aku tak tahu apa yang ada di kepalamu. aku berusaha dengan keras mengisi kepalaku sendiri. kita hanya dua orang asing yang tak sengaja bertemu dan kamu tak mungkin bisa melangkah lebih dekat ke arahku. aku bukan siapa-siapa.
tapi apa? setiap aku berpikir tentangmu, notifikasimu muncul. dua kata biasa saja yang membuat perutku terisi kupu-kupu. sudah makan?
sebenarnya kamu menganggapku apa?
sekali dua kali kamu lakukan itu, aku masih kokoh dengan pikiranku. kita bukan siapa-siapa, tak mungkin orang sepertimu menyukaiku.
cerita tentangmu memang banyak ku dengar. seringkali dari mulutmu sendiri malah. aku yang sibuk menahan semuanya hanya bisa menimpali seadanya. aku tahu batasan diriku.
sekarang cerita tentangmu sudah selesai. apa aku ada kesempatan untuk bisa lebih? tapi apa bisa? aku tak pernah sebanding dengan masa lalumu tapi aku tak selamanya aku bisa menahan semuanya.
Hai, kamu!
Semalam aku membunuh seseorang. Aku lupa bagaimana wajahnya, seingatku dia seorang pria, dan aku mengenalnya. Sepertinya ku sangat membenci dia, terlihat dari cara bagaimana aku membunuhnya. Tak hanya sekali aku menikam dadanya, tanganku menggengam erat pisau itu dan dengan mantap menusuk dadanya berulang. Tangan dan wajahku yang berlumuran langsung aku cuci. Campuran darah dan air memenuhi kamar mandi yang berdinding serba putih. Pisau yang aku gunakan entah aku buang kemana, tahu-tahu sudah tak ada di tanganku.
Ada satu fragmen lain yang datang: seseorang dari masa lalu—kenal atau tak kenal—datang membawa koper hitam, menyingkap raut wajah yang tak ingin kucari, dan membersihkan dinding-dinding kamar dengan teliti. Dalam mimpi itu ia bekerja tanpa bicara, seperti profesi yang lahir dari kebiasaan membersihkan. Saat aku terjaga, aku bertanya pada diri sendiri apakah itu pertolongan atau justru tanda bahwa ada hal yang lebih gelap yang sudah kubiarkan hidup di bawah kesadaran.
Aku berdiri di depan kamar mandi, menatap ubin putih yang bersih—atau mungkin memang selalu bersih dan itu hanya bayangan. Aku mencoba mengulang detail demi detail, menuliskannya supaya tak terjadi penumpukan kabut di kepala: kapan terakhir aku nonton film yang membuat kepala berputar, adakah kata-kata yang kubiarkan menancap terlalu dalam, siapa yang kuanggap musuh padahal cuma bayang-bayang lama? Menulis membuat semuanya sedikit lebih nyata, dan sekaligus membuatnya semakin asing.
Di luar, kota berisik seperti biasa. Telepon berkedip dengan pesan yang menunggu jawaban. Di dalam, ada pecahan cerita yang belum kususun rapi—bagian yang berdarah, bagian yang dibersihkan, bagian yang mungkin cuma mimpi. Aku menatap cangkir kopi di meja dan berpikir: kalau ini hanya mimpi, kenapa perasaan bersalahnya sebesar ini? Kalau bukan mimpi, kenapa wajah itu tidak pernah benar-benar muncul?
Aku menulis sampai jempolku kram, menulis sampai kata mulai melemah. Aku tidak berani menutup bab ini dengan satu kalimat pasti. Jadi aku biarkan menggantung—seperti pintu yang setengah terbuka—karena kadang yang paling jujur bukanlah penjelasan, melainkan keraguan yang terus menempel.

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact