Jumat, 24 Maret 2023 0 comments

patah sebelum sempat tumbuh.

Ini menjadi kesalahanku yang kesekian kali dan aku yang bodoh tak punya niat untuk mengakhirnya segera. Berulang kali aku menolak rasa ini. Meneriakannya keras-keras kalau aku tidak sedang jatuh hati. Dia hanya seorang teman yang memang peduli dengan siapapun, bukan hanya aku. Kuulang terus kata “bukan hanya aku” ribuan kali di kepalaku.

Dia memang orang yang ramah, mudah dekat dengan siapapun. Orang yang selalu ada bila ada yang kesusahan bahkan mau menjadi tameng bila diperlukan. Memang, kehidupan tak selamanya terang. Ada beberapa ritual yang tak seharusnya dia lakukan malah menjadi rutinitas dan yang seharusnya dia lakukan malah dia abaikan.

Tapi, terlalu banyak tapi yang menganjal di hatiku. Dia orang yang selama ini aku cari. Pemikiran sederhananya dan setiap gerak-geriknya selalu menarikku untuk lebih bisa dekat dengannya. Seperti beberapa hari ini, suasana yang membuatku agak ngeri bisa dibuatnya lebih hangat hanya karena kehadirannya. Tak banyak bualan, ia lebih menunjukan sikap. Tak melulu menjadi dewasa, ia juga tak malu menunjukan sisi lainnya.

Berkali aku meyakinkan diri, berulang aku menyakiti hati.

Membenamkan wajahku ke dasar kolam tak membuat aku sadar kalau dia bukan milikku. Rasa kagum yang terus tumbuh ini jatuh ke orang yang salah. Kepalaku yang bebal sulit sekali untuk diberitahu. Telingaku sudah seperti orang tuli. Semakin rasa ini tumbuh, malah semakin besar rasa bersalah yang ikut terpupuk.

Hati ini sudah patah sebelum bisa tumbuh. Hati ini kembali jatuh ke hati yang salah. Dia sudah punya hati lain yang dijaga dan aku hanya salah satu orang yang berada di kerumunan.
Selasa, 14 Maret 2023 0 comments

aku meninggalkan perasaanku ketika berangkat ke kantor.

Tagihan menghajarku tak kenal ampun. Belum sempat aku menghindarinya, datang pekerjaan lain yang ikut menyiksaku. Hah. Semua itu belum cukup. Pundakku masih terasa ringan, hingga semesta menambahnya dengan nyanyian sumbang orang lapangan yang dipadukan apik dengan musik ala kadarnya dari vendor dan jangan lupa, semuanya dipimpin oleh pemimpin orkestra, bos divisi lain yang kerjaannya menganggu kehidupan orang. 

Bagaimana aku pulang sudah aku pikirkan sejak keluar gerbang rumah. Sepanjang perjalanan ke kantor, kuputar ulang kumpulan perjalanan pulang yang setidaknya melegakan dada. Ketika aku membuka mata, bukan chat dari mas pacar yang kutemui melainkan mandor yang meminta hak mereka dipenuhi. Semuanya terus terulang tanpa tahu ujung ceritanya.

Kujejalkan headset ke lubang telingaku untuk meredam gemuruh petir di kepala dan menangkal berisik dunia tipu-tipu. Namun paduan suara sumbang luput juga. Lidah beracun tetap melecut hati.

Tembok memulai aksinya. Skenario yang awalnya entah dari siapa menjadi sajian hangat untuk siapa saja. Sepiring nasi tanpa lauk berubah menjadi ketoprak kadang berubah wujud menjadi gado-gado. Semua di racik sempurna seperti hidangan di acara Master Chef. Koki yang meraciknya juga alumni Le Cordon Bleu jadi harusnya tak heran kalau apa saja yang ada akan disulap sesuka hati mereka.

Usai jam kerja berakhir, langkahku mulai ringan. Perjalanan menuju mess menjadi hiburan yang melegakan hati. "Akhirnya, hari ini selesai juga." Bayang sepedaan dengan santai sudah ada di angan dan semua benar hanya ada di angan. Belom sampai pantat ini duduk di kasur yang posesif, notifikasi kembali berdering. "Minta tolong ya." Setangkup tangan kuterima dengan tidak lapang dada. Aku kembali gagal mewujudkan work life balance. Belom selesai dengan urusan mengedit, invitation zoom meeting datang. Fix, work life balance semakin jauh.

Jumat, 03 Maret 2023 0 comments

hal sepele yang membuatku ingin bertemu esok.

Puji syukur kalau kamu masih bertemu aku hari ini. Aku sendiri tak tahu sampai seberapa jauh aku bisa bernapas. Belum tentu Tuhan yang akan mengambil nyawaku, bisa saja aku sendiri yang mencabut napasku sewaktu-waktu semisal aku lenggang namun kepalaku masih berisik atau orang asing di jalan yang iseng menancapkan pisau ke dadaku. Toh, ada tertulis kalau kematian adalah sebuah keuntungan.

Lelap yang kukira ampuh untuk meredam semua teriakan ternyata hanya menyisakan lelah yang teramat. Dorongan secangkir kopi hitam tak membuat mata mau terbuka di teriknya matahari. Namun di gelapnya malam, dongeng dari tembok lembab kamar tak pernah berhasil membuaiku untuk tidur.

Semalaman menelusuri kenangan masa lalu, mataku baru mau terpejam lewat sepertiga malam. Kadang rasa ingin tahu membawaku jauh menyelami pikiranku yang berliku. Hingga tak terasa aku sudah tenggelam di dalamnya. Sesaat kurasakan kelegaan usai air mata menenangkanku. Namun selesai badai itu reda, langkah yang berat membawaku kembali ke kehidupan nyata. Hanya ada harap hari ini lekas berakhir dan aku bisa melewati badai itu lagi.

Apa aku harus patah dulu sebelum menjadi kuat? Kalau itu yang harus aku lewati, apa aku boleh memilih menjadi biasa saja agar aku tak harus patah. Apa ada jaminan yang patah ini akan tumbuh kembali? Kalau tidak? Apa aku akan cacat? 

Semalaman aku sibuk merapikan isi kepala, mengingat kembali memori indah yang semoga menumbuhkan rasa inginku untuk menjumpai esok. Rasa penasaran akan album baru Hindia menggiringku untuk tetap menapak bumi. Belum lagi kelanjutan Taxi Driver dan The Glory yang di season satu sangat menggantung, akhir seperti apa yang akan disajikan. Sepatu baru yang kemarin sampai belum sempat aku ajak melihat dunia. Tas yang dari dulu aku damba belum juga berani aku beli. Aku rindu makan ramen babi di Menya. Hal-hal remeh temeh itu menguar begitu saja. 

Ternyata banyak yang aku inginkan. Banyak nikmat yang aku lewatkan. Banyak mimpi yang belum terwujud. Banyak tujuan yang belum sampai. Banyak wacana yang belum terealisasi. Aku masih harus bernapas. Aku masih ingin bertemu esok.
 
;