Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2023

patah sebelum sempat tumbuh.

Ini menjadi kesalahanku yang kesekian kali dan aku yang bodoh tak punya niat untuk mengakhirnya segera. Berulang kali aku menolak rasa ini. Meneriakannya keras-keras kalau aku tidak sedang jatuh hati. Dia hanya seorang teman yang memang peduli dengan siapapun, bukan hanya aku. Kuulang terus kata “bukan hanya aku” ribuan kali di kepalaku. Dia memang orang yang ramah, mudah dekat dengan siapapun. Orang yang selalu ada bila ada yang kesusahan bahkan mau menjadi tameng bila diperlukan. Memang, kehidupan tak selamanya terang. Ada beberapa ritual yang tak seharusnya dia lakukan malah menjadi rutinitas dan yang seharusnya dia lakukan malah dia abaikan. Tapi, terlalu banyak tapi yang menganjal di hatiku. Dia orang yang selama ini aku cari. Pemikiran sederhananya dan setiap gerak-geriknya selalu menarikku untuk lebih bisa dekat dengannya. Seperti beberapa hari ini, suasana yang membuatku agak ngeri bisa dibuatnya lebih hangat hanya karena kehadirannya. Tak banyak bualan, ia lebih menunjukan sik...

aku meninggalkan perasaanku ketika berangkat ke kantor.

Tagihan menghajarku tak kenal ampun. Belum sempat aku menghindarinya, datang pekerjaan lain yang ikut menyiksaku. Hah . Semua itu belum cukup. Pundakku masih terasa ringan, hingga semesta menambahnya dengan nyanyian sumbang orang lapangan yang dipadukan apik dengan musik ala kadarnya dari vendor dan jangan lupa, semuanya dipimpin oleh pemimpin orkestra, bos divisi lain yang kerjaannya menganggu kehidupan orang.  Bagaimana aku pulang sudah aku pikirkan sejak keluar gerbang rumah. Sepanjang perjalanan ke kantor, kuputar ulang kumpulan perjalanan pulang yang setidaknya melegakan dada. Ketika aku membuka mata, bukan chat dari mas pacar yang kutemui melainkan mandor yang meminta hak mereka dipenuhi. Semuanya terus terulang tanpa tahu ujung ceritanya. Kujejalkan headset ke lubang telingaku untuk meredam gemuruh petir di kepala dan menangkal berisik dunia tipu-tipu. Namun paduan suara sumbang luput juga. Lidah beracun tetap melecut hati. Tembok memulai aksinya. Skenario yang awalnya enta...

hal sepele yang membuatku ingin bertemu esok.

Puji syukur kalau kamu masih bertemu aku hari ini. Aku sendiri tak tahu sampai seberapa jauh aku bisa bernapas. Belum tentu Tuhan yang akan mengambil nyawaku, bisa saja aku sendiri yang mencabut napasku sewaktu-waktu semisal aku lenggang namun kepalaku masih berisik atau orang asing di jalan yang iseng menancapkan pisau ke dadaku. Toh, ada tertulis kalau kematian adalah sebuah keuntungan. Lelap yang kukira ampuh untuk meredam semua teriakan ternyata hanya menyisakan lelah yang teramat. Dorongan secangkir kopi hitam tak membuat mata mau terbuka di teriknya matahari. Namun di gelapnya malam, dongeng dari tembok lembab kamar tak pernah berhasil membuaiku untuk tidur. Semalaman menelusuri kenangan masa lalu, mataku baru mau terpejam lewat sepertiga malam. Kadang rasa ingin tahu membawaku jauh menyelami pikiranku yang berliku. Hingga tak terasa aku sudah tenggelam di dalamnya. Sesaat kurasakan kelegaan usai air mata menenangkanku. Namun selesai badai itu reda, langkah yang berat membawaku k...