingin tahuku lebih menggebu.  "Apa?" Tanyaku tanpa basa-basi walau nada bicaraku tak menghentak seperti biasanya. "Aman, kan?" ucapnya dengan nada datar dan tenang seperti dia biasanya. Kepalaku mendadak kosong, lidahku kelu. "Aman," jawabku sekenanya. Dari hembusan napasnya yang berat, sepertinya jawabanku tak sesuai ekspektasinya. Aku yang biasanya tak seperti itu. Aku sering mengulur jawabanku agar bisa berlama-lama mengobrol dengannya ...

untuk diamku yang selalu salah.

Di separuh tahun ini, aku banyak belajar tentang diam. Entah bagaimana aku menyikapi diamnya seseorang atau bagaimana aku belajar untuk diam. Aku menjalani roller coaster perasaanku dalam diam. Belum lagi suara bising dari kepala yang semakin menjadi ketika aku diamkan. Semua memojokan diamku, seolah ia tersangkanya. Apa diamku ini salah? Kupikir dengan diamku semua akan bergerak ke bagian yang semestinya. Semua diamku akan mendukungku untuk menjadi yang seharusnya terjadi. Tapi nyatanya? Semua malah menyerang balik diamku dan aku semakin tersudut. Mereka mengira diamku tanda kalah, padahal diamku adalah cara bertahan. Mereka membaca diamku sebagai tunduk, padahal aku hanya sedang menahan diri agar tidak meledak. Di balik diamku ada amarah, ada luka, ada kata-kata yang terlalu tajam jika aku lepaskan. Aku tahu, tak semua bisa memahami bahasa diam. Sebagian butuh penjelasan, sebagian butuh klarifikasi, sebagian butuh pembelaan. Tapi aku sedang tak punya tenaga untuk menjelaskan semua i...