Oliv.
"Pertemanan itu bukan kayak rumus fisika atau matematika yang satu tambah satu sama dengan dua dan semua orang bakal agree hasilnya. Lo ngertiin gue dong. Kaku banget kayak kanebo kering lo!" seru Oliv, tepat di telinga kananku. Aku pun hanya diam merunduk tak berdaya. Entah mengapa, lidahku kelu bila bersamanya. Menurutku, apapun yang ia pinta serasa titah seorang ratu yang selalu aku laksanakan. Namun, selalu ada ragu dalam diri saat hendak mengungkapkan rasa yang telah lama mengendap di hati. Bagaimanapun, aku tak ingin kehilangan sahabat terbaik yang sudah dihadiahkan semesta. Olivia. Dia orang yang mengetahuiku sampai akar termurni dan tanpa diduga, dan harus kuakui kalau aku jatuh cinta padanya. Dia adalah saksi hidup kenakalanku yang kadang terasa tak masuk akal jika ditilik lagi hari ini sejarahnya. Dialah yang paling tahu keisenganku, bau khas seragamku yang terpanggang matahari karena belum kenal parfum yang wangi. "Liv, gue suka sama lo," ucapku dengan...