Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2019

Oliv.

"Pertemanan itu bukan kayak rumus fisika atau matematika yang satu tambah satu sama dengan dua dan semua orang bakal agree hasilnya. Lo ngertiin gue dong. Kaku banget kayak kanebo kering lo!" seru Oliv, tepat di telinga kananku. Aku pun hanya diam merunduk tak berdaya. Entah mengapa, lidahku kelu bila bersamanya. Menurutku, apapun yang ia pinta serasa titah seorang ratu yang selalu aku laksanakan. Namun, selalu ada ragu dalam diri saat hendak mengungkapkan rasa yang telah lama mengendap di hati. Bagaimanapun, aku tak ingin kehilangan sahabat terbaik yang sudah dihadiahkan semesta. Olivia. Dia orang yang mengetahuiku sampai akar termurni dan tanpa diduga, dan harus kuakui kalau aku jatuh cinta padanya. Dia adalah saksi hidup kenakalanku yang kadang terasa tak masuk akal jika ditilik lagi hari ini sejarahnya. Dialah yang paling tahu keisenganku, bau khas seragamku yang terpanggang matahari karena belum kenal parfum yang wangi. "Liv, gue suka sama lo," ucapku dengan...

Secarik Kertas di Akhir Bulan

Bagaimana kepala bisa pergi tanpa anggota tubuh yang lain. Aku kepala, kamu tubuhnya, dan anak-anak, sepasang kaki dan tangan yang selalu menopangku. Kita harus saling membantu dan bekerja sama. —Bapak. "Kalau gitu, aku sendiri yang pergi. Kamu di rumah jaga anak - anak. Biar mereka dapat pendidikan yang baik di Jawa. Aku jauh cuma badannya, pikiran sama jiwa masih ada di sini, sama kamu, sama anak - anak." Bapak berpamitan kepada Ibuk dan kami berempat untuk yang terakhir kalinya di Pelabuhan Tanjung Mas Semarang. Menjelang kepergiannya, Mbak Eka selalu menangis, selalu minta tidur dengan bapak. Berbeda dengan aku, Arya, dan Nabil, sikap kami biasa saja saat itu. Seolah tak mengerti atau mungkin ada rasa tidak peduli dengan Bapak. Semarang, akhir tahun 2001. Ini menjadi awal dimana Ibuk dipaksa mengasuh kami sendirian. Seperti petir di siang bolong, Bapak mendapat Surat Keputusan kalau ia harus pindah ke Pontianak beberapa bulan lagi. Waktu itu aku mas...

Ingatan Masa Lampau

Aku mengeluarkan kardus coklat besar yang berdebu dari dalam gudang. Kukeluarkan satu persatu album dan frame foto yang dulu pernah menghiasi rumah lamaku. Aku mengusapnya dengan kain lap yang sudah siapkan sebelumnya. Lembar demi lembar aku buka dan kubersihkan dari lekatnya debu yang menempel. Aku berhenti pada sebuah foto. Kupandangi lekat - lekat gambaran yang ada dalam foto. Tanpa sadar, air mataku menetes. Teringat kembali rentetat cerita dibalik foto lama yang aku pandangi. Foto seorang wanita yang sangat aku sayangi. Wanita tangguh yang selalu pasang badan membelaku dan rela memberikan seluruh kehidupannya untuk diriku. Ingatanku kembali ke masa kecilku dulu. Masa kecil yang bisa dibilang bahagia, untukku yang dulu belum tahu apa - apa. Aku masih ingat betul masa kecilku dulu. Ketika Ibuk mengasuh kami, keempat anaknya sendirian. Tak pernah aku merasa kekurangan kasih sayang dari dia. Aku merasa dia seperti Ibuk, Bapak, dan sahabatku. Aku tenggelam dalam pikiran, ...

Hari Esok Lebih Baik

Pergumulan, kepahitan, kecewa, putus asa, dan kesedihan merongrong kalbu ini. Entah mengapa, pikiran-pikiran itu sekelebat datang tanpa pertanda, merangsek hingga tembus ke dada yang berjubel dengan rasa sesal dan membaur menjadi satu dengan kebencian. Tubuhku terbaring di atas ranjang kamar, namun jiwaku berpetualang entah kemana. Ia pergi membawa serta kegelapannya, berkelana mencari kenyamanan.  Tanpa ekspresi aku menatap langit-langit kamar. Sesekali aku mengedipkan mata, membasahi permukaan kornea yang kering karena cahaya lampu. Hening. Tak ada satupun suara yang terdengar. Perlahan cairan transparan meleleh beranak sungai. Bibirku terkatup tak sanggup berbincang. Suara-suara berisik di kepala mulai berteriak dan berkecamuk. Mereka menyatakan kehendaknya bersamaan. Tak sanggup lagi aku melerai mereka. Tak terasa sudah berhari-hari aku melakukan ritual itu. Ritual yang membuatku lebih damai walau tanpa beraktivitas apapun. Lapar, dahaga, kantuk, silih berganti mendat...

Belakang Kantin

Gambar
Disanalah tempat persembunyian rindu yang lama terpasung. Duduklah sejenak, menemaniku menghabiskan sepotong rindu sisa semalam. Semilir angin, menyejukan tubuhku yang sedang duduk sendiri. Aku bersandar di batang pohon johar yang tengah meranggas, menatap nanar tulisan putih yang menghiasi dinding belakang kantin. Seringkali, ku berusaha setengah mati untuk tidak memikirkan dirimu. Naas, semua upaya itu gagal. Kebanyakan aku membiarkan pikiranku untuk melupakan dirimu. Sedetik kemudian, aku menemukan sesuatu. Tulisan itu. Tiga kata bodoh, yang aku persembahkan untukmu kala itu. "Kamu mau janji untuk tidak meninggalkan aku?" ucapku sembari berbaring di kedua kakimu, di bawah pohon yang sama. Kamu tersenyum sangat manis kala itu. Membelai kepalaku dan berkata, "Kamu yang jangan pergi. Aku nggak mau senasib sama pohon ini, kesepian. Kamu yang harusnya berjanji." Terdengar aneh, ketika seseorang yang sangat aku kenal berubah menjadi orang asing...