Postingan

di tengah perayaan kegagalan.

Perihal masa depan siapa yang tahu. Selamat untuk engkau yang sedang dirayakan! Habiskan waktumu untuk berpesta, sebelum aku kembali  yang tertawa. Bahagiamu mengemis dariku. Ingatlah kalau aku tak akan lagi sembunyi darimu.  Selama ini aku menanti hari ini. H ari-hari terbebas dari rasa sakit, kecewa dan sedih. Hari dimana aku merasakan kebahagian yang abadi. Perjalananku baruku dimulai. Empat kali gagal dalam perang yang sama tak membuatku kapok. Aku seolah bangkit kembali dengan segala fitur yang paling baru dan canggih. Aku akan baik-baik saja.  Taktik yang aku pakai memang tak tangguh seperti milikmu tapi itu hasil usaha dan keringatku sendiri. Aku memperjuangkan semua bersama diriku saja. Orang hebat yang ada disekelilingku, aku tugasi untuk bertepuk tangan, meneriakan namaku, dan memelukku kalau aku menang apalagi kalah lagi seperti yang terjadi hari ini. Apa yang terjadi bukan salahku, kamu, semesta, apalagi Tuhan. Bisa jadi kemenangan di medan perang yang ini mem...

jangan ada dongeng pengerat lagi!

Tak tahu harus tertawa atau menangis. Tertawa karena semua kebaikan yang sudah lama dilakukan seakan sia-sia dan itu semua hanya kebodohan yang pernah dilakukan atau kenangis pilu karena kebodohan yang kamu lakukan bertahun ternyata berimbas padaku. Bagaimana tidak, mimpi yang kukira bisa jadi kenyataan hancur karena kebodohanmu. Iya kebaikanmu selama ini adalah kebodohan. Bodoh karena kamu baik kepada mereka. Pengerat tak tahu malu dan tak tahu diri. Sampai beranak cucu, dia mengemis. Rumahnya berkilau emas sedang yang iba dengannya hanya beralas tanah. Cukup mimpiku saja yang kamu kalahkan dengan kebaikan untuk mereka. Biar mereka bahagia dengan harta pemberian sedang aku bahagia dengan tangis perjuangan. Sekarang pintaku sederhana. Duduk diamlah disana, kursi nyaman yang aku bangun dengan sisa kebaikanmu itu, nikmati hari tuamu dengan baik, sehatlah terus sampai aku bisa membalas sedikit kebaikanmu ini dengan segalanya yang kamu ingin. Cukup jangan dongengi aku lagi kisah pengerat y...

semesta yang enggan mengiba.

Gambar
Pergumulan, kepahitan, kecewa, putus asa, dan kesedihan merongrong kalbu ini. Entah mengapa, pikiran-pikiran itu sekelebat datang tanpa pertanda, merangsek hingga tembus ke dada yang berjubel dengan rasa sesal dan membaur menjadi satu dengan kebencian. Tubuhku terbaring di atas ranjang kamar, namun jiwaku berpetualang entah kemana. Ia pergi membawa serta kegelapannya, berkelana mencari kenyamanan.  Tanpa ekspresi aku menatap langit-langit kamar. Sesekali aku mengedipkan mata, membasahi permukaan kornea yang kering karena cahaya lampu. Hening. Tak ada satupun suara yang terdengar. Perlahan cairan transparan meleleh beranak sungai. Bibirku terkatup tak sanggup berbincang. Suara-suara berisik di kepala mulai berteriak dan berkecamuk. Mereka menyatakan kehendaknya bersamaan. Tak sanggup lagi aku melerai mereka. Tak terasa sudah berhari-hari aku melakukan ritual itu. Ritual yang membuatku lebih damai walau tanpa beraktivitas apapun. Lapar, dahaga, kantuk, silih berganti mendatangi namun...

berjalan bersama orang asing.

Perjalanan ke antah berantah ini memenuhi kepala. Antara senang, sedih, dan marah membaur menjadi satu. Bukan perjalanan seperti ini yang aku dambakan selama ini. Roadtrip bersama orang asing yang disatukan karena sampah. Kegiatan ini agak menyita tenaga dan waktu. Sejak masuk ke dunia kerja sambilan, mungkin ini saat-saat yang agak sibuk.  Pagi hari, tanpa banyak bicara hanya suara lekukan kertas yang menderu. Antrian mandi yang belom terurai mencegah turun dari ranjang. Berbagi kamar dengan tujuh orang asing ini cukup melelahkan. Kamar mandi yang hanya ada tiga dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing membuat daftar tunggu kamar mandi favorit membludak. Belom lagi durasi pemakaian yang beragam. Beberapa menyela antrian karena perut mengalami kontraksi.  Siang hari, silih berganti menunggu antrian pemeriksaan berlembar-lembar plano. Makan siang terasa tak berlaku. Puncak di depan mata, tinggal revisi yang menanti. Tugas hampir berakhir, semoga besok datang yang lebih ...

feeling blue like the atlantic.

Gambar
🌊🌊 Aku tahu terkadang kamu bingung dengan perasaanmu sendiri. Semua tercampur di kepala dan membuat sesak dada. Tak ada alasan untuk marah, tak ada sebab untuk sedih, tapi hati tak sedang gembira. Bukan cuma kamu yang seperti itu. Nyatanya tiap kali kamu scroll timeline twittermu, berjuta makhluk mencuit overthinking tiap malam. Tak hanya itu, mereka melabelinya dengan mental illness tanpa diagnosa ahlinya. Kamu nggak sendiri. Wajar sesekali kecewa, marah, menyesal, sedih, yang tak wajar ketika kamu membiarkan mereka menenggelamkanmu terlalu jauh. Kamu masih bisa ada yang disyukuri. Setidaknya kamu sudah tak menjadi beban orang tua. Wajar sesekali kecewa, marah, menyesal, sedih, yang tak wajar ketika kamu membiarkan mereka menenggelamkanmu terlalu jauh. Waktu tak bisa menyembuhkanmu kalau kamu terus menghalanginya bekerja. Lepaskan. Pelan tapi pasti, kamu akan sembuh dan belajar dari rasamu ini. Aku tahu ini sulit tapi yakini kamu bisa saja dan imani nanti akan terbiasa d...

The Coolest Way To Kill Someone

Gambar
 

berdua menuju senja

Mereka bukanlah pasangan romantis, tak pernah beradu tatap mesra atau mengumbar kata sayang. Bahasa cinta mereka tak kasat mata, namun benar adanya. Tuan dan Puan yang sadar jauh berbeda—yang semakin dicari persamaannya semakin tak ditemukan, namun mereka tetap mencoba menjahit celah itu agar terasa utuh. Jarak tak membuat mereka berjarak. Selisih keyakinan tak menggoyahkan tekad. Ombak telah mereka lalui, ujian datang silih berganti, waktu habis untuk meneguk cangkir masing-masing sambil menertawakan dunia. Hingga senja itu tiba, angkasa merah menjadi saksi. Tidak ada pesta, tidak ada kata manis. Hanya dua jiwa yang mengerti bahwa cinta tidak selalu soal menyatu, tapi tentang bertahan dalam perbedaan tanpa harus saling menyeret. Sebab pada akhirnya, cinta bukan milik siapa yang paling mirip, melainkan siapa yang paling berani tinggal—meski tahu suatu saat, senja akan tetap memisahkan.