dia yang semoga akan lama.
mungkin Tuhan kasih aku kebahagiaan dengan cara aku merelakan yang sudah pergi terlebih dahulu. rasanya sulit membuka hati dimana dari luar, hidup ini tampak berjalan sempurna. hari-hari terisi rapi oleh rutinitas yang dianggap wajar: bekerja, menghasilkan uang, sesekali pergi berlibur. semuanya seperti memenuhi standar orang hidup pada umumnya. tidak ada yang benar-benar salah, tidak ada yang perlu dikeluhkan. tapi di balik kerapian itu, ada ruang kosong yang terus menganga. emosi yang tidak meledak, hanya hampa dan datar. perlahan, hidup terasa seperti daftar kewajiban yang harus diselesaikan agar tetap terlihat “normal”. setiap pagi dijalani bukan karena ingin, tapi karena harus. bahkan hal-hal yang seharusnya menyenangkan kehilangan rasanya. bukan lelah fisik yang menggerogoti, melainkan perasaan menjalani hidup tanpa benar-benar hadir di dalamnya. di tengah semua itu, tidak ada seorang pun yang benar-benar mengenal diri ini. dan yang lebih sunyi, diri ini pun tak sepenuhnya mengen...